Jumat, 13 November 2020

RI Masuk 5 Besar Kasus COVID-19 Terbanyak di Asia, Posisi ke Berapa?

  Virus Corona COVID-19 masih mewabah di Indonesia. Hingga Minggu (8/11/2020), total kasus COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 437.716 kasus.

Berdasarkan jumlah kasus tersebut, Indonesia masih termasuk 5 besar negara dengan kasus COVID-19 tertinggi di Asia.


Dikutip dari data Worldometers, sampai hari ini jumlah kasus positif COVID-19 di Asia sudah mencapai 14.425.549 kasus. Sebanyak 12.881.124 kasus telah dinyatakan sembuh dan 255.356 kasus lainnya meninggal dunia.


Jika dilihat dari total kasus sembuh COVID-19, Indonesia kini masih berada di posisi keempat dengan 368.298 pasien telah dilaporkan sembuh. Sedangkan, total kasus sembuh tertinggi di Asia masih berada di India, yakni 7.915.660 orang.


Dari jumlah kematian COVID-19, Indonesia berada di posisi ketiga dengan 14.614 pasien meninggal dunia, tepat di bawah Iran dengan 38.291 kasus. Sementara, posisi pertama di Asia masih diduduki oleh India dengan 126.653 pasien meninggal.


1. India

Total kasus: 8.553.864

Kasus baru: 46.661

Meninggal: 126.653

Sembuh: 7.915.660


2. Iran

Total kasus: 682.486

Kasus baru: 682.486

Meninggal: 38.291

Sembuh: 520.329


3. Irak

Total kasus: 498.549

Kasus baru: 2.530

Meninggal: 11.327

Sembuh: 59.294


4. Indonesia

Total kasus: 437.716

Kasus baru: 3.880

Meninggal: 14.641

Sembuh: 368.298


5. Bangladesh

Total kasus: 420.238

Kasus baru: 2.442

Meninggal: 6.067

Sembuh: 338.145


6. Filipina

Total kasus: 396.395

Kasus baru: 2.442

Meninggal: 7.539

Sembuh: 361.638


7. Turki

Total kasus: 394.255

Kasus baru: 2.516

Meninggal: 10.887

Sembuh: 338.239


8. Saudi Arabia

Total kasus: 350.592

Kasus baru: 363

Meninggal: 5.540

Sembuh: 337.386


9. Pakistan

Total kasus: 343.189

Kasus baru: 1.436

Meninggal: 6.968

Sembuh: 318.417


10. Israel

Total kasus: 319.241

Kasus baru: 292

Meninggal: 2.674

Sembuh: 308.563

https://nonton08.com/movies/outrage/


Joe Biden Salah Ucap Soal COVID-19 AS: 230 'Juta' Warga AS Meninggal?


 Joe Biden, presiden terpilih Amerika Serikat (AS) membuat kesalahan dalam pidato terpenting di hidupnya, Sabtu malam. Ia salah menyebut jumlah orang yang meninggal akibat COVID-19 di AS.

Dikutip dari Daily Mail, kejadian ini terjadi saat pria 77 tahun naik ke panggung untuk pidato pertamanya sebagai presiden terpilih AS. Joe Biden dengan penuh semangat memberikan pidato kemenangan atas presiden terpilih AS pada ratusan pendukung di Wilmington, Delware.


"Saya harap itu dapat memberikan kenyamanan dan penghiburan bagi lebih dari 230 juta, ribu, keluarga yang telah kehilangan orang yang dicintai karena virus Corona COVID-19 yang mengerikan tahun ini," sebut Joe Biden setelah melafalkan himne.


Jumlah kematian akibat virus Corona COVID-19 saat ini di AS tercatat lebih dari 230 ribu kasus, bukan lebih dari 230 juta. Biden pun langsung memperbaiki kesalahan penyebutannya menjadi lebih dari 230 ribu.


Biden dikenal memiliki gagap dan kondisi ini sudah memengaruhinya sejak kecil.


Pernyataan Mantan Wakil Presiden ini juga sempat dinilai blunder verbal di kongres masa lalu. Namun, Biden meyakini kondisi ini tak terlalu berpengaruh dan tidak membawa beban dalam menjalankan tugas.


Cukup sehatkah Joe Biden menjalani tugas kepresidenan Amerika Serikat?

Kesiapan Joe Biden dalam menjalani tugas kepresidenan dikhawatirkan sejumlah orang karena sudah lanjut usia. Seperti yang disebutkan Richard Dupee, MD, chief of geriatrics di Tufts Medical Center, ada peningkatan risiko kesehatan yang muncul seiring bertambah usia.


"Terutama risiko penurunan kognitif," sebut Dupee.


Di atas usia 65 tahun, risiko seseorang terkena penyakit Alzheimer atau demensia vaskular meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun. Demensia memengaruhi satu dari 14 orang berusia di atas 65 tahun dan satu dari enam orang di atas 80 tahun.


Namun, Dr Kevin O'Connor dari The George Washington University menjelaskan kondisi Biden cukup sehat baik secara fisik maupun mental.


"Saraf kranial dan fungsi vestibularnya adalah normal," sebutnya.

https://nonton08.com/movies/nice-sister-in-law/

Usia Sudah 77, Seberapa Fit Joe Biden Jadi Presiden AS?

  Joe Biden menjadi presiden terpilih Amerika Serikat (AS). Pria kelahiran tahun 1942 tersebut kini berusia 77 tahun.

Dikutip dari NBC News, meskipun usianya tak lagi muda, Joe Biden dilaporkan dalam kondisi yang fit untuk menjalani tugas kepresidenan. Berdasarkan catatan medis Dr Kevin O'Connor dari The George Washington University ia dideskripsikan sehat dan kuat.


"Sehat, kuat, pria berusia 77 tahun, yang cocok untuk berhasil menjalankan tugas Kepresidenan termasuk mereka sebagai Kepala Eksekutif, Kepala Negara, dan Panglima Tertinggi," sebut Dr Kevin O Connor.


Belum ada perubahan penting yang baru dalam riwayat medis Joe Biden berdasarkan catatan medis sebelumnya saat menjabat sebagai Wakil Presiden.

https://nonton08.com/movies/obscene-a-portrait-of-barney-rosset-and-grove-press/


Biden kala itu sempat menghadapi kondisi aneurisma otak di akhir 1980-an tetapi berhasil sembuh. Kondisi Joe Biden bahkan sempat buruk oleh trombosis vena dalam emboli paru.


Obat-obatan yang dikonsumsi Joe Biden

Namun, O Connor menyatakan tidak ada ancaman serius pada kesehatan Joe Biden dan kondisinya cukup terkendali. Joe Biden mengonsumsi obat pengencer darah dan obat refluks asam, kolesterol, serta alergi musiman.


John Torres, koresponden medis NBC News, menyebut refluks asam terkadang dapat menyebabkan suara serak. Hal ini terlihat dalam beberapa kali penyampaian Biden saat kampanye.


Gaya hidup sehat Joe Biden

O Connor dokter Biden sejak 2009, menyebut Joe Biden menjalani gaya hidup sehat. Joe Biden tidak merokok, tidak minum alkohol, dan rutin berolahraga.


"Setidaknya lima hari per minggu," sebut O'Connor.


Kekhawatiran Joe Biden tak cukup sehat untuk tugas kepresidenan di usia tua

Tak sedikit yang mempertanyakan apakah Joe Biden cukup sehat untuk menjalani tugas kepresidenan secara mental atau pun fisik. Hal ini berkaitan dengan usianya yang sudah cukup tua.


Namun, O'Connor tidak menyebutkan adanya gangguan. Ia menyatakan bahwa kondisi fisik maupun mental Biden normal.


"Saraf kranial dan fungsi vestibularnya adalah normal," pungkasnya.


Risiko penurunan kognitif di usia tua

Dikutip dari Web MD, sebuah makalah akademis dari American Federation for Aging Research menyebutkan Joe Biden memiliki peluang bertahan di masa jabatan pertama 79 persen dan jabatan kedua 70 persen. Namun Richard Dupee, MD, chief of geriatrics di Tufts Medical Center menyebut tentu ada peningkatan risiko kesehatan yang muncul seiring bertambahnya usia.


"Terutama risiko penurunan kognitif," sebut Dupee.


Di atas usia 65 tahun, risiko seseorang terkena penyakit Alzheimer atau demensia vaskular meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun. Demensia memengaruhi satu dari 14 orang berusia di atas 65 tahun dan satu dari enam orang di atas 80 tahun.


"Tetapi ada hal-hal yang membuat orang berisiko, terutama untuk demensia vaskular, yang terjadi ketika tidak ada cukup darah yang masuk ke otak. Itu termasuk merokok, kelebihan berat badan, kurang olahraga, dan diabetes," lanjutnya.


"Jika ada masalah gaya hidup yang akan meningkatkan risiko demensia vaskular baginya, kami akan tahu itu. Sepertinya bukan itu masalahnya," kata Dupee menekankan.

https://nonton08.com/movies/natalie/