Jumat, 16 Oktober 2020

Diet Keto Bisa Tangkal COVID-19? Deretan Mitos-Fakta Ini Kerap Bikin Pusing

 Selama pandemi Corona COVID-19 banyak informasi yang beredar di tengah masyarakat. Sering beredarnya berita tentang virus Corona COVID-19 membuat masyarakat tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah.

Informasi yang salah dan tidak akurat tentu bisa membuat masyarakat takut dan resah. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar.


Dokter spesialis gizi klinik dari departemen ilmu gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, dr Diyah Eka Andayani, SpGK, mengatakan ada beberapa informasi yang menyesatkan seputar COVID-19. Salah satunya menyebut puasa bisa mencegah terpapar Corona.


Yang benar seperti apa? Yuk, kupas satu persatu.


1. Puasa cegah terkena COVID-19? MITOS

Pernyataan tersebut hanyalah mitos. dr Diyah mengatakan memang banyak jurnal menyatakan berpuasa di masa tertentu seperti bulan ramadhan dapat meningkatkan imunitas tubuh. Tetapi belum ada penelitian spesifik yang membuktikan puasa dapat mencegah dan menyembuhkan virus Corona COVID-19.


Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperbolehkan puasa. Namun, harus menjaga pola makan saat berbuka. dr Diyah juga mengatakan sebelum berpuasa untuk memperhatikan kondisi tubuh masing-masing karena setiap individu memiliki kondisi klinis yang berbeda-beda.


"Khawatir saat kita nggak jaga pola makan, bukannya meningkatkan sistem imun tetapi malah menurunkan sistem imun karena salah pilih makan," ucap dr Diyah saat siaran langsung di Instagram pada Kamis (15/10/2020).


2. Diet keto bisa melawan COVID-19? MITOS

Diet ketofastosis adalah diet yang menggabungkan diet ketogenik (rendah karbohidrat tinggi lemak) dengan fastosis (fasting on ketosis, tidak makan di waktu tertentu). Belum ada penelitian lebih lanjut yang merekomendasikan untuk melakukan diet ketofastosis sebagai langkah melawan virus COVID-19.


dr Diyah mengatakan bahwa memang ada jurnal yang membuktikan diet ketofastosis berdampak mengaktifkan autofagi yang sangat penting bagi kelangsungan hidup sel dan menjaga sel tetap sehat. Namun, jurnal tersebut menguji pada hewan dan harus diadakan penelitian lebih lanjut untuk menguji manusia.


3. Obesitas berisiko terkena COVID-19? FAKTA

dr Diyah mengatakan sudah banyak jurnal-jurnal yang membuktikan bahwa peningkatan berat badan yang berlebihan akan berisiko terkena COVID-19. dr Diyah menyarankan untuk lebih memperhatikan lagi kenaikan berat badan dan pastikan kenaikan dalam batas wajar atau normal.

https://nonton08.com/escape-from-pleasure-planet/


Berbulan-bulan 'Puasa' Nonton, Begini Rasanya Masuk Bioskop Lagi


Bioskop kembali dibuka di tengah pandemi COVID-19 yang seolah tak berkesudahan. Di DKI Jakarta, penonton dalam satu studio dibatasi hanya 25 persen saja.

Tidak hanya di Jakarta, bioskop di Bandung juga sudah kembali dibuka. Beberapa orang ada yang langsung mencoba nonton bioskop dan merasa aman-aman saja.


Seperti salah satunya, Pinky Rebecca Agustina, seorang warga Bandung yang bersama temannya sudah mulai menonton bioskop. Ia mengaku tak khawatir tertular Corona.


"Nggak ada alasan sih, memang sudah kangen saja nonton dengan suasana bioskop. Selama pandemi kan cuman nonton di handphone. Beda saja rasanya gitu," ucapnya kepada detikcom.


Pinky merasa aman dari Corona karena sudah menjalankan protokol yang diterapkan di dalam bioskop. Menurutnya protokol di bioskop sangat ketat.


"Sekarang tinggal kesadaran penontonnya. Karena nggak mungkin akan berhasil kalau hanya 1 pihak yang patuh. Tapi keduanya juga harus sama-sama patuh protokol kesehatan," jelasnya.

https://nonton08.com/bajaj-bajuri-the-movie/

Antibiotik untuk Sakit Gigi, Ini Jenis dan Efeknya

 - Infeksi gigi, atau gigi yang abses, umumnya terjadi akibat kerusakan gigi dan kebersihan mulut yang buruk. Namun, bisa juga karena perawatan gigi sebelumnya.

Ketika infeksi terjadi, menyebabkan kantong nanah terbentuk di mulut sebagai akibat dari pertumbuhan bakteri yang berlebihan. Infeksi ini sering menyebabkan pembengkakan, nyeri, dan kepekaan di area tersebut.


Tanpa pengobatan, infeksi dapat menyebar ke area lain di rahang atau bahkan otak. Siapa pun yang mengalami infeksi gigi harus segera ke dokter gigi untuk mencegah penyebaran infeksi.


Salah satu hal pertama yang kemungkinan besar akan direkomendasikan oleh dokter gigi adalah antibiotik. Beberapa antibiotik untuk sakit gigi bekerja lebih baik daripada yang lain untuk infeksi gigi.


Dokter gigi cenderung menghindari pemberian antibiotik kecuali jika infeksinya parah atau jika seseorang memiliki sistem kekebalan yang lemah.


Jenis antibiotik untuk sakit gigi dan dosisnya dilansir medicalnewstoday:

Meskipun antibiotik dapat membantu menyembuhkan sakit gigi, penting untuk menggunakan antibiotik yang sesuai. Jenis antibiotik yang direkomendasikan dokter gigi akan bervariasi tergantung pada bakteri penyebab infeksi.


Hal ini karena antibiotik yang berbeda bekerja dengan cara berbeda.

Sebuah studi di Jurnal Kedokteran Gigi mencatat, ada lebih dari 150 jenis bakteri berbeda yang muncul di mulut. Bakteri ini berpotensi tumbuh dan menyebabkan infeksi.



1. Penicillin

Obat jenis Penicillin adalah bentuk antibiotik umum untuk infeksi gigi. Jenis ini termasuk amoxicillin.


Beberapa dokter gigi mungkin juga merekomendasikan amoxicillin dengan asam klavulanat. Karena kombinasi tersebut dapat membantu menghilangkan lebih banyak bakteri yang membandel.


Dosis umum amoxicillin untuk infeksi gigi adalah 500 miligram (mg) setiap 8 jam atau 1.000 mg setiap 12 jam.

https://nonton08.com/yellow-flower/


Dosis umum amoxicillin dengan asam klavulanat adalah sekitar 500-2.000 mg setiap 8 jam atau 2.000 mg setiap 12 jam, tergantung pada dosis efektif minimum.


Namun, beberapa bakteri mungkin menolak obat ini, membuatnya kurang efektif. Faktanya, banyak dokter sekarang memilih antibiotik lain sebagai pengobatan pertama mereka.


Beberapa orang juga alergi terhadap obat ini. Siapapun yang memiliki reaksi alergi terhadap obat serupa harus memberi tahu dokter gigi mereka sebelum menerima rekomendasi perawatan mereka.


2. Clindamycin


Clindamycin efektif melawan berbagai macam bakteri penyebab infeksi. Sebuah studi di International Dental Journal mencatat, beberapa peneliti merekomendasikan Clindamycin sebagai obat pilihan untuk mengobati infeksi gigi.


Karena bakteri mungkin lebih kecil kemungkinannya untuk melawan obat ini daripada obat kelas penisilin.


Dosis umum Clindamycin adalah 300 mg atau 600 mg setiap 8 jam, tergantung pada dosis mana yang efektif.


3. Azithromycin

Azithromycin bekerja melawan berbagai macam bakteri dan menghentikan pertumbuhannya. Obat antibiotik sakit gigi ini mungkin efektif dalam mengobati beberapa infeksi gigi.


Meskipun dokter gigi mungkin hanya merekomendasikannya kepada orang yang alergi terhadap obat kelas penisilin atau yang tidak meresponsnya atau obat lain seperti klindamisin.


Dosis umum Azithromycin adalah 500 mg setiap 24 jam selama 3 hari berturut-turut.


4. Metronidazole

Metronidazole adalah antibiotik yang digunakan dokter dan dokter gigi untuk mengobati sejumlah infeksi. Namun, obat ini mungkin tidak cocok untuk semua orang dan biasanya bukan pilihan pengobatan pertama.


Dosis untuk metronidazole adalah sekitar 500-750 mg setiap 8 jam.



Lama waktu yang dibutuhkan setiap antibiotik sakit gigi https://www.detik.com/tag/sakit-gigi untuk bekerja bervariasi. Hal ini bergantung pada banyak faktor, seperti tingkat keparahan infeksi dan seberapa efektif obat tersebut menghilangkan bakteri penyebab infeksi.


Penting bagi orang-orang untuk meminum semua obat antibiotik yang diresepkan dokter gigi untuk meminumnya. Meskipun seseorang mungkin mulai menyadari gejalanya hilang setelah beberapa dosis, menyelesaikan antibiotik lengkap membantu mencegah infeksi kembali.


Namun patut diingat Anda tak boleh sembarangan minum antibiotik untuk mengatasi sakit gigi. Penggunaan antibiotik untuk sakit gigi yang tidak tepat justru bisa membuat infeksi jadi sulit disembuhkan karena muncul kekebalan pada obat tersebut.

https://nonton08.com/the-devils-feast/