Rabu, 22 April 2020

Sudah Bayar BPJS Kesehatan, Eh Batal Naik

BPJS Kesehatan mengaku telah menerima keputusan Mahkamah Agung (MA) terkait pembatalan kenaikan iuran jaminan kesehatan bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Peserta Bukan Pekerja (BP) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Dengan begitu, iuran BPJS Kesehatan yang sejak Januari naik menjadi Rp 42.000 untuk kelas III, kini kembali turun menjadi Rp 25.500, kelas II dari Rp 110.000 menjadi Rp 51.000, dan kelas I dari Rp 160.000 menjadi Rp 80.000. Jumlah iuran tersebut sesuai Peraturan Presiden No. 82/2018 tentang Jaminan Kesehatan.

"Komunikasi tentu berjalan sangat baik selama ini dalam pengelolaan Program JKN-KIS," ujar Kepala Humas BPJS Kesehatan Iqbal Anas Ma'ruf kepada detikcom, Selasa (21/4/2020).

Iqbal juga memastikan bahwa pihaknya akan patuh terhadap aturan itu dan bakal berjalan sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh MA. "Kan memang putusan MA itu final dan mengikat. Sehingga pasti akan dilaksanakan," sambungnya.

Lalu, bagaimana nasib kelebihan iuran yang telah dibayarkan para peserta pada bulan April 2020 ini?

Iqbal menjelaskan terkait kelebihan iuran akan diperhitungkan pada pembayaran iuran bulan selanjutnya. "Diperhitungkan sebagai saldo untuk pembayaran iuran bulan berikutnya," tuturnya.

Untuk diketahui, beleid pembatalan kenaikan iuran tersebut telah diterima pemerintah secara resmi sejak 31 Maret 2020 lalu berdasarkan surat dari Panitera Muda Tata Usaha Negara Mahkamah Agung Nomor: 24/P.PTS/III/2020/7P/HUM/2020 tanggal 31 Maret 2020 perihal Pengiriman Putusan Perkara Hak Uji Materiil Reg. No. 7P/HUM/2020.

Sesuai ketentuan Pasal 8 ayat (2) Peraturan Mahkamah Agung No. 01/2011 tentang Hak Uji Materiil, pemerintah mempunyai waktu paling lambat 90 hari untuk melaksanakan Putusan MA tersebut. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa aturan pembatalan kenaikan tarif iuran BPJS Kesehatan ini dapat mulai berlaku selambatnya sampai dengan 29 Juni 2020 mendatang.

Pedihnya Ketika Keelokan Italia Diabaikan Dunia

Italia yang menjadi destinasi wisata favorit turis dari pelosok dunia sepi. Keindahan di sudut-sudut Negeri Pizza itu seolah sedang diabaikan dunia.
Villa d'Este, sekitar satu jam perjalanan dari Roma, sebuah vila dan taman yang dipenuhi kolam dan taman terawat yang pertama kali ditugaskan oleh seorang kardinal. Banyak yang menyebutnya sebagai keajaiban abad ke-16.

Setiap hari, hampir 2.000 pelancong memenuhi jalan setapak di area vila itu. Turis-turis itu rela antre untuk berfoto dengan patung-patung Renaissance atau menikmati pemandangan dari lereng bukit bertingkat.

Itu dulu sebelum virus Corona merajalela. Kini vila di Tivoli di Italia itu kosong tak ada pelancong.

"Dalam situasi kita saat ini, kecantikan berkontribusi dalam cara mendasar bagi kesejahteraan kita," kata Andrea Bruciati, direktur perkebunan di Villa d'Este, seperti dikutip france24.

"Aku merasakan kesedihan yang mendalam bahwa keindahan ini tidak dapat dibagikan kepada orang-orang saat ini," dia menambahkan.

'Tidak ada pengunjung, nol!" dia menegaskan.

Bukan hanya Villa d'Este yang tutup, namun vila lain yang masuk daftar UNESCO di Tivoli, sebuah kota di timur laut Roma, Villa Hadrian, juga tak menerima pengunjung.

"Kami tidak punya pengunjung sekarang, tidak ada! Nol! Nol!" Giuseppe Proietti, wali kota Tivoli.

Tak beroperasinya dua vila itu membuat pendapatan kota mandeg. Mirisnya, tidak ada yang benar-benar tahu kapan para wisatawan akan berani kembali ke Italia dengan kasus kematian mencapai 23.660 akibat virus Corona.

"Restoran-restoran, pusat bersejarah, area yang dipenuhi dengan restoran-restoran outdoor semuanya benar-benar tertutup," kata Proietti.

This picture taken on April 17, 2020, shows terraced hillside Italian Renaissance garden and fountains Villa D'Este in Tivoli during the lockdown aimed at curbing the spread of the COVID-19 infection, caused by the novel coronavirus. (Photo by Filippo MONTEFORTE / S fornasier / AFP)Teras taman Renaissance dan air mancur Villa D'Este di Tivoli tutup karena COVID-19. (Filippo MONTEFORTE / S fornasier / AFP)
Situasi itu memang mengguncang Italia. Sebab, pariwisata menjadi salah satu penyedot tenaga kerja, hingga di bawah seperlima dari seluruh tenaga kerja resmi.

Beberapa tempat merasakan dampak, bukan hanya tempat wisata, namun usaha lain yang dibangun untuk mendukung wisata. Di antaranya, hotel, tempat makan dan kongkow.

Dari 19 hotel Tivoli, hanya dua yang masih dibuka. Tapi, itu pun kosong tak ada pelanggan.

"Mereka tidak ditutup karena hukum, tapi ditutup karena tidak ada permintaan," kata Kepala Asosiasi Akomodasi Tivoli, Pietro Conversi.

7 Alasan Bersyukur Tinggal di Planet Bumi

Hari ini 22 April adalah hari Bumi, planet yang sungguh sempurna untuk makhluk hidup termasuk manusia. NASA pun menyebutkan beberapa alasan kenapa manusia harus tak henti bersyukur tinggal di planet ini.
Dihimpun detikInet, Rabu (22/4/2020) berikut daftarnya.

1. Bisa Bernapas Leluasa

Bernapas dengan oksigen di Bumi tampak seperti peristiwa biasa saja. Akan tetapi planet ini satu-satunya yang memungkinkan makhluk hidup menghirup udara bersih dengan bebas. Coba lihat seperti apa kondisinya di Planet Mars.

"Tanpa kostum antariksa yang menyediakan dukungan untuk hidup, manusia harus menghirup karbondioksida di sana, gas beracun yang biasanya kita keluarkan sebagai buangan. Selain itu, atmosfer tipis di Mars (100 kali lebih tipis dari Bumi), dan tiadanya medan magnet global akan membuat kita rentan terhadap radiasi berbahaya yang merusak sel dan DNA, gravitasi rendahnya pun akan memperlemah tulang kita," tulis Stacy Tiedeken dari Goddard Space Flight Center.

2. Tanah Solid untuk Berpijak

Bumi diberkati dengan permukaan solid. Ilmuwan NASA pun membandingkan dengan Matahari. Jika mencoba berdiri di permukaan Matahari yang terlihat, disebut sebagai photosphere, Anda akan langsung jatuh 330 ribu kilometer menuju lapisan plasma sangat terkompresi. Belum lagi tekanan di sana 4,5 juta kali lebih kuat dari titik terdalam samudera di Bumi.

"Bersiaplah untuk jatuh dengan cepat, karena gravitasi Matahari 28 kali lebih kuat dari Bumi," sebut Miles Hatfield, penulis sains di NASA. Jangan lupakan pula betapa panasnya Matahari. Temperatur di photosphere mencapai 5.500 derajat Celcius, 10 kali lebih panas dari lava dan itu pun bukan area terpanas di bintang tersebut.

3. Musim-musim yang Rutin Berganti

Sejak permulaan sejarah, manusia merayakan pergantian musim di Bumi yang tidak pernah berhenti. Bandingkan dengan kondisi di planet Venus yang tidak punya musim dan begitu panasnya walaupun mungkin di masa silam, Venus pernah punya kondisi seperti di Bumi.

"Planet tetangga kita itu atmosfernya begitu tebal, 55 kali lebih padat dari Bumi, membuat Venus suhunya 465 derajat Celcius sepanjang tahun, lebih panas dari oven paling panas sekalipun. Atmosfer itu juga menghalangi langit, tidak mungkin melihat bintang dari permukaannya," tulis Lonnie Shekhtman, penulis sains NASA.

4. Gravitasi yang Pas

Kita beruntung karena Bumi memiliki gravitasi dalam kadar tepat, amat pas sehingga manusia tidak melayang-layang dan tidak cukup kuat sehingga kita bisa berdiri atau berlari. Bandingkan keadaannya dengan Lubang Hitam yang sungguh tidak ramah.

"Lubang hitam adalah obyek sangat padat yang tak membiarkan cahaya apapun lolos. Permukaan lubang hitam adalah area yang disebut event horizon, batas di mana apapun tak bisa kembali. Bahkan jika kita cukup beruntung punya pesawat menuju Lubang Hitam, gravitasinya begitu kuat sehingga mengarah terlalu dekat akan merentangkan dan mengompress pesawat dan siapapun di dalamnya jadi berbentuk seperti mie, disebut ilmuwan spaghettification," papar Elizabeth Landau dari kantor pusat NASA.

5. Bisa Menikmati Angin Sepoi-sepoi

Kita di Bumi dapat menikmati angin sepoi-sepoi yang menyenangkan. Hal itu sebenarnya merupakan kemewahan ketimbang kondisi di antariksa, contohnya saja di Planet Jupiter. Angin di sana begitu dahsyat dan mematikan. Seandainya ada manusia melakukan skydiver di sana, sambutannya sangat mengerikan.

"Ia akan disambar oleh angin berkecepatan antara 430 sampai 680 kilometer per jam. Angin di Jupiter membuat topan kategori tertinggi di Bumi terasa seperti angin sepoi-sepoi dan sambaran kilat di sana seribu kali lebih powerful dibandingkan di sini," cetus Staci Tiedeken, Planetary Science Outreach Coordinator NASA.

6. Langit yang Bersih dan Bisa Berenang

Melihat bintang atau Matahari adalah sesuatu yang biasa di Bumi demikian juga berenang di air. Marilah melihat situasi di Titan, satelit Saturnus yang sebenarnya cukup mirip planet ini. Atmosfernya tebal dan melindungi, juga punya awan, hujan, danau dan sungai bahkan lautan asin. Akan tetapi ada kelemahan sangat besar di sana.

"Tidak ada oksigen di atmosfernya. Dan sungai serta danau itu terbuat dari metana cair. Jadi jangan mandi di sana, tubuh kita lebih padat dari metana sehingga akan tenggelam seperti batu besar. Hal lain yang akan Anda rindukan adalah melihat Matahari di atas kepala. Tak hanya Titan sangat lebih jauh dari Matahari, atmosfernya yang padat memuramkan cahaya Matahari, membuat siang seperti senja di Bumi," tulis Lonnie Shekhtman, penulis sains NASA.