Sabtu, 08 Mei 2021

Menyoal Akun Medsos yang Bercanda Soal KRI Nanggala-402

 Masih ada sejumlah akun yang bercanda soal KRI Nanggala-402, padahal isunya berupa musibah penuh duka. Gugurnya 53 awak KRI Nanggala-402 sudah sepatutnya dilepas dengan penuh hormat, namun ada saja akun kebelet 'badut' yang mengunggah sesuatu tanpa pikir panjang.

Mengutip LinkedIn, Sheetal Agarwal yang merupakan Mental Health Coach dan pembicara di TEDx pernah menjelaskan soal batasan bercanda. Jika zaman dulu anggapan bercanda adalah hal negatif, kini stigmanya sudah bergeser. Tidak ada salahnya untuk tertawa dan membuat lelucon. Tapi tetap saja ada ketentuannya.


"Bagaimana jika aktivitas atau tindakan itu membuat orang lain tertawa? Jawabannya sederhana. Bahkan jika itu membuat orang lain bahagia, jika itu dilakukan dengan mengorbankan seseorang yang terluka secara emosional dan kadang-kadang bahkan secara fisik, itu salah!" tuturnya.


Agarwal mengatakan sebagian besar dari kita menikmati kemalangan orang lain, baik itu orang yang jatuh di depan kita atau mungkin seseorang dengan aksen yang berbeda. Kita menganggapnya lucu dan menertawakan mereka. Setidaknya yang kita tahu bahwa 'kita' menikmatinya, tidak tahu deh mereka yang jadi sasaran bercandaan.


"Dan, di sinilah kita perlu membawa pengetahuan kita tentang bagaimana menjadi bahagia tanpa menyakiti seseorang. Badut membuat semua orang senang dengan membuat lelucon pada diri sendiri dan bukan pada orang lain. Mengolok-olok seseorang bisa jadi lucu bagi orang lain tetapi tidak untuk orang itu," sambungnya.

Belajar dari badut yang mengalihkan perhatian semua orang pada diri sendiri. Ia dapat menghibur semua orang di sekitar, menikmatinya bersama mereka dan bersenang-senang dengan mereka tanpa risiko membuat psikologis orang lain terluka.


Ketika ingin melontarkan lelucon, biasakan untuk menanyakan pada diri kita sendiri beberapa pertanyaan seperti: Apakah akan menyakiti seseorang? Apakah ini akan menyinggung siapa pun? Apakah kita cukup sensitif untuk tidak mengolok-olok orang lain?


"Kita harus selalu ingat untuk tidak melewati garis tipis itu," tegasnya.


"Itulah cara kita bersenang-senang dengan orang lain dan tidak mengolok-olok orang lain. Menghibur orang bisa menjadi pekerjaan yang sulit. Tapi alangkah menyenangkannya jika kita tidak belajar sesuatu yang baru setiap kali kita membuat orang lain tertawa dan tersenyum," tandasnya.

https://tendabiru21.net/movies/hanna/


Pemerintah Masih Kurang Kesadaran Privasi, Yes or No?


- Keamanan data pribadi kini menjadi ancaman yang nyata dan ditakutkan banyak orang. Salah satu data specialist berani menyebut pemerintah dan swasta kurang sadar akan pentingnya privasi.

Ialah Nurvirta Monarizqa sarjana IT dari Universitas Gadjah Mada yang melanjutkan pendidikan Master Applied Urban Data Science and Informatics di New York University. Bagaimana tidak, berbagai kasus kebocoran data hingga pencurian identitas untuk mengajukan kredit makin kerap terangkat ke publik beberapa waktu terakhir.


"Disclaimer dan kayaknya perlu di-highlight, segimana kita usaha sebenarnya di Indonesia agak nggak ngefek karena orang pemerintah atau swasta banyak yang kurang kesadaran privasi," jelasnya kepada detikINET, Senin (26/5/2021).


Wanita yang akrab disapa Mona ini memberikan contoh masih banyak oknum customer service yang melakukan praktik jual data pelanggan. Dari hal-hal kecil yang pernah ia sarankan, Mona beranggapan itu hanya bisa mencegah kejadian sejenis sebanyak 10%.

https://tendabiru21.net/movies/the-jerk/

Tren TikTok 'Don't Search This Up' Isinya Akun Porno dan Kekerasan

 Muncul tren TikTok 'don't search this up' yang ternyata menimbulkan masalah. Tagar tersebut dimanfaatkan untuk promosi akun porno dan penuh kekerasan.

Mengutip BBC News, Senin (26/5/2021) ada sejumlah video porno hardcore yang ditampilkan sebagai foto profil akun TikTok. Ada pula rekaman pembunuhan pilot Yordania, Muadh al-Kasasbeh, oleh kelompok ISIS, yang dibakar sampai mati di dalam sebuah sel pada tahun 2015.


Akun yang melanggar ketentuan TikTok ini biasanya diberikan nama dengan huruf atau kata-kata yang acak. Akun tersebut tidak punya video lain selain video yang cuplikannya ia unggah sebagai foto profil.


Jadi, pengguna hanya perlu mencari 'don't search this up' dan akan muncul berbagai video yang merekomendasikan sebuah akun. Para ahli sepakat bahwa ada celah TikTok yang berhasil dieksploitasi pihak tidak bertanggung jawab.


"TikTok memiliki reputasi yang cukup positif dalam hal kepercayaan dan keamanan, jadi saya tidak akan menyalahkan mereka karena tidak memiliki kebijakan moderasi dan alat untuk mengatasi tren negatif yang tidak mereka sadari," kata Roi Carthy, dari perusahaan moderasi media sosial L1ght.


"Jelas TikTok sedang bekerja untuk menghentikan tren ini. Tapi bagi para pengguna, seperti biasa, kewaspadaan adalah kunci," sambungnya.


Ia pun meminta para orangtua terus mengenali aplikasi yang digunakan anak-anak mereka demi guna menyadari risiko yang ada.


Sementara itu, TikTok melalui juru bicaranya mengatakan sudah melakukan aksi terkait kabar tersebut.


"Kami telah secara permanen memblokir akun yang berusaha untuk mengelak dari aturan kami melalui foto profil mereka dan kami telah menonaktifkan tagar #dontsearchthisup. Tim keamanan kami melanjutkan analisis mereka dan kami akan terus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan komunitas kami," ujarnya.


TikTok menambahkan bahwa setelah dinonaktifkan, tagar itu tidak dapat ditemukan dalam pencarian atau dibuat lagi. Tim moderasi TikTok juga menganalisis dan menghapus istilah sejenis yang digunakan untuk tren.

https://tendabiru21.net/movies/girl-asleep/


Menyoal Akun Medsos yang Bercanda Soal KRI Nanggala-402


Masih ada sejumlah akun yang bercanda soal KRI Nanggala-402, padahal isunya berupa musibah penuh duka. Gugurnya 53 awak KRI Nanggala-402 sudah sepatutnya dilepas dengan penuh hormat, namun ada saja akun kebelet 'badut' yang mengunggah sesuatu tanpa pikir panjang.

Mengutip LinkedIn, Sheetal Agarwal yang merupakan Mental Health Coach dan pembicara di TEDx pernah menjelaskan soal batasan bercanda. Jika zaman dulu anggapan bercanda adalah hal negatif, kini stigmanya sudah bergeser. Tidak ada salahnya untuk tertawa dan membuat lelucon. Tapi tetap saja ada ketentuannya.


"Bagaimana jika aktivitas atau tindakan itu membuat orang lain tertawa? Jawabannya sederhana. Bahkan jika itu membuat orang lain bahagia, jika itu dilakukan dengan mengorbankan seseorang yang terluka secara emosional dan kadang-kadang bahkan secara fisik, itu salah!" tuturnya.


Agarwal mengatakan sebagian besar dari kita menikmati kemalangan orang lain, baik itu orang yang jatuh di depan kita atau mungkin seseorang dengan aksen yang berbeda. Kita menganggapnya lucu dan menertawakan mereka. Setidaknya yang kita tahu bahwa 'kita' menikmatinya, tidak tahu deh mereka yang jadi sasaran bercandaan.


"Dan, di sinilah kita perlu membawa pengetahuan kita tentang bagaimana menjadi bahagia tanpa menyakiti seseorang. Badut membuat semua orang senang dengan membuat lelucon pada diri sendiri dan bukan pada orang lain. Mengolok-olok seseorang bisa jadi lucu bagi orang lain tetapi tidak untuk orang itu," sambungnya.

https://tendabiru21.net/movies/force-of-nature/