Pernah membayangkan menginap di dalam tong raksasa yang tempat menyimpan wine? Kalau liburan ke Portugal, bisa kok mencobanya!
Ada satu penginapan unik di Portugal. Tepatnya di tengah perkebunan anggur di Kota Douro, sekitar 3,5 jam naik mobil dari Lisbon, ibu kota Portugal.
Penginapan ini unik karena terbuat dari tong kayu raksasa yang biasanya dipakai untuk menyimpan wine. Lokasinya pun sengaja ditaruh berjejer di tengah perkebunan anggur. Nama penginapan ini adalah Quinta de Pacheca.
Dihimpun detikcom dari beberapa sumber, Senin (24/6/2019), dari luar penginapan ini memang tampak seperti tong kayu biasa. Tapi begitu masuk ke dalamnya, traveler akan menemukan fasilitas layaknya kamar hotel berbintang.
Begitu masuk ke dalam tong kayu ini, traveler akan merasakan suasana kamar hotel betulan. Ada kamar mandi dan juga tempat tidur yang nyaman di dalamnya. Kamarnya juga sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan plus WiFi, agar traveler tidak mati gaya.
Di bagian belakang tong, ada jendela kaca berbentuk lingkaran yang langsung menghadap ke arah perkebunan anggur. Bayangkan saja di pagi hari saat membuka mata, traveler akan menyaksikan pemandangan kebun anggur sejauh mata memandang. Duh, indahnya!
Perkebunan anggur Quinta de Pacheca ini sudah ada sejak abad ke-16. Sampai sekarang, perkebunan anggur ini masih memproduksi wine dengan jenis anggur merah, anggur putih dan juga rose wine.
Ada 10 kamar berbentuk tong anggur di Quinta de Pacheca. Kamar-kamar ini didesain oleh Paulo Pereira dan Maria do Cey Goncalves, yang juga merupakan pemilik perkebunan anggur ini.
Buat traveler yang fobia ruangan sempit dan tertutup, di Quinta de Pacheca juga tersedia kamar hotel normal di bangunan utama perkebunan ini. Traveler bisa coba menginap di dalam tong anggur ini dengan harga 238 Euro (setara Rp 3,8 juta) per malam.
Kain Donggala Unjuk Gigi Dalam Festival Tenun Sulteng 2019
Warisan budaya Donggala yang masih eksis hingga kini adalah kain tenunnya. Tentunya, masih jadi minat masyarakat mengenai keunikan budaya ini.
Salah satu warisan tekstil yang ditinggalkan oleh nenek moyang Suku Kaili yang mendiami daratan Donggala, memancarkan warna kain pada Festival Tenun Sulteng 2019.
Sebagai upaya merangsang pertumbuhan Pariwisata di Sulawesi Tengah, generasi pesona indonesia (GENPI) Sulawesi Tengah menggelar Festival Tenun 2019, pada Jumat (28/6/2019) di Taman Gor Palu yang dibuka pada pukul 16.00 wita.
Genpi Sulteng memilih festival tenun karena melihat potensi dan kualitas kain tenun yang bisa bersaing dengan kain tenun didaerah lainya. Kain tenun khas Sulteng yang biasa hanya dipakai saat ritual adat dan pesta pernikahan.
Ketua Harian GENPI Sulteng Suzan Dorothea mengatakan bahwa tujuannya adalah memperkenalkan kembali tenun Sulawesi Tngah pasca bencana ,sebagai ajang promosi bahwa kain Donggala bisa disandingkan dengan tenun lain atau bisa dipakai oleh kaum milenial bukan hanya orang tua saja.
"Kegiatan ini diselenggarakan selama dua hari ini, yang dapat menarik wisatawan lokal maupun luar Sulteng. Sehingga, diharapkan dapat berkontribusi terhadap upaya pemerintah daerah dalam memulihkan Sulteng pasca bencana khususnya di sektor Ekonomi dan Pariwisata," katanya
Sementara itu, Misna (50) penenun asal Desa Labuan, Kabupaten Donggala mengatakan pihaknya menekuni pembuatan kain tenun donggala sejak kelas 2 SD, yang mana pihaknya bersama keluarganya merupakan pengrajin kain tenun Donggala.
"Kain ini tidak mendiskriminasi status sosial pemakainya. Tenun ini dapat dikenakan segala kelas sosial, diaplikasikan beragam gaya, baik oleh orang biasa maupun tokoh publik, orang dewasa maupun anak-anak di sektor ekonomi dan pariwisata," ucapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar