Sabtu, 09 Mei 2020

Studi: Obat Pengencer Darah Bantu Kesembuhan Pasien Covid-19

 Studi terbaru menunjukkan obat pengencer darah dapat membantu menyelamatkan pasien infeksi virus corona (Covid-19) bergejala parah.

Studi ini dilakukan oleh tim dokter di Mount Sinai Hospital, New York. Laporan hasil studi baru saja dipublikasikan di Journal of American College of Cardiology.

Sejak Maret lalu, tim dokter mengamati perkembangan 2.700 pasien Covid-19 di Mount Sinai. Sebagian pasien diberi obat pengencer darah. Obat pengencer darah adalah obat yang mencegah darah menggumpal atau disebut juga dengan antikoagulan.


Tim dokter mendapati obat tersebut memberikan pengaruh positif, terutama bagi pasien Covid-19 yang menggunakan ventilator untuk bernapas.

Secara rinci, 71 persen pasien berventilator yang diberikan obat pengencer darah memiliki perkembangan penyakit yang baik. Sebanyak 29 persen meninggal dunia.

Jumlah pasien yang membaik dengan obat pengencer darah ini lebih tinggi ketimbang pasien yang tidak mengonsumsi obat pengencer darah. Sebanyak 63 persen pasien berventilator yang tidak diberi obat pengencer darah meninggal dunia

"Temuan kami menunjukkan bahwa antikoagulan sistemik dapat dikaitkan dengan peningkatan hasil di antara pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit," tulis tim dokter dalam laporan mereka, dikutip dari CNN.

Tim dokter juga tidak menemukan efek samping dari obat pengencer, misalnya masalah perdarahan pada pasien Covid-19.

Temuan lainnya adalah tim dokter mendapati pembekuan darah merupakan faktor utama dalam kematian pasien Covid-19.

"Kami telah melakukan 75 autopsi dan pembekuan adalah masalah, tidak perlu dipertanyakan. Itu dimulai dengan paru-paru, diikuti oleh ginjal, jantung, dan berakhir di otak," kata direktur Mount Sinai Heart, Valentin Fuster kepada CNN.

Belum diketahui secara pasti mengapa virus corona menyebabkan darah menggumpal. Namun, pembekuan darah umumnya merupakan efek samping dari peradangan yang disebabkan oleh sejumlah infeksi.

Selanjutnya, tim dokter masih perlu melakukan sejumlah Langkah untuk mengetahui dosis yang tepat dan obat pengencer darah yang paling baik. Sebelumnya, dokter memberikan dosis dan jenis obat pengencer darah secara acak.

Fuster menyarankan agar dokter yang menangani pasien Covid-19 dapat mencoba opsi memberikan obat pengencer darah.

"Para pasien yang menerima antikoagulan lebih baik daripada mereka yang tidak. Ini sudah memiliki implikasi," ucap Fuster.

9 Poin Saat Mobil Parkir Lama di Rumah

Masyarakat diimbau berdiam di rumah saat pandemi corona (Covid-19) di Indonesia meluas. Hal ini menyebabkan kendaraan pribadi terparkir lama karena tidak bisa digunakan.

Aftersales Division Head Auto2000 Ricky Martawijaya mengatakan ada beberapa hal yang harus dipahami jika mobil parkir dalam waktu lama. Jangan anggap enteng karena dampaknya membuat mobil rusak bahkan menjadi sarang hewan seperti laba-laba dan semut.

Berikut ini tips aman mobil parkir lama di rumah.

Paling aman parkir di dalam garasi yang memiliki atap. Dengan begitu, mobil dapat terhindar dari paparan panas matahari secara langsung yang bisa membuat cat mobil memudar.

Ketiadaan atap juga membuat mobil terkena hujan. Lambat laun akan timbul water spot atau kerap disebut jamur kaca atau jamur bodi akibat noda bekas air hujan yang mengering karena tidak dibersihkan dan menyebabkan mobil tidak sedap dipandang.

Air hujan juga bisa menyelinap di sela-sela bodi mobil seperti dudukan pelat nomor, gril, handle pintu dan tutup tangki bensin, dan celah antara pintu dan bodi mobil. Selain kotor, air yang masuk lewat celah pintu bisa meninggalkan bau tidak sedap jika tak dibersihkan.

Cuci Bodi dan Interior Mobil

Meski tidak digunakan, mobil tetap bisa kotor oleh debu atau air hujan. Solusinya cuci mobil minimal seminggu sekali. Tidak hanya luar, bagian dalam juga harus dibersihkan. Manfaatkan vacuum cleaner untuk membersihkan debu, terutama bagian kolong kabin. Keluarkan karpet dan cuci hingga bersih.

Wanita Inggris Klaim Minum Sperma untuk Cegah Corona

Upaya menangkal virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) memang bisa ditempuh dengan pelbagai cara. Mulai dari yang umum yakni mempraktikkan hidup bersih dan sehat termasuk mencuci tangan hingga, langkah di luar kelaziman. Harus diakui, ada saja orang yang mencoba cara yang, sebetulnya pun tak masuk daftar saran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Tracy Kiss, ibu sekaligus personal trainer asal Inggris, mengaku mengonsumsi sperma pasangannya untuk mencegah infeksi virus corona (Covid-19).

"Saya menemukan metode alternatif bebas biaya dan ramah vegan untuk meningkatkan sistem imun. Anda tak selalu tahu apa yang dikandung obat-obatan kimia. Ini jauh lebih baik buat tubuh karena minum sesuatu yang tidak mengandung bahan kimia," terang Tracy Kiss seperti dikutip dari Metro.


Kiss mencampurkan sperma pasangannya ke dalam racikan smoothie yang biasanya terdiri dari aneka jenis berry dan pisang. Sperma yang paling baik dikonsumsi, kata dia, adalah sperma yang 'segar dari asalnya'. Namun tak jarang dia pun menyimpannya dalam freezer.

Dia meyakini konsumsi sperma bisa menghindarkan dirinya dari virus corona. Langkah ini pun ia barengi dengan gaya hidup sehat dan suplemen yang membantu daya tahan tubuh.

Sejak 2017 menyisipkan sperma dalam asupannya, Tracy Kiss mengaku tidak pernah terkena infeksi flu. Bahkan kulitnya pun jadi lebih bersih karenanya.

"Konsumsi sperma itu enggak ada bedanya dengan konsumsi madu dan air lemon saat Anda radang tenggorokan. Ini hanya terapi lain tapi bebas biaya. Anda pun tak harus punya pasangan, minta saja pada teman pria yang Anda rasa sehat," imbuh dia lagi.
Apa yang dilakukan Kiss terdengar tabu. Namun jika dilihat dari komposisinya, sperma memang mengandung beberapa nutrisi penting buat tubuh. Mengutip dari Healthline, sperma mengandung protein, zinc, fruktosa, sodium, lemak, kolesterol dan vitamin B12.

Dalam sebuah tinjauan pada 2013, ditemukan rata-rata kandungan protein pada sperma sebanyak 5,04 miligram per 100 mililiter sperma. Karena sekali ejakulasi mampu memproduksi 5 mililiter sperma, maka rata-rata protein dalam sekali ejakulasi sebanyak 252 miligram.

Studi: Obat Pengencer Darah Bantu Kesembuhan Pasien Covid-19

 Studi terbaru menunjukkan obat pengencer darah dapat membantu menyelamatkan pasien infeksi virus corona (Covid-19) bergejala parah.

Studi ini dilakukan oleh tim dokter di Mount Sinai Hospital, New York. Laporan hasil studi baru saja dipublikasikan di Journal of American College of Cardiology.

Sejak Maret lalu, tim dokter mengamati perkembangan 2.700 pasien Covid-19 di Mount Sinai. Sebagian pasien diberi obat pengencer darah. Obat pengencer darah adalah obat yang mencegah darah menggumpal atau disebut juga dengan antikoagulan.


Tim dokter mendapati obat tersebut memberikan pengaruh positif, terutama bagi pasien Covid-19 yang menggunakan ventilator untuk bernapas.

Secara rinci, 71 persen pasien berventilator yang diberikan obat pengencer darah memiliki perkembangan penyakit yang baik. Sebanyak 29 persen meninggal dunia.

Jumlah pasien yang membaik dengan obat pengencer darah ini lebih tinggi ketimbang pasien yang tidak mengonsumsi obat pengencer darah. Sebanyak 63 persen pasien berventilator yang tidak diberi obat pengencer darah meninggal dunia

"Temuan kami menunjukkan bahwa antikoagulan sistemik dapat dikaitkan dengan peningkatan hasil di antara pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit," tulis tim dokter dalam laporan mereka, dikutip dari CNN.

Tim dokter juga tidak menemukan efek samping dari obat pengencer, misalnya masalah perdarahan pada pasien Covid-19.