Senin, 14 Desember 2020

China Denda Alibaba Hingga Tencent Masing-masing Rp 1 M

 Pemerintah China resmi memberikan denda kepada Alibaba Group, Tencent Holdings, China Literature, dan Shenzhen Hive Box terkait dengan kebijakan antitrust baru di negeri Tirai Bambu.

Mengutip Reuters, Senin (14/12/2020), regulator pasar China mendenda Alibaba, Tencent Holdings, dan Shenzhen Hive Box masing-masing 500.000 yuan atau US$ 76.464 atau setara Rp 1,07 miliar (kurs Rp 14.100).


Alibaba cs ini didenda karena tidak melaporkan kesepakatan dengan benar dalam menerapkan serta penjelasan kebijakan antitrust yang baru di China.


Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Administrasi Negara dan Peraturan Pasar telah mengambil keputusan setelah meninjau kesepakatan yang melibatkan ketiga perusahaan tersebut.


Termasuk kesepakatan sebelumnya yang terjadi antara Alibaba dengan Intime Retail (Group) Co Ltd dan proses akuisisi China Literature atas New Classics Media.

https://nonton08.com/movies/letter-from-death/


Pria Muda Ini Jadi Miliarder Baru Gara-gara Usaha 'Ngutang'


Pria berusia 30 tahun asal Australia berhasil menjadi miliarder meski di tengah krisis pandemi COVID-19. Nick Molnar mendapatkan pundi-pundi uang dari bisnisnya bernama Afterpay atau sejenis platform paylater yang memiliki jargon beli sekarang, bayar nanti.

Statusnya yang kini sebagai miliarder muda ditopang lewat keuntungan pada bisnisnya. Tahun ini, perusahaan teknologi berusia enam tahun itu menjadi salah satu saham terpanas di Australia, usai melonjak 1.300% ke level tertinggi pada November lalu dan menggandakan pengguna aktif menjadi 11,2 juta.


Molnar sendiri menjabat sebagai co-founder dan co-CEO Afterpay. Platform yang dia pimpin adalah sebuah platform pembayaran paylater yang memungkinkan pengguna mengatur biaya pembelian mereka melebihi cicilan reguler dan tanpa bunga. Dalam membangun bisnis Molnar dibantu rekannya, Anthony Eisen.


Dikutip dari CNBC, Selasa (8/12/2020) melonjaknya saham Afterpay menambahkan kepemilikan saham Molnar dan Eisen yang tadinya 20 juta saham masing-masing kini keduanya memiliki sekitar A$ 1,35 miliar saham.


Raksasa teknologi China Tencent dikabarkan telah membeli saham perusahaan lebih dari US$ 200 juta untuk 5% saham Afterpay pada bulan Mei. Morgan Stanley memprediksi Afterpay bisa mencapai sekitar A$ 88 per saham pada akhir tahun ini.


Inspirasi bisnis Afterpay muncul saat Molnar duduk masih menjadi mahasiswa perdagangan di University of Sydney. Dia memperhatikan kebiasaan belanja kaum muda berubah. Menurutnya, anak muda semakin tidak berminat dengan kartu kredit, yang dapat berujung pada membengkaknya utang.


Maka Molnar membuat Afterpay yang memungkinkan pembeli membeli barang hingga A$ 1.500 dan dilunasi hingga empat kali cicilan yang sama. Sementara pengecer yang berpartisipasi hanya membayar komisi kecil sekitar 4%-6% pada setiap penjualan.


Jika pengguna melewatkan pembayaran, mereka diblokir dari layanan sampai biaya penuh pembelian mereka lunas.


Setelah Afterpay diluncurkan pada akhir 2014, bisnis ini mengalami pertumbuhan yang cepat. Konsumen yang tidak memiliki uang tunai menyukai model cicilan yang sama, sementara pengecer yang ingin meningkatkan penjualan, dengan senang hati membayar sedikit biaya untuk masuk ke platform.

Dalam dua tahun, Afterpay berhasil mengumpulkan hampir A$ 25 juta di Bursa Efek Australia dalam penawaran umum perdana yang kelebihan permintaan.


Namun, pertumbuhan pesat Afterpay belum sepenuhnya diterima dengan baik. Kritikus berpendapat bahwa perusahaan mendorong belanja konsumen yang berlebihan dan tidak berkelanjutan.


"Di satu sisi, kami dapat memposisikannya sebagai bagaimana platform Afterpay memungkinkan konsumen untuk lebih sadar dan berhati-hati tentang pengeluaran mereka. Tapi kemungkinan orang juga bisa berbelanja lebih banyak dari kemampuan keuangannya, " kata Hianyang Chan, konsultan senior di Euromonitor, Sydney.

https://nonton08.com/movies/wedding-partner/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar