Rabu, 21 April 2021

Belajar dari India, Ketua JDN Ingatkan Jaga Prokes Usai Divaksin

 Vaksinasi tidak jadi jaminan bebas dari COVID-19. Menurut Ketua Junior Doctor Network (JDN) Indonesia dr. Andi Khomeini Takdir mengatakan vaksinasi dilakukan untuk melatih sistem pertahanan seandainya virus itu masuk ke dalam tubuh.

"Kalau semua paham situasinya seperti itu maka tidak bisa tidak, kita masih harus terus lanjut dengan 3M, memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan," ujar dr. Andi dalam keterangan tertulis, Selasa (20/4/2021).


Ia menuturkan jangan sampai vaksinasi justru membuat abai dengan protokol kesehatan. Menurutnya, vaksinasi harus tetap didorong, namun pada saat yang sama upaya 3M dan juga 3T harus tetap dijalankan hingga pandemi ini benar-benar berakhir.


dr Andi mencontohkan, India telah melakukan vaksinasi dengan luar biasa. Bahkan dalam satu hari pernah 3 juta penduduknya divaksinasi. Tetapi, hal itu membuat masyarakatnya abai dengan protokol kesehatan.


"Dan di India belakangan ini terjadi hingga 200 ribu kasus baru per hari," kata dr Andi.


Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan meski beberapa masyarakat sudah mendapatkan vaksinasi, bukan berarti protokol kesehatan diabaikan. Sebaliknya, protokol kesehatan harus tetap dijalankan mengingat potensi risiko lonjakan kasus penularan masih dapat terjadi.


"Jangan lupa terus pakai masker, jaga jarak, dan mencuci tangan. Jangan sampai nanti ada lonjakan ketiga seperti yang terjadi di negara-negara lain di Eropa, Asia, maupun Amerika Selatan," kata Budi Gunadi.


Sebelumnya, saat meninjau vaksinasi seniman dan budayawan di Galeri Nasional Indonesia Presiden Joko Widodo mengingatkan semua pihak untuk tidak menyepelekan COVID-19 meski saat ini kasus COVID-19 sudah menurun.


"Jangan sampai situasi sekarang yang kurvanya sudah lebih baik, menurun, menjadi naik lagi gara-gara kita lengah dan tidak waspada,' tegas Jokowi.


"Pandemi COVID-19 masih ada dan nyata di negara kita. Oleh sebab itu kita tetap harus ingat dan waspada, eling lan waspada, tetap tidak boleh lengah," tambahnya.

https://trimay98.com/movies/the-thinning-new-world-order/


Bahaya! Instruktur Yoga Sebut Tren Sujud 'Freestyle' Risikonya Fatal


- Baru-baru ini, media sosial dibuat heboh oleh tren viral sujud 'freestyle' yang kebanyakan dilakukan anak-anak. Saat salat, mereka bukannya sujud malah berpose handstand, atau tepatnya chinstand, konon meniru salah satu emoji di game Free Fire.

Tidak bisa dianggap remeh, instruktur yoga Astrid Amalia mengingatkan risiko fatal di balik gerakan ekstrem ini. Mending kalau cuma keseleo, risiko terburuk yang bisa dialami adalah cedera pada bagian tubuh lain, termasuk kepala.


"Banget (bahaya), jelas. Itu sudah jelas ya. Risikonya pertama di bahu dan di tangan, sudah jelas itu. Lalu kemudian kepala karena tangan dan bahunya nggak kuat, kepalanya bisa kejedot ke lantai pecah kan," ujarnya saat dihubungi detikcom, Selasa (20/4/2021).


Yang dikhawatirkan, jika anak terjatuh saat bergaya freestyle dengan posisi kepala terbentur duluan, kerusakannya bisa berkepanjangan. Misalnya, gangguan pada otak yang bahkan bisa menyebabkan gangguan mental.


Menurut Astrid, tangan tidak didesain untuk menopang berat badan. Kaki yang terbiasa menopang tubuh saja kerap kali cedera, apalagi tangan yang normalnya tidak bekerja menopang beban tubuh.


"Logikanya adalah jika kaki sendiri itu bisa mengalami cedera padahal kaki adalah yang paling kuat, bagaimana dengan tangan? Tangan itu kan tidak dipakai untuk menopang tubuh. Tangan dipakai untuk melakukan kegiatan. Sekarang kalau dipakai seperti itu pose handstand, secara logika pasti akan cedera. Pasti, itu sudah pasti," tegas Astrid.


Ia menjelaskan, cedera bisa langsung terjadi saat berkegiatan, atau baru timbul beberapa hari setelah berkegiatan. Biasanya, cedera 'susulan' ini berupa nyeri, linu, pegal, atau kelelahan.


Jangankan orang awam, Astrid yang berpengalaman menjadi instruktur yoga pun memerlukan latihan lebih dulu sebelum melakukan handstand. Bahkan, terbiasa dengan yoga sekalipun tidak menjamin seseorang bisa melakukan handstand, sangat tergantung kondisi tubuh.


"Untuk plank saja butuh belajar, tidak semua orang bisa plank. Lah kemudian anak-anak ini melakukan posisi handstand. Pertanyaannya, apakah mereka sudah latihan? Apakah mereka tahu bahwa itu perlu latihan? Apakah mereka tahu bahwa itu kalau dilakukan tanpa latihan bisa membuat mereka cedera?" pungkas Astrid.

https://trimay98.com/movies/taxi-7/

Terjangan 'Tsunami' COVID-19 di India Mengganas, Ini 5 Penyebabnya

 Kasus virus Corona COVID-19 di India mengalami ledakan beberapa waktu belakangan. Bukan cuma kasus positif, negara ini juga melaporkan rekor kasus kematian harian.

Dikutip dari laman Worldometers, India melaporkan adanya 256.947 kasus baru harian dan 1.757 kematian pada Senin (19/4/2021).


Jumlah ini menambah banyaknya kasus positif COVID-19 di India, dengan total keseluruhan mencapai 15.321.089 kasus. Saat ini, terdapat 2.031.957 kasus aktif, dengan 13.108.581 orang sudah sembuh dan 180.550 orang meninggal dunia akibat terpapar Corona.


Meski demikian, apa sih penyebab melonjaknya kasus di India?


1. Lengah protokol kesehatan

Kurang disiplinnya penerapan protokol kesehatan disebut menjadi penyebab meningkatnya kasus COVID-19 di India. Seperti tidak memakai masker, tidak menetapkan jarak sosial, dan kurangnya regulasi di tempat kerja dan ruang publik.


2. Daerah yang kumuh

Tak hanya abai dengan prokes, daerah yang kumuh juga menjadi penyebabnya. Dikutip dari laman The Conversation, penduduk setempat yang tidak memiliki toilet di tempat tinggalnya menjadi yang terdampak paling parah.


Hal ini menyebabkan sanitasi yang buruk ikut berkontribusi dalam penyebaran Corona.

https://trimay98.com/movies/the-boy-next-door/


3. Mutasi ganda virus

Peningkatan kasus harian Corona yang tinggi mencerminkan infeksi menyebar pada tingkat yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan pemulihan.


Dikutip dari laman livemint.com, varian baru yang disebut dengan mutasi ganda diduga menjadi pemicu gelombang baru infeksi di India, yang mendorong negara ini berada di posisi kedua dengan kasus terbanyak di dunia.


Adapun 16 negara bagian dengan laporan kasus peningkatan setiap harinya. Salah satunya di Delhi dan Maharashtra.


Maharashtra melaporkan kasus harian baru tertinggi dengan 63.729 kasus, diikuti Uttar Pradesh dengan 27.360 kasus baru dan Delhi dengan 19.486 infeksi baru.


4. Ritual keagamaan

Lebih dari 1.000 orang dinyatakan positif Corona setelah perayaan ritual mandi di sungai atau Kumbh Mela yang dilaksanakan selama beberapa hari.


Kebanyakan peserta yang melakukan ritual ini tidak menerapkan protokol kesehatan saat mandi di Sungai Gangga, India.


Dilaporkan AFP, dari sekitar 50 ribu sampel yang diambil, 408 dinyatakan positif pada hari Senin dan 594 pada hari Selasa. Jumlahnya terus bertambah setiap har


5. Positivity rate

Penyebab lainnya adalah positivity rate yang sangat tinggi. Dari mereka yang menjalani tes, lebih banyak orang ditemukan positif sekarang dibandingkan dengan waktu sebelum epidemi.


Dalam satu minggu terakhir, misalnya, lebih dari 13,5 persen tes menghasilkan tes yang positif. Rata-rata pergerakan tujuh hari dari tingkat kepositifan tidak pernah lebih tinggi.


Angka positivitas merupakan tolak ukur penyebaran penyakit di masyarakat. Penyakit yang lebih luas akan menyebabkan tingkat kepositifan yang lebih tinggi dalam tes.


Dikutip dari The India Express, tingkat positif selama gelombang pertama mencapai puncaknya pada minggu terakhir bulan Juli tahun lalu, dan terus menurun bahkan saat kasus positif terus meningkat di bulan Agustus dan September.

https://trimay98.com/movies/taxi-6/