Sabtu, 20 Juni 2020

China dan India Memanas, Begini Perbandingan Kekuatan Militer Kedua Negara

Hubungan China dan India memanas seiring bentrok yang baru terjadi. Bagaimana peta kekuatan militer kedua negara dengan penduduk paling besar di dunia itu?

Bentrok antara militer India dan China terjadi beberapa hari lalu, yang dilaporkan menyebabkan 20 anggota tentara India meninggal dunia. Bentrokan tersebut tidak menggunakan senjata api, melainkan saling serang memakai batu dan beda lain.

Kedua negara ini diketahui sudah lama terlibat konflik perbatasan di kawasan Himalaya.

Berbicara soal kekuatan militer, China dan India masuk dalam daftar negara dengan kekuatan paling besar. Menurut catatan globalfirepower.au, China menjadi salah satu negara dengan tentara aktif terbesar di dunia untuk tahun 2020 dengan total mencapai angka 2,1 juta orang. Sementara India, Amerika Serikat, Korea Utara, dan Rusia berada di posisi 5 besar.

Dalam hal jumlah belanja militer, China ada di posisi dua dan hanya kalah dari Amerika Serikat. Sementara India berada di posisi tiga.

Bagaimana dengan sebaran kekuatan militer udara kedua negara?

China saat ini memiliki 3.210 pesawat terbang militer. Unggul jauh dibanding India yang 'cuma' punya 2.123 armada udara. Menurut catatan Global Firepower, China punya pesawat tempur dan pesawat pencegat dua kali lebih banyak dari India.

Untuk menunjang pasukan udara, China memiliki 507 bandar udara yang bisa dimanfaatkan. Sedangkan India memiliki 346 bandara.

Di darat, China kalah unggul dari India dalam hal pemilikan jumlah tank dengan perbandingan 3.500:4.292 Tapi jika dihitung secara keseluruhan, kekuatan darat China jauh lebih dominan. China memiliki 46.550 kendaraan tempur darat, sementara India hanya punya 17.539.

China juga tercatat memiliki 2.650 peluncur roket, unggul telak dari India yang jumlahnya cuma punya 266.

Dominasi China atas India juga terjadi di laut. China memiliki 777 aset militer di laut, berbanding 286 yang dipunya India. Itu termasuk perbandingan 74:16 kapal selam yang dipunya kedua negara.

Terakhir, kedua negara sama-sama punya peluncur misil jarak jauh. Prithvi-1 milik India mampu mencapai sasaran sejauh 150 km, sementara Prithvi-2 bisa membidik target sampai jarak 250 km.

China? Mereka punya beragam balistik dengan jarak tempuh pendek sampai antarbenua, yang disebut Intercontinental Ballistic Missiles, dan sempat membuat Amerika Serikat serta banyak negara lain waswas.

China Rilis Tipe Corona di Beijing, Mirip dengan Strain Eropa

China merilis urutan gen virus COVID-19 dari pasar grosir Xinfadi, Beijing. Dari hasil penelusuran epidemiologis, tipe virus Corona di Beijing mirip dengan strain yang ditemukan di Eropa.
Zhang Yong, asisten direktur Institute of Viral Diseases di CDC China, mengatakan hasil penelitian awal menunjukkan bahwa virus tersebut berasal dari Eropa, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan strain Eropa.

Informasi yang diterbitkan di situs Pusat Data Mikrobiologi Nasional China pada hari Jumat (19/6/2020) menunjukkan data berasal dari dua pasien yang dikonfirmasi dan satu sampel lingkungan setempat.

"Jumlah besar sampel yang ditemukan di pasar grosir menunjukkan virus telah ada selama beberapa waktu. Jika baru saja tiba di kota mungkin tidak akan begitu banyak kasus positif yang ditemukan, kami memerlukan lebih banyak data sebelum membuat keputusan tentang asal usulnya," kata Zhang dikutip dari CGTN.

Jenis strainnya juga dikirimkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pihaknya menyebut otoritas China sangat cepat dalam upaya mencegah hal tersebut terkendali. Menggarisbawahi pentingnya deteksi cepat, investigasi dan pelacakan kluster.
https://cinemamovie28.com/cast/alberto-costa/

Jumat, 19 Juni 2020

Update Corona di Indonesia 19 Juni: 43.803 Positif, 17.349 Sembuh, 2.373 Meninggal

 Jumlah kasus virus Corona COVID-19 di Indonesia terus meningkat. Hingga Jumat (19/6/2020), akumulasi kasus positif telah mencapai 43.803 orang.
Sementara itu, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh telah mencapai 17.349 dan yang meninggal menjadi 2.373.

Berikut ini detail perkembangan kasus virus Corona di Indonesia pada Jumat (19/6/2020):

1. Jumlah kasus positif bertambah 1.041 menjadi 43.803.
2. Jumlah pasien sembuh bertambah 551 menjadi 17.349.
3. Jumlah pasien meninggal dunia bertambah 34 menjadi 2.373.

Data tersebut merupakan akumulasi yang tercatat hingga pukul 12.00 WIB hari ini.

Sebelumnya pada Kamis (18/6/2020), jumlah akumulatif kasus positif berada di angka 42.762 dengan 16.798 di antaranya sembuh dan 2.339 meninggal.

Antibodi Cuma Bertahan 2-3 Bulan, Mungkinkah Kebal Corona Setelah Sembuh?

 Menurut sebuah studi yang diterbitkan di Nature Medicine, antibodi virus Corona COVID-19 hanya bisa bertahan dua sampai tiga bulan setelah seseorang terinfeksi.
Sebelumnya, para ilmuwan memeriksa dan membandingkan 37 orang tanpa gejala (OTG) dengan 37 orang dengan gejala di Distrik Wanzhou, China. Menurut penelitian tersebut, orang tanpa gejala memiliki respons antibodi yang lebih lemah daripada yang memiliki gejala.

Dalam delapan minggu, peneliti menemukan terjadi penurunan antibodi atau kekebalan pada 81 persen pasien OTG, lebih banyak dibandingkan pasien bergejala dengan persentase 62 persen. Selain itu, peneliti menemukan ada 40 persen OTG yang antibodinya tidak terdeteksi, jauh lebih tinggi daripada pasien bergejala yang hanya 12,9 persen.

Meski penelitiannya masih kecil, para peneliti mencatat ini bisa mendorong pemimpin dunia untuk mempertimbangkan lagi keberadaan paspor imunitas. Beberapa negara sudah mempertimbangkan penerbitan paspor atau sertifikat bebas risiko COVID-19, pada orang yang memiliki antibodi terhadap virus tersebut. Ini menentukan siapa saja yang boleh beraktivitas normal setelah sembuh dari COVID-19.

Dikutip dari CNBC, para ilmuwan masih terus mempelajari aspek dari virus tersebut, termasuk bagaimana sistem kekebalan tubuh merespon virus saat seseorang terpapar. Tetapi, mereka masih tidak yakin berapa lama kekebalan itu akan bertahan, jika antibodi sudah memberikan perlindungan.

Antibodi berfungsi untuk membantu tubuh melawan infeksi dan merespon partikel asing atau antigen yang masuk ke tubuh. Sementara vaksin bekerja dengan menginduksi sistem kekebalan untuk menghasilkan molekul-molekul ini.

Namun, para pejabat di bidang kesehatan mengatakan belum ada data yang cukup untuk menunjukkan antibodi virus Corona ini bisa kebal terhadap virus. Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, mengungkapkan vaksin mungkin tidak memberikan kekebalan jangka panjang jika COVID-19 berperilaku seperti virus Corona lainnya.

"Saat melihat sejarah virus Corona yang umumnya menyebabkan flu, daya tahan kekebalan yang bertugas melindungi hanya bertahan hampir selalu kurang dari setahun. Itu tidak memberikan banyak perlindungan terhadap tubuh," kata Fauci.