Rabu, 07 April 2021

Waduh! Peneliti Sebut Ukuran Mr P Manusia Menyusut Gara-gara Polusi

 Peneliti kesehatan lingkungan Dr Shanna Swan dari Mount Sinai Hospital, New York, menjelaskan bagaimana polusi bisa berdampak terhadap kesehatan reproduksi manusia. Dalam buku terbarunya yang berjudul "Count Down", ukuran penis manusia disebut semakin menyusut karena polusi.

Dr Swan menaruh perhatian pada senyawa phthalate yang umum digunakan dalam pembuatan plastik. Senyawa phthalate diketahui dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan mengganggu produksi hormon, khususnya testosteron.


Riset Dr Swan awalnya melihat sindrom phthalate pada tikus di laboratorium. Ia menemukan bahwa tikus yang terpapar senyawa tersebut akan lebih mungkin melahirkan keturunan dengan kelamin yang lebih kecil.


Senyawa phthalate pada pria disebut juga bisa mengganggu dengan kualitas spermanya. Analisa studi yang dipublikasi tahun 2017 lalu menemukan setidaknya jumlah sperma pada sekitar 45.000 pria di Barat sudah berkurang hampir 50 persen selama empat dekade terakhir.


"Masalah kesehatan reproduksi ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama karena mengancam keberlangsungan hidup manusia," tulis Dr Swan seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (6/4/2021).


Dr Swan percaya bila masalah polusi phthalate berlanjut maka pria akan mulai kesulitan menghasilkan sperma sehat pada tahun 2045.

https://trimay98.com/movies/7-hours-to-go/


Bukan Digaruk! Ini 3 Tips Atasi Biduran bagi Ibu Menyusui


Beberapa wanita yang baru melahirkan dilaporkan mengalami biduran pada kulitnya. Ternyata, kondisi ini bisa menetap hingga ibu menyusui sang buah hati.

Menurut Valinda Riggins Nwadike, MD, MPH, seorang dokter spesialis kandungan, sebanyak 20 persen ibu dilaporkan mengalami biduran. Kondisi ini bisa disebabkan oleh alergi, infeksi, maupun stres psikologis.


"Jangan khawatir, biduran biasanya hilang secepat muncul. Inilah mengapa Anda mungkin mengalami gatal-gatal usai melahirkan dan persiapkan apa yang harus dilakukan," ujar Nwadike, dikutip dari HaiBunda.


Biduran yang disebabkan oleh alergi biasanya akan muncul di sejumlah bagian tubuh, seperti wajah, bibir, lengan, tenggorokan, dan telinga, dan memicu munculnya gatal-gatal yang menyebabkan munculnya ruam dan kulit menjadi merah.


Pasalnya, saat tubuh bereaksi terhadap alergen, tubuh akan memproduksi protein histamin dan bahan kimia tertentu. Ketika tubuh melepaskan histamin, pembuluh darah di kulit akan menghasilkan plasma darah yang dapat memicu ruam, gatal, dan bentol-bentol.


Apa yang menyebabkan biduran?

Mengutip Parenting Firstcry, biduran yang dialami oleh ibu menyusui bisa disebabkan oleh konsumsi obat-obatan, seperti aspirin, obat anti-inflamasi, obat tekanan darah tinggi, dan obat pereda nyeri.


Selain konsumsi obat-obatan, alergi pada bulu, makanan, dan serangga juga bisa dapat menyebabkan munculnya biduran di kulit.


Di sisi lain, biduran juga bisa muncul sebagai reaksi kulit lantaran keringat berlebih, stres emosional, dan infeksi mononukleosis. Paparan dingin, panas matahari, dan penyakit autoimun juga bisa menyebabkan munculnya bentol-bentol di tubuh ini.


Bagaimana jika ibu menyusui mengalami biduran?

Apabila ibu mengalami biduran saat tengah masa menyusui, maka para ibu tidak perlu khawatir dan berhenti memberikan ASI kepada bayinya. Sebab, biduran tidak akan menular, kecuali biduran yang disebabkan oleh infeksi virus.


Meski menghilangkan gatal-gatal saat menyusui bukanlah hal yang mudah, ibu bisa mencoba mengobati biduran dengan mengonsumsi obat antihistamin.


Akan tetapi, perlu diingat untuk melakukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu agar kandungan obat tidak bercampur dengan ASI. Sejumlah dokter biasanya akan menyarankan untuk segera mengonsumsi obat setelah menyusui. Hal ini dilakukan guna mengurangi kemungkinan obat terakumulasi dalam ASI.


Selain minum obat, biduran bisa diatasi dengan cara alami, lho. Bagaimana caranya?


KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA

https://trimay98.com/movies/deck-the-halls/

Peneliti Sukses Tumbuhkan Embrio Tikus di Gelas, Manusia Target Berikutnya

 Tim peneliti dari Israel baru saja mempublikasi inovasi kontroversial, tak lain embrio tikus lengkap dengan jantung, kepala, dan calon lengan yang bertumbuh dalam gelas kaca.

Dalam foto yang dipublikasi, janin tikus tersebut berusia 11-12 hari, atau setengah dari kehamilan tikus rata-rata 21-24 hari.


Peneliti menyebut, keberhasilan eksperimen pada hewan mamalia ini amat mungkin kelak diimplementasikan pada janin manusia. Meski proyeksinya ditentang banyak pihak, peneliti berharap temuannya bisa menjadi sumber jaringan baru dalam ranah medis.


"Ini menentukan tahap untuk jenis spesies lain. Saya berharap, ke depannya para ilmuwan bisa mengembangkan embrio manusia sampai usia janin lima minggu," ujar ahli biologi pengembangan di Weizmann Institute of Science selaku kepala penelitian Jacob Hanna, dikutip dari MIT Technology Review, Selasa (6/4/2021).


Tim penelitian Hanna ini sukses memberikan hidup pada embrio tikus dengan cara menambahkan serum darah dari tali pusar manusia dalam campuran di gelas kaca. Kemudian, oksigen bertekanan dipompakan pada campuran tersebut.


"Langkah ini seperti memaksa oksigen masuk ke dalam sel, sehingga pasiennya merasa baik. Anda dapat melihat sistem darah dan organ-organnya bekerja dengan baik," imbuhnya.


Hanna memahami, metode ini memiliki risiko keguguran yang besar jika diimplementasikan pada embrio manusia. Namun mengacu pada pembelajarannya soal In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung, Hanna percaya, risikonya kegagalan kedua metode ini sebenarnya sama.


Menanggapi embrio artifisial ditentang banyak negara, Hanna tetap mengupayakan pengembangan embrio manusia di metode gelas kaca garapannya. Ia masih ingin melihat seberapa jauh temuan ini bisa dikembangkan.


"Butuh 6 tahun kerja yang sangat intens untuk sistem seperti yang sudah dikerjakan sekarang. Kami sudah memiliki rencana untuk menguji embrio sintetis," ujar Hanna.


Studi mengenai embrio artifisial manusia selama lebih dari 14 hari memang dilarang di sejumlah negara. Namun kini, International Society for Cell Stem Research (ISSCR) tengah mempertimbangkan perpanjangan umur embrio artifisial yang dikembangkan laboratorium.

https://trimay98.com/movies/london-town/


Waduh! Peneliti Sebut Ukuran Mr P Manusia Menyusut Gara-gara Polusi


Peneliti kesehatan lingkungan Dr Shanna Swan dari Mount Sinai Hospital, New York, menjelaskan bagaimana polusi bisa berdampak terhadap kesehatan reproduksi manusia. Dalam buku terbarunya yang berjudul "Count Down", ukuran penis manusia disebut semakin menyusut karena polusi.

Dr Swan menaruh perhatian pada senyawa phthalate yang umum digunakan dalam pembuatan plastik. Senyawa phthalate diketahui dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan mengganggu produksi hormon, khususnya testosteron.


Riset Dr Swan awalnya melihat sindrom phthalate pada tikus di laboratorium. Ia menemukan bahwa tikus yang terpapar senyawa tersebut akan lebih mungkin melahirkan keturunan dengan kelamin yang lebih kecil.


Senyawa phthalate pada pria disebut juga bisa mengganggu dengan kualitas spermanya. Analisa studi yang dipublikasi tahun 2017 lalu menemukan setidaknya jumlah sperma pada sekitar 45.000 pria di Barat sudah berkurang hampir 50 persen selama empat dekade terakhir.


"Masalah kesehatan reproduksi ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama karena mengancam keberlangsungan hidup manusia," tulis Dr Swan seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (6/4/2021).


Dr Swan percaya bila masalah polusi phthalate berlanjut maka pria akan mulai kesulitan menghasilkan sperma sehat pada tahun 2045.

https://trimay98.com/movies/blackpink-light-up-the-sky/