Senin, 14 Desember 2020

Ini Untung Ruginya Bila RI Berkongsi dengan Israel

 Israel dan Indonesia dikabarkan akan melakukan normalisasi hubungan. Jika benar maka RI dan Israel akan menjalin hubungan diplomatik.

Lalu jika itu benar terjadi apa untungnya buat ekonomi Indonesia?


Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, Indonesia bisa memanfaatkan Israel sebagai pasar non-tradisional.


"Tentu, ini selera karena perekonomian Israel yang potensial mengingat negara ini mempunyai pendapatan per kapita hingga US$ 42 ribu. Artinya dengan kelas konsumsi ini permintaan terhadap produk barang dan jasa bisa dalam bentuk apapun mulai dari produk mentah hingga produk jadi," terangnya kepada detikcom, Senin (14/12/2020).


Di samping itu, lanjut Rendy, Israel memiliki perkembangan teknologi yang merupakan salah satu terbaik di dunia. Hal itu bisa dimanfaatkan dengan menggandeng Israel untuk investasi di bidang teknologi.


Sementara Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad mencatat, produk-produk impor terbesar di Israel adalah berlian. Israel memang dikenal sebagai negara terbesar untuk pemrosesan dan perdagangan berlian dunia.


Lalu impor terbesar lainnya adalah minyak mentah dan kendaraan bermotor. Menurut Tauhid jika dilihat dari portofolio impornya, Indonesia tidak bisa mengambil keuntungan.


"Sepertinya kita belum punya peluang, karena dia butuhnya diamond, minyak mentah, kendaraan bermotor seperti mobil termasuk pesawat. Jadi kebutuhan impornya seperti itu, saya belum tahu produk pertanian dan lainnya," terangnya.


Tauhid melanjutkan, jika dilihat dari negara tujuan ekspor Indonesia, kawasan timur tengah memang merupakan pasar non tradisional Indonesia. RI relatif kecil melakukan ekspor ke kawasan itu.


Untuk minusnya, Yusuf memandang Indonesia dan Israel belum mempunyai hubungan diplomatik resmi. Sehingga akan relatif sulit untuk merealisasikan kerjasama ekonomi jika belum mempunyai hubungan diplomatik resmi.


"Selain itu tentu akan ada sentimen negatif dari negara-negara yang berseteru dengan Israel khususnya negara timur tengah seperti misalnya Arab Saudi atau bahkan negara tetangga seperti Malaysia yang tidak mengakui Israel sebagai negara. Jadi tentu ini akan sedikit banyak mempengaruhi penyesuaian perjanjian perdagangan/bilateral antara Indonesia dengan negara-negara yang disebutkan di atas," ucapnya.


Senada dengan Yusuf, Tauhid juga menilai minusnya lebih cenderung ke ranah politik. Selain itu dia juga menilai akan ada gejolak di dalam negeri khususnya masyarakat Indonesia yang lebih memiliki hubungan batin dengan Palestina.


"Saya kira akan ada penolakan, karena masalah sejarah ya dan sikap Indonesia yang kita membela kemerdekaan Palestina. Jadi kalau Palestina belum merdeka saya kira agak berat," tuturnya.

https://nonton08.com/movies/mangkujiwo/


Kapan Ekonomi RI Pulih 100% dari Pandemi?


Pemerintah melakukan vaksinasi mulai awal 2021. Hal itu diharapkan segera memulihkan perekonomian dari gejolak pandemi COVID-19. Namun, penyaluran kredit diprediksi belum akan tancap gas meskipun vaksin mulai disuntikkan.

Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro menjelaskan sisi permintaan diperkirakan belum akan pulih tahun depan. Penyebabnya karena vaksin kemungkinan belum bisa terdistribusi secara penuh. Kondisi itu akan ikut menghambat pertumbuhan industri keuangan.


"Kami memproyeksikan pertumbuhan kredit masih maksimal 5 persen. Jadi masih di bawah 5 persen tahun 2021," kata dia melalui keterbatasan tertulis, Senin (14/12/2020).


Dia memperkirakan ekonomi masih akan bergerak sekitar 60-70% dari total kapasitasnya. Menurutnya ekonomi akan pulih seperti kondisi sebelum pandemi yaitu pada 2022, tetapi kecepatannya akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan regulator dan masyarakat dalam memaksimalkan momentum pertumbuhan.


Dampak dari belum pulihnya sektor riil ini kemungkinan membuat pertumbuhan kredit masih seperti yang diproyeksikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yaitu sekitar 1-4% pada 2021.


Dia lanjut menjelaskan pemulihan sektor riil akan mempengaruhi sektor keuangan karena sektor keuangan mendukung sektor riil, terutama dari sisi finansial dan pembiayaan. Artinya, kalau sektor riil belum pulih, pertumbuhan kredit masih tetap rendah.


Namun di sisi lain, dia mengatakan ada beberapa sektor yang sebenarnya pemulihannya relatif cepat, misalnya sektor informasi komunikasi dan teknologi. Mereka justru diuntungkan di masa pandemi.

https://nonton08.com/movies/may-the-devil-take-you-too/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar