Jumat, 05 Februari 2021

Varian Baru Corona Inggris Bermutasi Lagi, Kini Mengandung E484K

 Varian baru SARS-COV-2 dari Inggris, B117, bermutasi lagi. Dalam beberapa kasus yang ditemukan, para ilmuwan mendapati mutasi E484K seperti yang dimiliki oleh varian Afrika Selatan.

Para ilmuwan meyakini, perubahan ini bisa berpengaruh pada efikasi vaksin yang ada saat ini. Temuan ini sekaligus mengingatkan betapa rumitnya lockdown meski vaksin sudah ditemukan.


Sejauh ini, dilaporkan ada 11 laporan mutasi E484K pada varian Inggris. Terbanyak ditemukan di wilayah barat daya.


Mutasi E484K yang terjadi pada protein spike adalah mutasi yang sama seperti ditemukan pada varian Afrika Selatan maupun Brasil. Mutasi tersebut saat ini menjadi sorotan internasional.


"PHE (Public Health England) tengah mengamati situasi dengan cermat dan segala intervensi kesehatan masyarakat yang diperlukan sedang dilakukan, termasuk memperkuat pelacakan kontak dan langkah-langkah pengendalian," kata seorang juru bicara, dikutip dari Reuters, Kamis (4/2/2021).


Beberapa penelitian menemukan bahwa vaksin dan terapi antibodi yang ada saat ini lebih tidak efektif pada varian Afrika Selatan. Sebaliknya, vaksin yang ada masih manjur untuk varian Inggris versi sebelumnya.


Sederhananya, kode E484K adalah semacam koordinat dalam peta. Angka 484 menunjukkan lokasi tepat terjadinya mutasi pada virus, sedangkan huruf E menunjukkan asam amino atau protein awal, sedangkan huruf K adalah asam amino hasil mutasinya.

https://indomovie28.net/movies/modern-times/


Kabar Baik! Antibodi COVID-19 Bisa Bertahan Hingga Enam Bulan Pasca Sembuh


Sebuah studi besar di Inggris menunjukkan hampir semua pasien COVID-19 yang sudah pulih memiliki antibodi yang tinggi. Kondisi ini disebut bisa melindungi mereka dari risiko reinfeksi, setidaknya selama enam bulan.

"Sebagian besar orang mempertahankan antibodi yang bisa dideteksi setidaknya selama enam bulan setelah terinfeksi virus Corona," kata Naomi Allen, seorang profesor dan kepala ilmuwan di UK Biobank yang menjadi tempat studi dilakukan, dikutip dari Reuters, Rabu (3/2/2021).


Hasil dari studi tersebut menunjukkan di antara peserta yang sudah pulih dari COVID-19, 99 persen dari mereka mempertahankan antibodi terhadap virus Corona selama tiga bulan. Setelah enam bulan dalam penelitian ini, 88 persen dari mereka masih memiliki antibodi tersebut.


"Meskipun kami tidak bisa memastikan bagaimana ini berkaitan dengan kekebalan, hasilnya menunjukkan bahwa orang mungkin akan terlindungi dari infeksi berikutnya (reinfeksi) setidaknya selama enam bulan pasca infeksi alami," jelasnya.


Allen juga mengatakan, temuan ini juga sesuai dengan hasil penelitian lain di Inggris dan Islandia. Penelitian tersebut menemukan bahwa antibodi terhadap COVID-19 cenderung bertahan selama beberapa bulan pada orang-orang yang sudah sembuh.


Berdasarkan studi dari Inggris juga menemukan bahwa proporsi populasi Inggris dengan antibodi COVID-19 (seroprevalensi), naik dari 6,6 persen pada awal studi pada Mei-Juni 2020 menjadi 8,8 persen pada November-Desember 2020.

https://indomovie28.net/movies/our-times-2/

Perbandingan Efikasi Vaksin COVID-19, Sinovac hingga Sputnik V

 Sampai saat ini, para ilmuwan masih berlomba-lomba untuk menghasilkan vaksin COVID-19 yang efektif mencegah penularan virus Corona. Bahkan beberapa di antaranya sudah menunjukkan efektivitas lebih dari 90 persen.

Namun, seperti vaksin pada umumnya, vaksin COVID-19 ini juga melaporkan adanya efek samping yang dirasakan relawan saat mendapatkan suntikan uji coba. Mulai dari nyeri hingga demam.


Dirangkum dari berbagai sumber, berikut perbandingan efektivitas dari beberapa kandidat vaksin COVID-19.


1. Pfizer- BioNTech

Vaksin buatan Pfizer dan BioNTech yaitu BNT162b2 diklaim 90 persen efektif. Seperti yang lainnya, vaksin ini juga menunjukkan adanya efek samping pada relawannya.


Beberapa orang dari total relawan sebanyak 43.500 ini mengalami efek samping seperti sakit kepala dan nyeri otot pada suntikan pertama. Relawan asal Austin, Texas, Glenn Deshields (44) mengatakan merasa 'pengar yang parah' dan rasa seperti mabuk, meski hilang dengan cepat.


2. Moderna

Salah satu vaksin COVID-19 lainnya yaitu yang dikembangkan oleh Moderna juga disebut menjadi kandidat yang potensial untuk menangkal penularan Corona. Ini karena vaksin tersebut memiliki efikasi sebesar 94,5 persen, menjanjikan, dan diklaim menimbulkan efek samping yang ringan.

https://indomovie28.net/movies/our-times/


3. Oxford-AstraZeneca

Dari situs penelitian ilmiah Lancet, dilaporkan efikasi dari Astrazeneca mencapai 70 persen. Angka ini didapatkan dari uji klinis tahap tiga di Brasil dan Inggris.


Angka efikasi tersebut didapat dari penggabungan data kelompok orang yang divaksinasi dengan dosis tepat, dan dosis yang keliru. Jika hanya menggunakan data kelompok dosis yang tepat, ditemukan efikasi sebesar 64 persen.


Meski lebih rendah, vaksin Astrazeneca telah mencapai standar efikasi minimal vaksin Covid-19 yaitu 50 persen. Vaksin Astrazeneca juga tidak perlu disimpan dalam suhu -80 derajat seperti vaksin Covid-19 Pfizer.


Untuk mengetahui lebih lanjut soal efikasi vaksin COVID-19. Klik halaman berikut.


4. Johnson & Johnson

Pada Jumat (29/1/2021), Johnson & Johnson mengatakan satu suntikan vaksinnya memiliki kemanjuran 66 persen, dilihat dari uji coba skala besar yang mencakup tiga benua. Di AS, kemanjuran vaksin mencapai 72 persen, tetapi hanya 57 persen di Afrika Selatan. Sebanyak 95 persen kasus virus Corona yang ditemukan dalam uji coba adalah varian baru asal Afrika Selatan.


Terlepas dari varian baru, para ahli mengatakan bahwa vaksin yang ada masih berharga dalam perang melawan virus corona. Vaksin Johnson & Johnson 89 persen efektif dalam mencegah penyakit parah di Afrika Selatan.


"Pada akhirnya adalah menghentikan kematian, menghentikan rumah sakit agar tidak mengalami krisis dan semua vaksin ini, bahkan termasuk terhadap varian Afrika Selatan, tampaknya melakukan itu secara substansial," kata Dr Amesh Adalja, ahli penyakit menular di Johns Hopkins Pusat Keamanan Kesehatan.


5. Sputnik V

Hasil uji klinis fase 3 vaksin COVID-19 buatan Rusia, Sputnik V, menunjukkan efikasi sebesar 91,6 persen dalam melawan gejala COVID-19 dan 100 persen melawan penyakit parah dan sedang. Temuan analisis sementara hasil uji coba fase 3 ini diterbitkan dalam jurnal The Lancet, Selasa (2/2/2021).


Hasil uji klinis ini didasarkan pada data yang dikumpulkan dari 19.866 peserta. Sekitar tiga perempat (14.964) menerima dua dosis vaksin dan seperempat (4.902) diberi plasebo.


Sekitar 21 hari setelah pemberian dosis pertama, sebanyak 16 kasus gejala COVID-19 ditemukan dalam kelompok vaksin. Lalu 62 kasus ditemukan pada kelompok plasebo, hal tersebut setara dengan efektivitas vaksin yang mencapai 91,6 persen.


Uji coba tersebut melibatkan 2.144 orang yang berusia di atas 60 tahun dan sub-analisis yang dilakukan pada kelompok ini mengungkapkan bahwa vaksin tersebut dapat ditoleransi dengan baik dan memiliki kemanjuran yang setara 91,8 persen.


6. Sinovac Biotech

Dari uji klinis yang dilakukan di Bandung, Jawa Barat, tim peneliti mendapatkan efikasi sebesar 65,3 persen. Penghitungan efficacy rate dari uji klinis di Bandung dengan subjek 1.600, dengan interim analisis sesuai dengan penghitungan statistik kita menargetkan 25 kasus terinfeksi.


Uji klinis juga dilakukan di Brasil dengan nilai efikasi sebesar 50,4 persen. Sedangkan dalam uji klinis di Turki, efikasi vaksin asal China ini tercatat sebesar 91,25 persen.


Kenapa berbeda-beda? Ada banyak faktor, salah satunya kondisi para relawan uji klinis. Di Brasil misalnya, mayoritas relawan adalah tenaga kesehatan yang dalam keseharian memang lebih rentan terhadap paparan COVID-19, dibanding relawan uji klinis di Bandung yang latar belakangnya lebih beragam.

https://indomovie28.net/movies/octavio-is-dead/