Minggu, 13 Desember 2020

Jabar Tembus Seribu! Ini Sebaran 6.388 Kasus COVID-19 RI 12 Desember

 Pemerintah melaporkan penambahan kasus baru COVID-19 yang terkonfirmasi pada hari Sabtu (12/12/2020). Ada penambahan 6.388 kasus, sehingga total pasien terkonfirmasi saat ini sudah mencapai 611.631 kasus semenjak virus Corona mewabah di Indonesia.

Jawa Barat menjadi provinsi dengan penambahan kasus paling tinggi sebanyak 1.283 kasus, disusul Jawa Tengah sebanyak 992 kasus dan DKI Jakarta sebanyak 951 kasus baru per 12 Desember.


Dikutip dari laman covid19.go.id, hari ini ada sebanyak 4.490 kasus sembuh, sementara kasus kematian Corona tercatat 142 orang.


Detail perkembangan virus Corona di Indonesia pada Sabtu (12/12/2020), adalah sebagai berikut:


Kasus positif bertambah 6.388 menjadi 611.631


Pasien sembuh bertambah 4.490 menjadi 501.376


Pasien meninggal bertambah 142 menjadi 18.653


Sedangkan sebaran 6.388 kasus baru Corona di Indonesia pada Sabtu (12/12/2020) adalah sebagai berikut


Aceh: 29 kasus

Sumatera Utara: 87 kasus

Sumatera Barat: 85 kasus

Riau: 178 kasus

Jambi: 63 kasus

Sumatera Selatan: 76 kasus

Bengkulu: 90 kasus

Lampung: 66 kasus

Bangka Belitung: 39 kasus

Kepulauan Riau: 59 kasus

DKI Jakarta: 951 kasus

Jawa Barat: 1.283 kasus

Jawa Tengah: 992 kasus

DI Yogya: 227 kasus

Jawa Timur: 769 kasus

Banten: 204 kasus

Bali: 69 kasus

Nusa Tenggara Barat: 37 kasus

Nusa Tenggara Timur: 22 kasus

Kalimantan Barat: 28 kasus

Kalimantan Tengah: 116 kasus

Kalimantan Selatan: 91 kasus

Kalimantan Timur: 161 kasus

Kalimantan Utara: 85 kasus

Sulawesi Utara: 78 kasus

Sulawesi Tengah: 44 kasus

Sulawesi Selatan: 226 kasus

Selawesi Tenggara: 40 kasus

Gorontalo: 11 kasus

Sulawesi Barat: 10 kasus

Maluku: 71 kasus

Maluku Utara: 12 kasus

Papua: 52 kasus

Papua Barat: 37 kasus.

https://tendabiru21.net/movies/ong-bak-2/


Catat! 2 Gejala Baru Virus Corona yang Diidentifikasi Ahli


Pandemi virus Corona sampai hari ini masih melanda dunia. Sejumlah gejala telah diidentifikasi sebagai gejala umum dari COVID-19. Mengutip dari laman World Health Organization(WHO), gejala umum dari COVID-19, meliputi demam, batuk kering dan kelelahan.

Sedangkan gejala tidak umum dapat berupa nyeri otot, sakit tenggorokan, diare, konjungtivitis atau peradangan pada mata, sakit kepala, kehilangan fungsi indra penciuman dan perasa dan ruam kulit atau perubahan warna pada jari tangan dan kaki.


Seseorang dapat dinyatakan kritis jika telah memiliki gejala berat atau serius. Contohnya sesak napas, nyeri dada dan kehilangan kemampuan berbicara atau bergerak.


Tak berhenti di situ, peneliti terus melakukan penelitian untuk mengindentifikasi virus ini. Dalam temuan terbaru, peneliti menemukan bahwa ada gejala yang tak biasa dialami pasien COVID-19. Berikut ini gejala tak biasa yang ditemukan pada pasien COVID-19.


1. Delirium

Dikutip dari EurekAlert, penelitian yang dilakukan pada bulan November lalu, menemukan delirium menjadi salah satu gejala awal COVID-19, yang kerap dialami oleh kelompok lansia. Kondisi ini merupakan gejala mental yang membuat penderitanya mengalami kebingungan berat dengan kesadaran yang berkurang.


Javier Correa, peneliti dari University of Catalonia, menjelaskan bahwa delirium adalah kebingungan yang dialami seseorang. Tak hanya itu, kondisi ini membuat seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi.


"Kita perlu waspada... Karena seseorang yang menunjukkan tanda-tanda kebingungan mungkin merupakan indikasi adanya infeksi," jelasnya Correa.


Peneliti berspekulasi bahwa virus Corona ikut mempengaruhi sistem saraf pusat dan mengakibatkan perubahan neurokognitif seperti sakit kepala dan delirium. Hal ini dapat disebabkan kurangnya pasokan oksigen pada otak dan peradangan jaringan otak akibat badai sitokin yang dipicu oleh virus.


2. Sakit mata

Dikutip dari Science Daily, peneliti dari Anglia Ruskin University (ARU), Inggris, menemukan bahwa sakit mata menjadi salah satu gejala baru Corona.


Sekitar 18 persen pasien COVID-19 yang dilibatkan dalam penelitian ini melaporkan bahwa mereka menderita fotofobia (sensitivitas cahaya) yang dirasakan setelah menderita COVID-19.


Profesor Shahina Pardhan, Direktur Vision and Eye Research Institute di ARU, menjelaskan bahwa penelitian ini melibatkan 83 responden. Hasilnya, 81 persen melaporkan masalah mata dalam dua minggu setelah gejala Corona lainnya. Dari jumlah tersebut, 80 persen melaporkan masalah mata mereka berlangsung kurang dari dua minggu.

https://tendabiru21.net/movies/follow/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar