Jumat, 17 Januari 2020

Kain Donggala Unjuk Gigi Dalam Festival Tenun Sulteng 2019

Warisan budaya Donggala yang masih eksis hingga kini adalah kain tenunnya. Tentunya, masih jadi minat masyarakat mengenai keunikan budaya ini.

Salah satu warisan tekstil yang ditinggalkan oleh nenek moyang Suku Kaili yang mendiami daratan Donggala, memancarkan warna kain pada Festival Tenun Sulteng 2019.

Sebagai upaya merangsang pertumbuhan Pariwisata di Sulawesi Tengah, generasi pesona indonesia (GENPI) Sulawesi Tengah menggelar Festival Tenun 2019, pada Jumat (28/6/2019) di Taman Gor Palu yang dibuka pada pukul 16.00 wita.

Genpi Sulteng memilih festival tenun karena melihat potensi dan kualitas kain tenun yang bisa bersaing dengan kain tenun didaerah lainya. Kain tenun khas Sulteng yang biasa hanya dipakai saat ritual adat dan pesta pernikahan.

Ketua Harian GENPI Sulteng Suzan Dorothea mengatakan bahwa tujuannya adalah memperkenalkan kembali tenun Sulawesi Tngah pasca bencana ,sebagai ajang promosi bahwa kain Donggala bisa disandingkan dengan tenun lain atau bisa dipakai oleh kaum milenial bukan hanya orang tua saja.

"Kegiatan ini diselenggarakan selama dua hari ini, yang dapat menarik wisatawan lokal maupun luar Sulteng. Sehingga, diharapkan dapat berkontribusi terhadap upaya pemerintah daerah dalam memulihkan Sulteng pasca bencana khususnya di sektor Ekonomi dan Pariwisata," katanya

Sementara itu, Misna (50) penenun asal Desa Labuan, Kabupaten Donggala mengatakan pihaknya menekuni pembuatan kain tenun donggala sejak kelas 2 SD, yang mana pihaknya bersama keluarganya merupakan pengrajin kain tenun Donggala.

"Kain ini tidak mendiskriminasi status sosial pemakainya. Tenun ini dapat dikenakan segala kelas sosial, diaplikasikan beragam gaya, baik oleh orang biasa maupun tokoh publik, orang dewasa maupun anak-anak di sektor ekonomi dan pariwisata," ucapnya.

Belajar Hidup Tanpa Basa-basi dari Orang Finlandia

Mau hidup tanpa basa-basi? Belajarlah dari orang Finlandia. Bagi mereka, diam adalah emas.

Beda negara, beda pula budaya dan tradisi. Bahkan, bisa jadi culture shock bagi turis yang tidak terbiasa dan pengalaman menarik yang tak terlupa.

Mari kita mengenal orang Finlandia. Negara Nordik di bagian utara Eropa ini punya budaya yang mengakar: hidup tanpa basa-basi.

Dilansir dari BBC News, Minggu (30/6/2019) orang-orang Finlandia terbiasa hidup tanpa basa-basi. Artinya, jika tidak ada yang harus dibicarakan, mereka akan diam. Pun, mereka tidak suka ikut campur pada urusan orang lain. Kecuali dimintai pendapat, baru mereka bersuara.

Ketika orang-orang Finlandia saling berbicara, maka memang ada topik tertentu untuk dibicarakan. Bukan sekadar gosip, apalagi menggunjing orang lain.

Bahkan, ketika mengobrol dengan para barista di Finlandia. Perbincangannya, terbatas pada jenis kopi yang ingin dipesan.

Oleh sebab itu, orang Finlandia terkenal sangat pendiam. Seperti di dalam angkutan transportasi umum, jika ada orang yang berbicara keras-keras, artinya itu adalah orang asing.

Dr Anna Vatanen, seorang peneliti dari University of Oulu pernah meneliti tentang 'Lapses in interaction and the stereotype of the Silent Finn'. Diamnya orang Finlandia, adalah seuatu bentuk komunikasi.

"Orang Finlandia berkomunikasi melalui keheningan yang nyaman, terutama di antara mereka yang saling mengenal," katanya.

Umumnya, pertanyaan 'apa kabar?' sebagian besar digunakan hanya sebagai sapaan dan tidak ada jawaban serius. Tapi tidak, bagi orang Finlandia.

"'Apa kabar?' bagi orang Finlandia, adalah mereka mengharapkan mendapat jawaban yang nyata," terang Anna Vatanen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar