Selasa, 05 Januari 2021

3 Fakta Nyeri Otot karena Gejala Corona, Bedanya dengan Nyeri Biasa

 Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menambahkan lima gejala COVID-19. Lima gejala tersebut adalah tubuh menggigil, sakit kepala, sakit tenggorokan, kehilangan indra penciuman, dan nyeri otot.

Gejala-gelaja di atas bukanlah penemuan baru. Pada bulan Maret 2020, spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan di Inggris memperingatkan bahwa hilangnya indra penciuman dan rasa mungkin merupakan gejala COVID-19.


Dikutip dari Health, berikut 3 fakta tentang nyeri otot akibat gejala COVID-19:


1. Memicu peradangan otot (myositis)

"Secara umum, virus corona, seperti virus lainnya, dapat menyebabkan peradangan pada jaringan otot," kata Amir Barzin, DO, MS, komandan insiden untuk Pusat Diagnostik Pernafasan di Pusat Medis UNC di Chapel Hill.


Dr. Barzin menjelaskan bahwa nyeri otot akibat infeksi virus disebabkan oleh kerusakan serat otot karena virus itu sendiri. COVID-19 memicu respons peradangan di dalam tubuh melalui sitokin inflamasi yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan otot.


2. Beda nyeri otot akibat COVID-19

Nyeri otot akibat COVID-19 sulit dibedakan dengan nyeri otot akibat cedera olahraga. Nyeri akibat virus cenderung menyebar ke seluruh jaringan otot, sedangkan nyeri akibat cedera olahraga cenderung menyerang otot tertentu saja.


Nyeri otot akibat gejala COVID-19 cenderung sembuh dalam beberapa minggu hingga bulan setelah infeksi penyakit sembuh, sedangkan nyeri otot akibat cedera olahraga akan sembuh dalam waktu 48-72 jam.


3. Pengobatan

Charles Odonkor, MD, ahli fisioterapi dan spesialis pengobatan nyeri dari Yale Medicine mengungkapkan bahwa penyembuhan nyeri otot akibat COVID-19 memerlukan asetaminofen dan ibuprofen, serta bed rest untuk jangka waktu yang cukup lama.


Untuk nyeri otot akibat olahraga dapat diredakan dengan mengompres otot yang nyeri menggunakan es dan peregangan ringan untuk merilekskan kembali otot-otot.

https://movieon28.com/movies/my-friends-wife/


Disease X Berpotensi Jadi Pandemi, Para Ilmuwan Waspadai Gejala Ini


Menyusul laporan munculnya kasus penyakit 'misterius' di Republik Demokratik Kongo, negara-negara lain ikut mewaspadai Disease X yang diprediksi jadi pandemi berikutnya. Rusia menyebut tengah memantau situasi pasca laporan tersebut.

"Rospotrebnadzor (pengawas keamanan konsumen - TASS) memantau dengan cermat laporan tentang setiap wabah penyakit menular, baik infeksi baru maupun berulang, di seluruh dunia," kata pernyataan otoritas kesehatan setempat.


"Tidak ada kasus dengan gejala serupa yang terdeteksi di Rusia," lanjut pernyataan tersebut, dikutip dari Russian News.


Hingga kini otoritas kesehatan setempat mengaku tak memiliki cukup informasi mengenai penyebab disease X. Namun, mereka berasumsi jika penyakit tersebut muncul karena sifat alami virus.


Begitu pula dengan data terkait seberapa menular dan mematikan disease x, hingga kini belum diketahui.


"Munculnya penyakit baru, termasuk yang berpotensi pandemi tinggi, merupakan bagian dari proses evolusi alami. Oleh karena itu, keanekaragaman mikroorganisme di sekitar kita harus dipelajari secara permanen dan sistematis," tutur otoritas kesehatan setempat.


Apa saja gejala yang timbul?

Dikutip dari CNN, Profesor Jean-Jacques Muyembe Tamfum, salah satu ilmuwan pertama yang menemukan virus Ebola, memperingatkan disease X yang jauh lebih mematikan, yang menular dari hewan ke manusia, diprediksi sebagai pandemi berikutnya.


Berdasarkan laporannya, seorang pasien wanita di Ingende, sebuah kota di Republik Demokratik Kongo (DRC), menunjukkan gejala awal seperti demam berdarah.


Namun, saat dites Ebola, hasilnya menunjukkan negatif, begitu pula saat dites virus lain. Wanita ini belakangan sembuh, tetapi dokter tidak dapat memastikan asal penyakit yang gejala lainnya juga tampak seperti infeksi Ebola.

https://movieon28.com/movies/delicious-delivery/

Kopi Bisa untuk Mendeteksi COVID-19? Begini Penjelasannya

  Kopi menjadi minuman untuk menghilangkan rasa kelelahan dan meningkatkan kewaspadaan. Namun, kopi juga bisa untuk deteksi awal infeksi COVID-19. Ini bisa dilakukan untuk deteksi awal anosmia atau kehilangan indera penciuman yang merupakan gejala COVID-19.

Profesor ilmu pangan, John E. Hayes dan asisten profesor epidemiologi, Cara Exten, dari Penn State, Amerika Serikat, melakukan penelitian untuk mengembangkan program skrining dan pengujian berbasis bau sebagai bagian dari tanggapan terhadap pandemi SARS-CoV-2.


Kopi menjadi alat deteksi anosmia

Dikutip dari laman CNN, pada awal Oktober 2020, seorang mahasiswa pascasarjana mereka berbagi cerita tentang ibunya yang memiliki rutinitas minum kopi. Ini menggambarkan dengan sempurna bagaimana pemeriksaan bau dapat digunakan sebagai alat skrining untuk infeksi COVID-19.


Suatu sore, ibunya membuat secangkir kopi seperti biasanya untuk mengetahui bahwa dirinya tidak dapat mencium aroma atau mencicipinya. Dia telah mendengar dari putrinya tentang anosmia terkait COVID-19, selanjutnya dia mencoba mencium semprotan pembersih beraroma pinus dan tidak bisa mencium baunya juga.


Mengingat anosmia yang tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan, sang ibu memutuskan untuk isolasi mandiri dan menjalani tes COVID-19 yang hasilnya positif. Dengan menganggap serius masalah kehilangan penciumannya, segera melakukan tes dan mengisolasi diri, dia dapat memutus rantai penularan sebelum virus dapat menyebar ke orang lain.

https://movieon28.com/movies/the-trip/


Menurut beberapa perkiraan, 44% hingga 77% orang dengan COVID-19 kehilangan indra penciumannya. Tetapi, banyak yang tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan indra penciuman sampai mereka secara aktif mencoba mencium sesuatu yang seharusnya memiliki bau, seperti lilin beraroma.


Sepasang ilmuwan tersebut mendorong setiap orang untuk secara aktif mencoba mencium sesuatu setiap hari. Anosmia yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan adalah gejala spesifik COVID-19. Kopi dapat digunakan sebagai alat skrining harian yang dapat dilakukan di rumah.


Kehilangan indra penciuman

Virus Corona memengaruhi indra penciuman dengan cara yang berbeda dari flu biasa. Ketika hidung tersumbat, molekul aktif bau ringan yang ditemukan di udara secara fisik tidak dapat mencapai reseptor bau di bagian atas rongga hidung.


Dengan COVID-19, hilangnya bau justru disebabkan oleh gangguan sinyal. Penelitian telah menunjukkan bahwa virus menyerang sel-sel di belakang pangkal hidung tepat di sebelah neuron penciuman. Sel-sel pendukung ini ditutupi dengan banyak reseptor ACE2 yang dieksploitasi oleh virus untuk memasuki sel, sehingga mereka sangat rentan. Jaringan ini menjadi meradang, untuk sementara mengganggu kemampuan neuron penciuman untuk memberi sinyal adanya bau.


Tidak seperti flu biasa, banyak pasien COVID-19 juga kehilangan indera perasa serta kemestesis atau kemampuan untuk merasakan sensasi rasa geli akibat karbonasi atau rasa terbakar pada cabai.


Gejala yang sangat spesifik

Anosmia yang tidak dapat dijelaskan biasanya sangat jarang terjadi pada infeksi virus lainnya, terutama jika hidung tidak tersumbat atau tersumbat. Jika seseorang kehilangan indra penciumannya, itu pertanda kemungkinan terinfeksi COVID-19.


Faktanya, analisis terbaru menunjukkan bahwa jika Anda harus memilih satu gejala saja, kehilangan bau secara mendadak mungkin menjadi satu-satunya prediktor terbaik untuk diagnosis COVID-19.


Kehilangan penciuman sangat spesifik untuk COVID-19, tetapi tidak semua orang dengan infeksi SARS-CoV-2 melaporkan kehilangan penciuman. Namun, bisa mencium sesuatu tidak berarti Anda bebas COVID-19.


Jika Anda bisa mencium bau kopi pagi ini, itu bisa menjadi hasil yang ambigu, ini mungkin berarti Anda tidak terinfeksi virus Corona, tetapi itu juga bisa berarti Anda terinfeksi virus Corona tetapi tidak mengalami kehilangan penciuman.


Meskipun menggunakan hilangnya penciuman sebagai tes COVID-19 masih jauh dari sempurna, karena pemeriksaan penciuman harian sangat spesifik dan gratis, ini bisa menjadi alat skrining yang sangat berguna.

https://movieon28.com/movies/from-beyond/