Kamis, 26 November 2020

Nah Lho! Pakar Ini Sebut COVID-19 Asalnya Bukan dari China

 Salah satu ahli epidemiologi China, Zheng Guang, mengatakan bahwa virus Corona yang menjadi pandemi saat ini bukan berasal dari Wuhan, China. Ia mengatakan, virus itu hanya teridentifikasi pertama kali di kota tersebut.

"Wuhan adalah tempat virus Corona pertama kali terdeteksi, tetapi bukan menjadi tempat asalnya (virus Corona)," kata Zeng yang merupakan mantan epidemolog Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (DCD) China pada konferensi akademik, yang dikutip dari South China Morning Post, Senin (23/11/2020).


Dalam konferensi tersebut, Zeng mengutip sebuah penelitian di Italia yang menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 itu menyebar di Italia melalui individu tak bergejala, beberapa bulan sebelum dilaporkan di Wuhan padan Desember 2019 lalu.


Dalam studi tersebut juga menemukan bahwa antibodi virus Corona terdeteksi dalam sampel darah yang dikumpulkan dalam uji coba skrining kanker paru antara September 2019 dan Maret 2020. Menurut penelitian peer-review, 11,6 persen dari 959 relawan sehat sudah mengembangkan antibodi virus Corona sebelum bulan Februari.


Seperti Zeng, ahli epidemiologi CDC China saat ini yaitu Wu Zunyou juga mengatakan bahwa virus Corona itu bisa masuk ke negara tersebut melalui impor makanan laut beku atau produk daging.


"Penemuan ini hanya mendokumentasikan bahwa epidemi di China tidak terdeteksi tepat waktu," kata Giovanni Apolone, direktur ilmiah National Cancer Institute sekaligus salah satu penulis dari studi tersebut.


Ditemukan di China berkat sistem pemantauan pneumonia

Masih di konferensi yang sama, Zeng menjelaskan virus Corona pertama kali terdeteksi di Wuhan lewat pembentukan sistem pemantauan pneumonia yang didirikan setelah wabah sindrom pernapasan akut yang parah atau SARS 17 tahun lalu.


"China membangun sistem pemantauan terdepan di dunia untuk melaporkan pneumonia yang tidak diketahui sejak wabah SARS pada 2003. Berkat sistem ini, kami bisa menjadi yang pertama di dunia yang mengidentifikasi COVID-19," jelasnya.


Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, mengatakan bahwa China akan terus ambil bagian dalam penelitian ilmiah untuk melacak asal dan rute penularan virus tersebut.


"China akan terus mengambil bagian dalam penelitian ilmiah global dalam melacak asal dan rute penularan virus, dan bekerja dengan komunitas internasional lainnya untuk berkontribusi pada kerja sama global dalam memerangi COVID-19 dan virus lainnya," ujar Zhao.

https://indomovie28.net/movies/crazy/


5 Sikap Pria yang Dibenci Wanita saat Berhubungan Seks


Ketika berbicara tentang seks, setiap orang memiliki selera. Ada yang lebih suka pemanasan (foreplay) yang lebih panjang, ada pula yang lebih suka langsung melakukan penetrasi. Berbagai cara dilakukan pria agar wanita senang selama di ranjang. Namun ada beberapa hal yang bisa membuat wanita tidak suka saat berhubungan seksual.

Sebuah perusahaan mainan seks yang populer di Inggris membuat survey Sexual Happiness Study tahun 2019 untuk mengetahui seperti apa kebahagiaan seksual berdasarkan jenis kelamin, usia, dan seksualitas yang berbeda. Para peneliti meminta 3.000 orang di Inggris, Amerika Serikat dan Australia untuk memberi tahu tentang betapa pentingnya kehidupan seksual yang bahagia untuk kebahagiaan hidup.


Berdasarkan penelitian, hal-hal yang tidak disukai wanita saat berhubungan seks termasuk pemanasan (foreplay) yang singkat, tidak orgasme dan merasa terganggu. Oleh karena itu penting bagi pria untuk mengetahui hal yang disukai wanita agar seks menyenangkan bagi kedua pihak.


Dikutip dari Times of India, mari kita lihat beberapa hal yang dapat membuat seks menjadi hal yang sangat mengecewakan bagi wanita.


1. Foreplay terlalu singkat

Foreplay yang terlalu singkat dapat memberi rasa kecewa bagi wanita. Foreplay seperti hidangan pembuka yang disajikan sebelum hidangan utama. Sangat penting untuk memberi energi dan waktu yang lama dalam foreplay agar seks menjadi tindakan yang menyenangkan baginya.

https://indomovie28.net/movies/fast-furious/

Benarkah Obat Kumur Bisa Cegah Virus Corona? Ini Faktanya

 Beberapa waktu lalu trending di media sosial bahwa sebuah studi menunjukkan obat kumur dapat membunuh virus Corona dalam 30 detik. Namun faktanya, obat kumur saja tidak mungkin menjadi solusi untuk mencegah COVID-19.

Obat kumur dan sejumlah bahan lainnya memang terbukti membunuh virus corona. Misalnya, alkohol, klorheksidin, dan hidrogen peroksida dapat membunuh virus saat kontak atau beberapa saat setelahnya.


Akan tetapi, semua studi terkait senyawa-senyawa tersebut tidak menunjukkan bahwa bahan-bahan itu dapat mengurangi risiko seseorang tertular atau menularkan virus.


Walaupun sudah berkumur-kumur, masih terdapat risiko sebagai virus terus berkembang biak di saluran pernapasan bagian atas seperti hidung, sinus, tenggorokan, saluran bronkial, dan paru-paru.


"Virus masih ada di hidung Anda, di cairan di pita suara Anda, dan di saluran udara paru-paru Anda. Semua ini dan terutama pita suara dan saluran udara paru-paru adalah sumber utama virus di udara," kata ahli transmisi virus Donald Milton, dikutip dari laman CNN.


Selain itu, para ahli berpendapat bahwa obat kumur tidak bisa mensterilkan mulut. Mikroba dan juga virus yang sudah hilang atau berkurang karena obat kumur, dapat tumbuh kembali dalam waktu yang cukup singkat.


"Anda tidak bisa mensterilkan mulut Anda. Mulut tidak akan pernah bebas dari patogen. Menggunakan obat kumur ini tidak akan menghentikan proses penyakit secara substansial. Virus akan terus berkembang biak," kata ahli infeksi Graham Snyder.


Oleh karena itu, obat kumur tidak dapat mencegah seseorang dari tertular virus Corona. Cara terbaik untuk mencegah COVID-19 adalah dengan memakai masker, menjaga jarak dari orang lain, dan selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

https://indomovie28.net/movies/2-fast-2-furious/


Nah Lho! Pakar Ini Sebut COVID-19 Asalnya Bukan dari China


Salah satu ahli epidemiologi China, Zheng Guang, mengatakan bahwa virus Corona yang menjadi pandemi saat ini bukan berasal dari Wuhan, China. Ia mengatakan, virus itu hanya teridentifikasi pertama kali di kota tersebut.

"Wuhan adalah tempat virus Corona pertama kali terdeteksi, tetapi bukan menjadi tempat asalnya (virus Corona)," kata Zeng yang merupakan mantan epidemolog Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (DCD) China pada konferensi akademik, yang dikutip dari South China Morning Post, Senin (23/11/2020).


Dalam konferensi tersebut, Zeng mengutip sebuah penelitian di Italia yang menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 itu menyebar di Italia melalui individu tak bergejala, beberapa bulan sebelum dilaporkan di Wuhan padan Desember 2019 lalu.


Dalam studi tersebut juga menemukan bahwa antibodi virus Corona terdeteksi dalam sampel darah yang dikumpulkan dalam uji coba skrining kanker paru antara September 2019 dan Maret 2020. Menurut penelitian peer-review, 11,6 persen dari 959 relawan sehat sudah mengembangkan antibodi virus Corona sebelum bulan Februari.


Seperti Zeng, ahli epidemiologi CDC China saat ini yaitu Wu Zunyou juga mengatakan bahwa virus Corona itu bisa masuk ke negara tersebut melalui impor makanan laut beku atau produk daging.


"Penemuan ini hanya mendokumentasikan bahwa epidemi di China tidak terdeteksi tepat waktu," kata Giovanni Apolone, direktur ilmiah National Cancer Institute sekaligus salah satu penulis dari studi tersebut.


Ditemukan di China berkat sistem pemantauan pneumonia

Masih di konferensi yang sama, Zeng menjelaskan virus Corona pertama kali terdeteksi di Wuhan lewat pembentukan sistem pemantauan pneumonia yang didirikan setelah wabah sindrom pernapasan akut yang parah atau SARS 17 tahun lalu.

https://indomovie28.net/movies/c-r-a-z-y/