Rabu, 21 Oktober 2020

Tingkatan Gejala Norovirus, Disarankan Periksa Jika Muntah atau Diare

  Beberapa waktu lalu, sebanyak 70 lebih mahasiswa di universitas daerah Taiyuan, China, mengalami diare dan muntah-muntah, diduga karena infeksi norovirus.

Pakar kesehatan Profesor Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD(K), dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), mengatakan virus yang menyebabkan KLB di China tersebut juga pernah ditemukan di Indonesia.


"Virus ini (norovirus) juga ada di Indonesia seperti yang dilaporkan oleh peneliti Indonesia di jurnal internasional dari Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga," kata Prof Ari dalam rilis yang diterima detikcom.


Bagaimana tingkatan gejala infeksi norovirus?

Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari RS Awal Bros Evasari, Jakarta Timur, dr Amanda Pitarini Utari, SpPD, sama seperti penyakit yang disebabkan infeksi virus lainnya, orang yang terpapar norovirus juga bisa mengalami gejala ringan dan berat.


Umumnya orang yang terinfeksi norovirus akan mengalami gejala, seperti nyeri perut, diare, mual, dan muntah-muntah.


"Kita menilainya dari kehilangan cairannya, kalau ringan itu pasiennya masih bisa beraktivitas dan nggak sampai dehidrasi. Muntahnya nggak hebat, tapi kalau nyeri perutnya hebat, kehilangan cairannya hebat, itu berarti diarenya berat ya dehidrasinya," kata dr Amanda, Senin (19/10/2020).


Lebih lanjut, dr Amanda memberikan contoh, ketika ada pasien yang terinfeksi norovirus dan jumlah cairan tubuh yang keluar saat muntah dan diare itu lebih banyak daripada cairan yang masuk, maka itu sudah termasuk gejala berat.


"Dia sudah mencoba membuat air garam sama gula, oralit, kalau tidak bisa masuk, berarti gejala mual muntahnya cukup berat, karena sampai dia nggak bisa masuk cairan," ujarnya.


dr Amanda menyarankan, sebaiknya ketika sudah mengalami gejala berat seperti itu, maka segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

https://indomovie28.net/journey-west-surprise-2015/


Daftar 35 Wilayah RI yang Masuk Zona Risiko Sedang COVID-19


 Satgas Penanganan COVID-19 mengungkapkan data kabupaten dan kota di Indonesia yang berubah dari zona risiko rendah menjadi risiko sedang penularan virus Corona. Disebutkan, total ada 35 kabupaten dan kota.

"Kami meminta kesungguhan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjalan protokol kesehatan ketat dan tegas agar dapat kembali ke risiko yang lebih rendah di minggu-minggu ke depan," kata Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito dalam konferensi pers di YouTube Sekretariat Presiden,Selasa (20/10/2020).


Wiku pun sangat menyayangkan kenaikan zona risiko ini bisa menjadi tanda bahwa sejumlah pemerintah maupun masyarakat di sejumlah wilayah tersebut sudah mulai terlena dan merenggangkan protokol kesehatan.


"Perpindahan dari risiko rendah ke risiko yang lebih tinggi adalah tanda-tanda bahwa pemerintah daerah dan masyarakat merasa terlalu nyaman dan mulai melupakan pentingnya upaya pencegahan COVID-19," ujarnya.


Berikut 35 kabupaten-kota di Indonesia yang berubah dari zona risiko rendah menjadi risiko sedang penularan virus Corona COVID-19.


Aceh:

1. Aceh Timur


Sumatera Utara:

2. Nias Selatan


Bengkulu:

3. Bengkulu Utara


Lampung:

4. Tulang Bawang

5. Pesawaran

6. Tulang Bawang Barat


Kepulauan Bangka Belitung

7. Bangka Belitung

8. Belitung

9. Bangka Barat


Jawa Barat:

10. Bandung

11. Tasikmalaya

12. Sumedang

13. Kota Tasikmalaya


Nusa Tenggara Barat:

14. Sumbawa

15. Lombok Utara


Nusa Tenggara Timur:

16. Sumba Barat

17. Nagekeo


Kalimantan Utara:

18. Nunukan

19. Kota Tarakan


Sulawesi Tengah:

20. Tolitoli

21. Banggai Kepulauan

22. Parigi Moutong

23. Banggai Laut

24. Morowali Utara


Sulawesi Selatan:

25. Kepulauan Selayar

26. Wajo

27. Luwu


Sulawesi Tenggara:

28. Muna

29. Wakatobi

30. Kolaka Timur


Sulawesi Barat:

31. Mamuju Tengah


Maluku:

32. Seram Bagian Barat


Maluku Utara:

33. Halmahera Barat

34. Halmahera Timur


Papua:

35. Puncak Jaya

https://indomovie28.net/midnight-man-2016/

Perbedaan Virus Corona Vs Norovirus, Mana yang Lebih Berbahaya?

 Infeksi virus Corona belum selesai tertangani, tetapi dunia sudah harus berhati-hati menghadapi serangan Norovirus. Infeksi Norovirus sebenarnya pernah ditemukan di Indonesia awal tahun 2019 lalu yang laporannya dimuat dalam Jurnal of Medical Virology bulan Mei 2020.

"Dari 91 sampel feses yang diperiksa ternyata 14 sampel atau 15,4 persen mengandung norovirus. Sampel penelitian yang dilakukan awal tahun 2019 ini diambil dari beberapa rumah sakit di Kota Jambi," tulis dekan FKUI Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD(K), dalam rilis yang diterima detikcom.


Riset tentang Norovirus dilakukan Dr Juniastuti, dkk, dari Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga. Dengan adanya kasus ini, sebetulnya apa perbedaan virus Corona dan Norovirus? Mana yang lebih berbahaya?


Dikutip dari jurnal What Makes a Foodborne Virus: Comparing Coronaviruses with Human Noroviruses, virus Corona dan Norovirus sama mempengaruhi kehidupan manusia. Foodborne merujuk pada makanan yang telah tercemar bakteri atau virus yang berisiko mengganggu kesehatan manusia jika dimakan.

https://indomovie28.net/joy-2016/


Berikut perbedaan virus Corona vs Norovirus:

1. Daya tahan


Dalam jurnal yang ditulis Dan Li, dkk, tersebut, virus Corona punya daya tahan lebih lemah dibanding Norovirus. Pertahanan Norovirus lebih baik menghadapi praktik disinfektan umum.


Praktik kebersihan tersebut meliputi penggunaan alkohol, klorin, dan ultraviolet pada makanan, tangan, serta perlengkapan makan. Praktik ini biasa diterapkan sebelum makan untuk menjaga kebersihan.


2. Peluang penyebaran lewat makanan


Tulisan yang dipublikasikan lewat US National Library of Medicine National Institutes of Health ini membahas peluang virus Corona sebagai foodborne virus. Corona memang bisa bertahan di makanan dan kemasan tanpa kehilangan kemampuan infeksi.


Hasilnya, peluang penyebaran virus Corona melalui makanan (foodborne transmission) lebih rendah dibanding Norovirus. Virus Corona menyebar lewat droplet dan kemungkinan melalui udara, sehingga disarankan pakai masker sebagai upaya pencegahan.


3. Belum ada bukti penyebaran virus Corona lewat makanan


Dalam tulisan dijelaskan, infeksi virus Corona belum pernah ditemukan terkait dengan konsumsi makanan. Selain itu, virus Corona belum pernah terdeteksi lewat makanan.


Namun terkait fakta ini, Dan Li, dkk, menyatakan jangan sampai menurunkan kewaspadaan menghadapi virus Corona. Virus tersebut tergolong baru sehingga ada kemungkinan ditemukannya hal baru terkait Corona.


4. Rute penyebaran yang berbeda


Virus Corona menginfeksi sistem pernapasan berbeda dengan Norovirus yang menyerang organ pencernaan manusia. Norovirus mengikuti rute fecal-oral transmission sebelum masuk ke dalam tubuh.


Hingga saat ini belum ada bukti virus Corona mengikuti fecal-oral transmission seperti Norovirus atau foodborne virus lainnya. Rute penyebaran ini akan dijelaskan lewat temuan riset selanjutnya.


5. Virus Corona Vs Norovirus, mana yang lebih bahaya?


Infeksi virus Corona dan Norovirus sama-sama berisiko merugikan manusia meski memiliki cara yang berbeda. Virus Corona lewat sistem pernapasan, sedangkan Norovirus melalui makanan dan organ pencernaan.


Karena itu, setiap orang wajib melakukan upaya pencegahan dengan selalu menjaga kebersihan dan memperkuat sistem imun. Untuk pencegahan virus Corona, pertahanan ditambah penggunaan masker setiap hari saat beraktivitas.

https://indomovie28.net/daughter-2015/