Jumat, 18 Desember 2020

Studi Ungkap Bahaya Jika Masker Bedah Dipakai Ulang

 Sebuah studi terbaru mempertegas anjuran untuk tidak memakai ulang masker bedah bekas pakai. Masker bekas tidak efektif menangkal virus Corona COVID-19.

Studi yang dimuat dalam jurnal Physics of Fluids ini menjelaskan, masker bedah tiga lapis yang baru dipakai memiliki tingkat efektivitas hingga 65 persen dalam menangkal partikel virus. Namun jika digunakan kedua kalinya, tingkat efektivitasnya turun menjadi 25 persen.


Para peneliti pun mengatakan, masker bedah bekas dapat memperlambat aliran udara, sehingga membuat orang menjadi lebih rentan menghirup partikel virus atau bakteri. Apalagi jika masker yang digunakan sudah kotor, nantinya akan kurang efektif dalam menyaring virus.


"Wajar untuk berpikir bahwa memakai masker bekas itu lebih baik daripada tidak sama sekali," kata penulis studi, Jinxiang Xi, dikutip dari New York Post.


"Namun, hasil kami menunjukkan bahwa keyakinan ini (memakai masker bekas) hanya berlaku untuk menyaring partikel yang lebih besar dari 5 mikrometer, tidak untuk partikel halus yang lebih kecil dari 2,5 mikrometer," lanjutnya.


Dijelaskan, penelitian ini menggunakan model komputer berupa orang yang sedang memakai masker bedah.


Mereka pun meneliti bagaimana cara masker dapat mempengaruhi aliran udara dan bagaimana partikel virus bisa melewati masker tersebut.


Hingga akhirnya, para peneliti menemukan, masker yang telah lama digunakan tingkat efektivitasnya akan menurun dan membuat seseorang lebih rentan menghirup aerosol ke dalam hidung.

https://nonton08.com/movies/offering/


10 Fakta Puting Payudara, Salah Satunya Punya Delapan Bentuk


 Puting payudara memiliki sejumlah fakta unik yang jarang diketahui. Biasanya para wanita mungkin hanya fokus pada area payudara secara keseluruhan. Namun tahukah kalau puting payudara bisa menjelaskan kondisi kesehatan wanita?

Setiap orang memiliki puting payudara yang berbeda-beda. Puting payudara merupakan bagian tubuh yang penting untuk diperhatikan. Untuk mengetahui kondisi kesehatan wanita, hal ini dapat dilihat dari warna dan bentuk puting payudara.


Dikutip dari Healthline, berikut fakta menarik tentang puting payudara yang perlu diketahui.


1. Ada 4 hingga 8 bentuk puting payudara

Ada berbagai bentuk puting payudara yang bisa diamati. Bentuk puting payudara bisa rata, menonjol, terbalik, atau tidak bisa diklasifikasikan.


Namun ada juga yang memiliki bentuk puting yang berbeda pada setiap payudara. Misalnya satu payudara memiliki bentuk puting menonjol dan satunya terbalik.


2. Puting payudara bukan areola

Puting payudara berada di bagian paling tengah payudara, dan terhubung ke kelenjar susu, tempat ASI diproduksi. Areola adalah area berwarna lebih gelap di sekitar puting.


3. Bentuk puting ke dalam adalah normal

Bentuk puting payudara yang masuk ke dalam memiliki fungsi sama seperti puting "biasa" yang menonjol. Puting yang membengkok cenderung hilang setelah menyusui tidak akan mengganggu proses menyusui. Stimulasi atau suhu dingin juga dapat menyebabkan puting menonjol untuk sementara.


4. Anda bisa memiliki dua puting pada satu areola

Kondisi ini disebut puting ganda dan bercabang dua. Bergantung pada sistem duktus, kedua puting susu mungkin dapat menghasilkan susu untuk bayi. Namun, saat menyusui, bayi mungkin merasa sulit untuk memasukkan keduanya ke dalam mulutnya.


5. Rambut sekitar puting memang ada

Apakah Anda pernah merasa bingung dengan benjolan kecil di sekitar puting? Itu adalah folikel rambut, yang dimiliki pria dan wanita. Tentunya, hal ini membuat tumbuh rambut di sekitar puting.


Rambut tersebut mungkin terlihat lebih gelap dan lebih keriting daripada rambut lain di tubuh. Jika Anda merasa terganggu, rambut tersebut dapat dicabut, wax, atau dicukur dengan cara yang sama seperti rambut lain.


6. Rata-rata tinggi puting seukuran dengan kepik

Dalam satu studi tahun 2009, dari 300 puting dan areola wanita, hasil menunjukkan diameter rata-rata areola 4 cm (yang sedikit lebih kecil dari bola golf), diameter puting rata-rata 1,3 cm (mirip dengan lebar, dari baterai AA), dan tinggi puting rata-rata 0,9 cm (seukuran kepik).

https://nonton08.com/movies/may-the-devil-take-you/

Kata Jubir Satgas COVID-19 soal Syarat Rapid Antigen Jelang Nataru

 Beberapa daerah menetapkan syarat rapid antigen hingga swab saat bepergian. Juru bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengimbau daerah lain untuk segera menetapkan aturan mencegah penularan Corona jelang natal dan tahun baru.

"Saat ini sudah ada beberapa daerah yang berinisiatif untuk mengeluarkan peraturan tes Corona di daerahnya masing-masing, ini terkait testing sebagai persyaratan perjalanan," kata Prof Wiku dalam konferensi pers melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden Kamis (17/12/2020).


Perencanaan ini dilakukan berdasarkan hasil koordinasi antara Kementerian Kesehatan, Satgas Penanganan COVID-19, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), Kementerian Perhubungan, hingga para pakar yang terkait sejak awal minggu ini.


Selain itu, Prof Wiku berharap masing-masing daerah lain yang belum melakukan langkah-langkah antisipasi penularan COVID-19 ini, tentunya dengan memperhatikan kondisi di lapangan dan koordinasi nasional.


Beberapa waktu lalu, menjelang libur natal dan tahun baru ini sejumlah daerah mewajibkan para pengunjung atau pendatang untuk melakukan rapid test antigen, demi mengantisipasi lonjakan kasus COVID-19. Rapid antigen merupakan jenis tes virus Corona dengan metode pengambilan sampel swab dan dinilai memiliki tingkat akurasi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan rapid test antibodi.


"Swab antigen atau rapid test antigen ini diproyeksikan untuk gantikan rapid test antibodi karena antigen ini memiliki akurasi lebih baik dibandingkan rapid test antibodi. rapid antigen ini sama cepatnya dengan sudah ada hasil," kata Erlina Burhan, dokter spesialis paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Adapun beberapa daerah yang mewajibkan rapid test antigen, yaitu:


- Bali

Gubernur Bali I Wayan Koster menyatakan para pengunjung yang akan datang ke Bali harus memiliki bukti hasil tes negatif COVID-19, baik dari hasil tes PCR atau rapid test antigen. Hasil tes minimal dua hari sebelum keberangkatan dan berlaku selama 14 hari.


- DKI Jakarta

DKI Jakarta juga disebut akan mewajibkan rapid test antigen kepada masyarakat yang hendak masuk ke ibu kota. Khususnya, bagi yang datang melalui bandara.


Hal ini tercantum dalam keterangan pers Kemenkomarves usai Rapat Koordinasi Penanganan COVID-19 di DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim dan Bali secara virtual yang dipimpin oleh Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan Senin lalu.


- Jawa Barat

Pemprov Jawa Barat pun kini sedang mengkaji bukti rapid test antigen bagi warga luar yang masuk ke Jabar saat libur panjang akhir tahun. Hal ini untuk mencegah terjadinya penambahan kasus COVID-19 saat liburan.


- Jawa Tengah

Pemprov Jawa Tengah juga menyepakati untuk mewajibkan rapid test antigen bagi pendatang yang masuk ke Jawa Tengah menggunakan transportasi umum. Hal ini diungkapkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo usai menghadiri rapat virtual persiapan transportasi menghadapi Natal dan Tahun Baru, Senin (14/12/2020).

https://nonton08.com/movies/kalung-jelangkung/


Studi Ungkap Bahaya Jika Masker Bedah Dipakai Ulang


Sebuah studi terbaru mempertegas anjuran untuk tidak memakai ulang masker bedah bekas pakai. Masker bekas tidak efektif menangkal virus Corona COVID-19.

Studi yang dimuat dalam jurnal Physics of Fluids ini menjelaskan, masker bedah tiga lapis yang baru dipakai memiliki tingkat efektivitas hingga 65 persen dalam menangkal partikel virus. Namun jika digunakan kedua kalinya, tingkat efektivitasnya turun menjadi 25 persen.


Para peneliti pun mengatakan, masker bedah bekas dapat memperlambat aliran udara, sehingga membuat orang menjadi lebih rentan menghirup partikel virus atau bakteri. Apalagi jika masker yang digunakan sudah kotor, nantinya akan kurang efektif dalam menyaring virus.


"Wajar untuk berpikir bahwa memakai masker bekas itu lebih baik daripada tidak sama sekali," kata penulis studi, Jinxiang Xi, dikutip dari New York Post.


"Namun, hasil kami menunjukkan bahwa keyakinan ini (memakai masker bekas) hanya berlaku untuk menyaring partikel yang lebih besar dari 5 mikrometer, tidak untuk partikel halus yang lebih kecil dari 2,5 mikrometer," lanjutnya.


Dijelaskan, penelitian ini menggunakan model komputer berupa orang yang sedang memakai masker bedah.


Mereka pun meneliti bagaimana cara masker dapat mempengaruhi aliran udara dan bagaimana partikel virus bisa melewati masker tersebut.


Hingga akhirnya, para peneliti menemukan, masker yang telah lama digunakan tingkat efektivitasnya akan menurun dan membuat seseorang lebih rentan menghirup aerosol ke dalam hidung.

https://nonton08.com/movies/jailangkung-3/