Minggu, 14 Juni 2020

China Dinilai Sulit Balas Dendam Lewat Apple

Tekanan terus menerus yang dihadapi Huawei dari pemerintah Amerika Serikat membuat China ingin melakukan perhitungan. Apple yang banyak bergantung ke Negeri Tirai Bambu kemungkinan jadi sasaran, tapi hal itu dinilai sulit dilakukan.
Dikutip detikINET dari CNBC, itu karena Apple punya hubungan baik dengan Beijing. Selain itu melalui mitra manufaktur seperti Foxconn, Apple membuka ratusan ribu lapangan pekerjaan. Jika Apple dilumpuhkan, akibatnya bagi ekonomi China pun bisa runyam.

Seperti diberitakan sebelumnya, media pemerintah China, Global Times, bahkan memberitakan terang-terangan bahwa sasaran China adalah Apple. Disebutkan bahwa perusahaan AS seperti Apple akan diinvestigasi dan akan mendapat pembatasan tertentu.

Dikatakan bahwa Apple dan juga perusahaan teknologi lain semacam Qualcomm dan Cisco sangat bergantung pada pasar China. Perusahaan-perusahaan AS itu akan terus diperiksa. Akan tetapi bisa jadi hal itu hanya gertakan.

Pasalnya jika terjadi apa-apa, Apple bisa saja merelokasi pabrik ke negara seperti Vietnam atau India. Tahun silam, Apple sudah uji coba produksi Airpods di Vietnam. Mereka juga pernah menyarankan para pemasok komponen memindahkan 15 sampai 30% produksi dari China ke Asia Tenggara.

"China sudah merasakan ancaman di mana perusahaan semacam Apple ingin mendiversifikasi basis manufakturnya," kata Neil Shah, Direktur Riset Counterpoint Research.

"Jadi akan runyam jika China menyasar Apple dan juga secara tidak langsung Foxconn, karena malah akan mempercepat perpindahan manufaktur keluar China," tambahnya.

"Apple punya kontribusi besar sekali secara langsung ataupun tidak langsung kepada ekonomi China. Jadi Beijing akan berpikir dua kali sebelum mengincar Apple," pungkas Shah.

Terpopuler Sepekan: Benarkah Golongan Darah O Lebih 'Kebal' Corona?

Heboh sebuah studi menyebut golongan darah O lebih aman dari infeksi Virus Corona COVID-19. Studi ini dilakukan oleh sebuah perusahaan bioteknologi 23andMe di California, Amerika Serikat.

Sebelumnya memang terdapat sebuah studi dari China yang mengatakan golongan darah A lebih rentan terinfeksi COVID-19, sedangkan golongan darah O memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit ini.

Namun, hasil penelitian tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya, karena studi ini masihlah temuan awal. Dalam studi itu dijelaskan 206 pasien yang meninggal terkait Corona di Wuhan, 85 di antaranya memiliki golongan darah A.

Menariknya, pada studi yang dilakukan oleh perusahaan bioteknologi 23andMe juga ditemukan hasil yang sama. Dikatakan, seseorang yang memiliki golongan darah O, 9-18 persen lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi virus Corona.

Namun, sayangnya penelitian ini juga masih dalam tahap temuan awal. Sehingga belum bisa dibuktikan kebenarannya dan membutuhkan penelitian yang lebih lanjut.

"Ini masih hasil awal, bahkan dengan ukuran sampel ini mungkin tidak cukup untuk menemukan asosiasi genetik. Kami pun bukan satu-satunya pihak yang meneliti hal ini. Pada akhirnya, para pakar ilmiah yang mungkin perlu mengumpulkan sumber dayanya untuk menjawab kaitan genetik dengan COVID-19 ini," kata Adam Auton, peneliti utama dalam penelitian ini, dikutip dari South China Morning Post.
https://indomovie28.net/boruto-episode-110-subtitle-indonesia/

Samsung Jadi Penyelamat Chip Buatan Huawei?

Setelah pesanan chipnya ditolak Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), nasib chip buatan Huawei tampaknya bakal diselamatkan oleh Samsung. Begini penjelasannya.
TSMC terpaksa menolak pesanan chip HiSilicon itu karena pemerintah Amerika Serikat menerapkan aturan impor baru, yang melarang perusahaan pengguna mesin dan teknologi buatan AS untuk berbisnis dengan Huawei, sekalipun perusahaan tersebut bukan asal AS.

Padahal anak usaha Huawei yang bernama HiSilicon bergantung pada TSMC untuk memproduksi chipnya, termasuk chip bermacam seri chip Kirin yang dipakai di ponsel buatan Huawei, dan tentunya chip yang dipakai di berbagai perangkat jaringan mereka.

Untungnya, Samsung tak seperti TSMC, mereka punya sejumlah lini produksi yang memakai teknologi pembuat chip dari Jepang dan Eropa untuk memproduksi chip 7nm, demikian dikutip detikINET dari Phone Arena, Minggu (14/6/2020).

Saat ini Samsung dan Huawei dikabarkan tengah berdiskusi untuk membicarakan kemungkinan pembuatan chip untuk perangkat jaringan 5G buatan Huawei. Saat ini Huawei memang sudah punya kontrak untuk memproduksi 600 ribu BTS 5G yang menggunakan chip HiSilicon yang seharusnya dibuat oleh TSMC.

Tak cuma Samsung, Huawei pun disebut sudah menyerahkan sejumlah pesanan chipnya ke SMIC, perusahaan pembuat chip asal China. Namun sayangnya teknologi pembuatan chip buatan SMIC masih tertahan di 14nm, jauh dari TSMC.

SMIC berencana meningkatkan untuk meningkatkan kemampuan produksinya ke chip 7nm pada akhir 2020 ini. Namun untuk mewujudkan rencana itu mereka juga harus mendapat lisensi dari AS.

China Dinilai Sulit Balas Dendam Lewat Apple

Tekanan terus menerus yang dihadapi Huawei dari pemerintah Amerika Serikat membuat China ingin melakukan perhitungan. Apple yang banyak bergantung ke Negeri Tirai Bambu kemungkinan jadi sasaran, tapi hal itu dinilai sulit dilakukan.
Dikutip detikINET dari CNBC, itu karena Apple punya hubungan baik dengan Beijing. Selain itu melalui mitra manufaktur seperti Foxconn, Apple membuka ratusan ribu lapangan pekerjaan. Jika Apple dilumpuhkan, akibatnya bagi ekonomi China pun bisa runyam.

Seperti diberitakan sebelumnya, media pemerintah China, Global Times, bahkan memberitakan terang-terangan bahwa sasaran China adalah Apple. Disebutkan bahwa perusahaan AS seperti Apple akan diinvestigasi dan akan mendapat pembatasan tertentu.

Dikatakan bahwa Apple dan juga perusahaan teknologi lain semacam Qualcomm dan Cisco sangat bergantung pada pasar China. Perusahaan-perusahaan AS itu akan terus diperiksa. Akan tetapi bisa jadi hal itu hanya gertakan.

Pasalnya jika terjadi apa-apa, Apple bisa saja merelokasi pabrik ke negara seperti Vietnam atau India. Tahun silam, Apple sudah uji coba produksi Airpods di Vietnam. Mereka juga pernah menyarankan para pemasok komponen memindahkan 15 sampai 30% produksi dari China ke Asia Tenggara.

"China sudah merasakan ancaman di mana perusahaan semacam Apple ingin mendiversifikasi basis manufakturnya," kata Neil Shah, Direktur Riset Counterpoint Research.

"Jadi akan runyam jika China menyasar Apple dan juga secara tidak langsung Foxconn, karena malah akan mempercepat perpindahan manufaktur keluar China," tambahnya.

"Apple punya kontribusi besar sekali secara langsung ataupun tidak langsung kepada ekonomi China. Jadi Beijing akan berpikir dua kali sebelum mengincar Apple," pungkas Shah.