Jumat, 11 Desember 2020

Lebih Murah dari Rapid dan Swab, Tes Corona Ini Cuma Rp 15 Ribu

 Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan ada alat tes Corona yang harganya lebih murah daripada rapid dan swab test. Alat itu adalah GeNose, alat deteksi Corona dengan embusan napas.

Bambang memperkirakan satu kali tes Corona dengan alat tersebut hanya perlu biaya Rp 15 ribu. Rinciannya, biaya itu digunakan untuk operatornya, energinya, dan plastik khusus sebagai media pengecekan napas.


"Perkiraannya per pemeriksaannya itu, kalau dihitung sama operator, listrik, dan lalu plastiknya Rp 7-8 ribu rupiah, maka perkiraannya per satu tes itu sekitar Rp 15 ribu aja. Jadi ini murah dan akurat," jelas Bambang dalam sebuah webinar, Jumat (11/12/2020).


Bambang menjelaskan alatnya sendiri harganya sebesar Rp 60 juta dan bisa digunakan untuk 100 ribu kali pemeriksaan. Bila sudah melewati batas maksimal itu, alat bisa dibetulkan lagi dan bisa digunakan kembali.


"Perkiraan harganya, kalau satu unit alatnya memang sekitar Rp 60 juta, tapi bisa untuk 100 ribu pemeriksaan, kemudian bisa dibetulkan lagi dan bisa dipakai lagi," papar Bambang.


GeNose sendiri ditemukan oleh para peneliti Universitas Gajah Mada (UGM). Bambang menjelaskan alat ini pun cukup cepat untuk mendeteksi virus Corona, menurutnya waktu tes yang dibutuhkan cuma 3 menit. Bila dibandingkan rapid dan swab test pun, menurut Bambang akurasi GeNose sudah mencapai 90% lebih, hasil dari validasi di beberapa rumah sakit.


"Waktu pemeriksaan mereka ini pun cepat, saya coba sendiri itu hasilnya bisa di bawah 3 menit. Tingkat akurasinya dari validasi di beberapa rumah sakit itu di atas 90% akurasinya," ujar Bambang.

Sayangnya, alat ini hingga kini belum bisa diedarkan di masyarakat. Meski dia mengatakan alat ini siap diproduksi massal, masih ada beberapa laporan yang harus disiapkan untuk mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan.


"Pada dasarnya, alat ini sudah siap semua. Siap juga diproduksi masal dan dipakai. Cuma dari pembicaraan terakhir dengan para pengembang di UGM, mereka bilang masih ada satu final report yang harus di-submit ke Kemenkes untuk dapat izin edar," jelas Bambang.

https://movieon28.com/movies/resident-evil-vendetta/


3 Tahun Berturut-turut Adik Prabowo 'Betah' di Daftar Orang Terkaya RI


Adik dari Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, yakni Hashim Djojohadikusumo bertahan tiga tahun berturut-turut dalam daftar 50 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes. Ia menduduki posisi ke-35 pada tahun 2018, lalu posisi ke-40 pada tahun 2019 dan 2020.

Dilansir Forbes, Jumat (11/12/2020), harta kekayaan Hashim tercatat sebesar US$ 685 juta atau sekitar Rp 9,66 triliun (kurs Rp 14.112). Ia adalah pemilik dari perusahaan konglomerasi Arsari Group.


Hashim dan Prabowo adalah anak dari Soemitro Djojohadikoesoemo, Menteri Keuangan serta Menteri Perdagangan dan Perindustrian pada era pemerintahan Presiden Soekarno. Sang Ayah juga pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Menteri Negara Riset Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.


Berbeda dengan sang Kakak yang fokus di dunia militer dan politik, Hashim memang sejak awal sebagai pebisnis. Perusahaannya fokus pada bisnis kelapa sawit, pulp dan kertas, pertambangan, logistik, dan layanan kargo.


Baru-baru ini, nama Hashim kembali mencuat setelah mantan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ditangkap KPK sebagai tersangka kasus suap ekspor benih lobster.


Usai Edhy ditangkap, Hashim membeberkan perasaan Prabowo. Ia mengatakan, Prabowo merasa dikhianati oleh Edhy, dan menyinggung soal anak yang diangkat dari selokan.


"Pak Prabowo itu marah, kecewa, dan merasa dikhianati! Dia kecewa, kok dia dari anak yang diangkat dari 'selokan', 25 tahun lalu kok dia berlaku seperti ini," tutur Hashim di bilangan Jakarta Utara, Jumat (4/12/2020).


Hashim mengatakan Prabowo mengungkapkan kekecewaannya dengan bahasa Inggris.


"I lift him up from the gutter and this is what he does to me," kata Hashim.

https://movieon28.com/movies/followed/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar