Minggu, 26 April 2020

Stay At Home, Waktunya Jalin Komunikasi dengan Anak

Pemerintah saat ini mengimbau masyarakat untuk stay at home atau diam di rumah guna menghindari penyebaran virus corona COVID-19 yang semakin meluas. Di tengah imbauan ini, peran orang tua sangat penting untuk menjaga agar anak terhindar dari kebosanan.
Ahli perlindungan anak, Astrid Gonzaga Dionisio, dari United Nations Children's Fund (UNICEF) Indonesia menyarankan momen stay at home sebagai ajang bagi orang tua untuk menjalin komunikasi yang baik dengan anak di tengah pandemi corona. Kesibukan sehari-hari kadang membuat komunikasi yang buruk antara orang tua dan anak.

"Salah satu contohnya, tentu kita lihat realitas di Jakarta. Bapak Ibu yang bekerja harus berangkat pagi pulang malam, anak kita sudah tidur mungkin kita pulang, anak kita belum bangun sebelum kita berangkat. Stay home saat ini merupakan satu kesempatan untuk kita menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak kita dan dengan keluarga kita," ujar Astrid di Graha BNPB, Kamis (2/4/2020).

Banyak sisi positif dari stay at home yang dapat dimanfaatkan pada situasi saat ini. Selain mencegah penularan virus corona COVID-19, stay at home ini bisa menjalin kekompakan orang tua dan anak dengan cara melakukan kegiatan bersama.

"Mungkin ini saatnya di mana keluarga bisa ngobrol bersama tidak dibatasi oleh gadgetnya, bisa melakukan kegiatan bersama, membangun satu teamwork bersama, bisa makan bersama, dan bisa beribadah bersama," kata Astrid.

Namun Astrid menegaskan stay at home ini juga bisa jadi tantangan bagi para orang tua dalam mengurus anak. Ia juga menyarankan agar orang tua membuat situasi stay at home menyenangkan dan tidak membuat anak merasa bosan di rumah.

Melayat Jenazah PDP Virus Corona Tetap Tak Diajurkan, Ini Sebabnya

Beberapa waktu lalu, viral video warga Sulawesi Tenggara yang membawa pulang kerabatnya yang meninggal dengan status PDP (Pasien dalam Pengawasan) virus corona COVID-19. Dalam video yang beredar tersebut, keluarga tidak terima jika kerabat mereka harus menjalani penguburan layaknya pasien virus corona.
Selain itu, terlihat banyak masyarakat sekitar yang ikut melayat jenazah PDP. Apakah aman melayat jika status pasien belum positif virus corona?

"Sudah ada anjuran, kalau ada jenazah positif Covid-19 ataupun masih PDP, tetap saja kewaspadaan harus dilakukan. Sebaiknya yang melayat pun membatasi diri," ujar Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr Ede Surya Darmawan, SKM, MDM, di konferensi pers IAKMI, Kamis (2/4/2020).

Meski status pasien PDP bahkan ODP, menurut Ede, bisa saja hasil akhir pemeriksaan laboratorium menunjukkan positif virus corona. Sehingga lebih baik menahan diri untuk tidak melayat untuk keselamatan bersama.

"Kalau sudah selesai semua kita bisa bertemu kembali. Jadi menahan diri lebih baik untuk keselamatan bersama. Sebab begitu kita melayat dan kita terkena, di rumah pun akan kena (Covid-19) semua," jelasnya.

Saat ini, penanganan jenazah bagi pasien PDP juga prosedurnya yang menangani tetap harus menggunakan alat pelindung diri (APD), memakai masker N95, dan topi. Jenazahnya dibungkus dengan plastik dan tidak boleh dibuka kembali kecuali untuk autopsi.

Viral Jenazah Pasien Corona Ditolak Warga, Ini Aturan Pemakaman Versi WHO

 Penolakan terhadap jenazah pasien virus corona COVID-19 terjadi di sejumlah tempat. Di Banyumas misalnya, makam sampai harus dipindahkan karena ditolak warga.
Kepala Desa Karang Tengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Karyoto, menjelaskan bahwa penolakan terjadi karena warga merasa dibohongi. Petugas yang memakamkan tidak menyampaikan informasi dan pemberitahuan ke desa.

"Tahu-tahu tadi malam itu listrik mati, apakah sengaja dimatikan atau tidak, kami tidak tahu yang jam 7 itu (19.00 WIB). Kemudian setelah itu datang dua ambulans dan enam mobil dinas lainnya," katanya.

Penolakan tersebut mendapat kecaman karena dinilai tidak manusiawi. Bupati Banyumas, Achmad Husein, sampai harus menyampaikan maaf soal itu.

"Saya juga mohon maaf kepada seluruh warga masyarakat Banyumas, atas kejadian pemakaman pada hari ini (Rabu, 1 April 2020)," katanya.

Sebenarnya, bagaimana sih prosedur pemakaman jenazah pasien dengan penyakit menular seperti virus corona COVID-19?

Dikutip dari laman organisasi kesehatan dunia WHO, berikut beberapa aturannya.

Pemakaman yang digunakan harus 30 m dari sumber air tanah yang digunakan untuk air minum.
Kedalaman tanah setidaknya 1,5 m di atas permukaan.
Air dari tanah kuburan tidak boleh masuk ke wilayah penduduk.
Lakukan tindakan pencegahan universal saat bersentuhan dengan darah dan cairan tubuh.
Gunakan sarung tangan sekali pakai saja dan buang.
Menggunakan kantong jenazah.
Mencuci tangan dengan sabun setelah menyentuh tubuh jenazah dan cuci tangan sebelum makan.
Menyemprotkan desinfektan pada kendaraan dan peralatan yang digunakan jenazah.
Tidak perlu untuk mendisinfeksi tubuh sebelum menguburkan mayat (kecuali dalam kasus kolera).

Stay At Home, Waktunya Jalin Komunikasi dengan Anak

Pemerintah saat ini mengimbau masyarakat untuk stay at home atau diam di rumah guna menghindari penyebaran virus corona COVID-19 yang semakin meluas. Di tengah imbauan ini, peran orang tua sangat penting untuk menjaga agar anak terhindar dari kebosanan.
Ahli perlindungan anak, Astrid Gonzaga Dionisio, dari United Nations Children's Fund (UNICEF) Indonesia menyarankan momen stay at home sebagai ajang bagi orang tua untuk menjalin komunikasi yang baik dengan anak di tengah pandemi corona. Kesibukan sehari-hari kadang membuat komunikasi yang buruk antara orang tua dan anak.

"Salah satu contohnya, tentu kita lihat realitas di Jakarta. Bapak Ibu yang bekerja harus berangkat pagi pulang malam, anak kita sudah tidur mungkin kita pulang, anak kita belum bangun sebelum kita berangkat. Stay home saat ini merupakan satu kesempatan untuk kita menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak kita dan dengan keluarga kita," ujar Astrid di Graha BNPB, Kamis (2/4/2020).

Banyak sisi positif dari stay at home yang dapat dimanfaatkan pada situasi saat ini. Selain mencegah penularan virus corona COVID-19, stay at home ini bisa menjalin kekompakan orang tua dan anak dengan cara melakukan kegiatan bersama.

"Mungkin ini saatnya di mana keluarga bisa ngobrol bersama tidak dibatasi oleh gadgetnya, bisa melakukan kegiatan bersama, membangun satu teamwork bersama, bisa makan bersama, dan bisa beribadah bersama," kata Astrid.

Namun Astrid menegaskan stay at home ini juga bisa jadi tantangan bagi para orang tua dalam mengurus anak. Ia juga menyarankan agar orang tua membuat situasi stay at home menyenangkan dan tidak membuat anak merasa bosan di rumah.