Minggu, 19 April 2020

Bosan dengan Laut Biru, Pantai di Sini Berair Hitam

Mungkin tak banyak yang tau tentang Seruyan. Dulu wilayah ini bagian dari Kotawaringin Timur yang berpusat di Sampit tapi kemudian mekar menjadi Kabupaten Seruyan pada 2002.
Warga Sampit yang ingin berlibur ke pantai, pilihanya adalah Pantai Ujung Pandaran atau Pantai Sei Bakau di Kabupaten Seruyan. Untuk menuju Sei Bakau dapat melewati Jalan HM Arsyad yang merupakan jalan poros Sampit-Kuala Pembuang.

Di tengah perjalanan menuju Sei Bakau, traveler akan melewati Desa Kalap, pemandangan padang ilalang nan indah jadi suguhannya. Namun di balik keindahanya terdapat mitos bahwa daerah ini merupakan sebuah kerajaan gaib.

Sehingga siapapun yang melintas diharapkan tidak melakukan perbuatan atau mengucap perkataan yang bertentangan dengan norma jika tidak ingin terjadi malapetaka. Di tengah perjalanan menuju Sei Bakau, akan ada gerombolan kera yang berharap diberi makan pengunjung yang melintas.

Kera-kera tersebut sudah familiar dengan mobil yang melintasi daerah ini. Karena, setiap ada mobil yang menghentikan lajunya, gerombolan kera tersebut langsung mendekat dan siap berebut makanan yang dilemparkan dari dalam mobil.

Walau kera ini nampak jinak, tapi jangan coba-coba untuk keluar dari dalam mobil. Konon kera di sini bukanlah kera sembarangan.

Setelah melewati kawasan gerombolan kera, traveler akan tiba di Sei Bakau. Disebut Pantai Sei Bakau karena pantai ini adalah muara sei atau sungai yang dikelilingi tumbuhan bakau.

Untuk masuk ke kawasan wisata Pantai Sei Bakau dikenakan biaya Rp 5.000. Dahan cemara seolah mengucapkan selamat datang kepada travelers yang berkunjung.

Deru ombak yang di Pantai Sei Bakau tak berbahaya karena sudah dipecah. Terdapat sejumlah gazebo yang disediakan bagi pengunjung untuk melepas lelah sambil menikmati deburan ombak Laut Jawa.

Karena terletak di muara sungai gambut maka jangan heran jika melihat air lautnya sangat keruh dan hitam. Tidak ada pemandangan laut biru di sini.

Di Pantai Sei Bakau terdapat jembatan kayu ulin yang menjorok ke laut. Jembatan yang dibuat pada tahun 2018 ini menjadi ikon pantai dan wajib dikunjungi saat berkunjung.

Sabtu Ini, Kenali Situs Warisan Dunia dari Indonesia

 Tepat hari Sabtu ini merupakan peringatan Hari Warisan Dunia. Walau dari rumah, mari kita kenali situs warisan dunia dari Indonesia yang diakui UNESCO.
Mungkin tak tak banyak yang tahu, kalau 18 April 2020 ini dimaknai sebagai Hari Warisan Dunia. Untuk itu, pihak UNESCO Jakarta pun mengajak traveler untuk lebih menghargai peninggalan bersejarah dunia dari tanah air.

Lewat unggahan di laman Instagram resminya, pihak UNESCO Jakarta menghadirkan kelas whatsapp dengan tema "Mengenal Situs Warisan Dunia: Kisah Para Pengelola" pada 18 - 22 April 2020 atau akhir pekan ini.

Di kelas tersebut traveler bisa langsung bertemu dengan para beberapa pengelola Situs Warisan Dunia, sehingga dapat memahami apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat mengunjungi Situs Warisan Dunia.⁣

Termasuk juga mempelajari aspek-aspek filosofis Situs Warisan Dunia yang dapat dimanfaatkan untuk edukasi. ⁣Tak hanya itu, traveler juga bisa langsung bertanya dan berinteraksi dengan mereka. Seru!

Tak ketinggalan, traveler bisa mengetahui apa dampak pandemi COVID-19 pada kegiatan pengelolaan Situs Warisan Dunia, serta materi daring apa saja yang bisa diakses publik untuk belajar atau bahkan berkunjung secara virtual ke Situs Warisan Dunia selama kita #dirumahsaja⁣⁣.

Adapun jadwalnya antara lain:
Situs Manusia Purba Sangiran oleh Iwan Setiawan Bimas⁣⁣
(Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran)⁣⁣

Sabtu, 18 April 2020⁣⁣
Jam 16:00 - 18:00 WIB⁣⁣
⁣⁣


Situs Warisan Dunia Borobudur oleh Hari Setyawan
(Balai Konservasi Borobudur)⁣⁣

Minggu, 19 April 2020⁣⁣
Jam 19:00 - 21:00 WIB⁣⁣


⁣⁣
Warisan Budaya Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto oleh Rahmat Gino Sea Games
(Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto)⁣⁣
Senin, 20 April 2020⁣⁣
Jam 09:00 - 11:00 WIB⁣⁣

Situs Warisan Dunia Prambanan oleh Manggar Sari Ayuati dan Wahyu Kristanto
(Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta)⁣⁣
(Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah)⁣⁣

Selasa, 21 April 2020⁣⁣
Jam 10:00 - 12:00 WIB⁣⁣
⁣⁣


Lanskap Budaya Provinsi Bali: Sistem Subak sebagai Manifestasi Filosofi Tri Hita Karana oleh Ni Komang Aniek Purniti⁣⁣
(Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali)⁣⁣

Rabu, 22 April 2020⁣⁣
Jam 09:00 - 11:00 WIB⁣⁣
⁣⁣
Kelas ini terbuka untuk umum dan gratis. ⁣⁣Traveler yang telah terdaftar akan mendapat pulsa gratis dan jika beruntung menjadi penanya terpilih akan menerima hadiah buku tentang Situs Warisan Dunia dari narasumber terkait.

Namun, peserta dari kelas ini dibatasi hanya untuk 70 peserta saja. Mari kita mengenal Situs Warisan Dunia dari Indonesia di rumah saja. Tentunya sebelum datang ke lokasinya langsung usai pandemi corona.

Stres di Rumah? Coba Peluk Pohon Besar Selama 5 Menit

Banyak orang yang jadi stres karena kelamaan berdiam di rumah saat ini akibat Corona. Ada berbagai tips mengurangi stres. Namun tips yang satu ini agak nyeleneh.
Layanan kehutanan Islandia menyarankan warga untuk memeluk pohon selama 5 menit setiap harinya agar tidak terlalu bete sering di rumah. Mungkin tipsnya terlalu aneh tapi menurut penelitian memeluk pohon akan membuat orang merasa lebih tenang.

Seperti dikutip Lonely Planet, bagian yang paling sulit dalam masa #jagajarakdulu dan isolasi mandiri adalah pemisahan orang secara fisik. Selama masa lockdown, orang jadi jarang berpelukan. Kita pun merindukan sentuhan fisik, terutama mereka yang harus karantina sendiri.

Sebagai gantinya, Traveler bisa mengganti pelukan orang itu dengan berpelukan dengan pohon, terutama pohon besar. "Saat anda memeluk pohon, anda akan merasakan sesuatu mulai dari jari kaki, kemudian naik ke atas kaki, dada dan ke kepala," ujar Manajer Hutan untuk Islandia Utara Þór Þorfinnsson.

"Hal itu akan memberikan sensasi relaks, dan anda akan siap menghadapi hari yang baru dan tantangan baru," imbuhnya.

Memang hasil penelitian memperlihatkan pohon memiliki tenaga penyembuh. Orang Jepang suka melakukan ritual mandi pohon atau shinrin-yoku yang sudah menjadi tradisi serta menjadi program nasional kesehatan Jepang sejak 1982.

Dengan memeluk pohon, badan dan pikiran Anda akan menyatu dengan alam. Dokter di seluruh dunia pun sudah menyarankan hal ini untuk mengurangi stres dan memperbaiki kualitas kesehatan. Salah satu bagian atau senyawa dari pohon yang berperan adalah fitonsida yang memiliki efek psikologis menurunkan level stres. Jadi kalau ada pohon besar di rumah, ayo coba peluk selama 5 menit setiap hari traveler!

Bosan dengan Laut Biru, Pantai di Sini Berair Hitam

Mungkin tak banyak yang tau tentang Seruyan. Dulu wilayah ini bagian dari Kotawaringin Timur yang berpusat di Sampit tapi kemudian mekar menjadi Kabupaten Seruyan pada 2002.
Warga Sampit yang ingin berlibur ke pantai, pilihanya adalah Pantai Ujung Pandaran atau Pantai Sei Bakau di Kabupaten Seruyan. Untuk menuju Sei Bakau dapat melewati Jalan HM Arsyad yang merupakan jalan poros Sampit-Kuala Pembuang.

Di tengah perjalanan menuju Sei Bakau, traveler akan melewati Desa Kalap, pemandangan padang ilalang nan indah jadi suguhannya. Namun di balik keindahanya terdapat mitos bahwa daerah ini merupakan sebuah kerajaan gaib.

Sehingga siapapun yang melintas diharapkan tidak melakukan perbuatan atau mengucap perkataan yang bertentangan dengan norma jika tidak ingin terjadi malapetaka. Di tengah perjalanan menuju Sei Bakau, akan ada gerombolan kera yang berharap diberi makan pengunjung yang melintas.

Kera-kera tersebut sudah familiar dengan mobil yang melintasi daerah ini. Karena, setiap ada mobil yang menghentikan lajunya, gerombolan kera tersebut langsung mendekat dan siap berebut makanan yang dilemparkan dari dalam mobil.

Walau kera ini nampak jinak, tapi jangan coba-coba untuk keluar dari dalam mobil. Konon kera di sini bukanlah kera sembarangan.

Setelah melewati kawasan gerombolan kera, traveler akan tiba di Sei Bakau. Disebut Pantai Sei Bakau karena pantai ini adalah muara sei atau sungai yang dikelilingi tumbuhan bakau.

Untuk masuk ke kawasan wisata Pantai Sei Bakau dikenakan biaya Rp 5.000. Dahan cemara seolah mengucapkan selamat datang kepada travelers yang berkunjung.

Deru ombak yang di Pantai Sei Bakau tak berbahaya karena sudah dipecah. Terdapat sejumlah gazebo yang disediakan bagi pengunjung untuk melepas lelah sambil menikmati deburan ombak Laut Jawa.

Karena terletak di muara sungai gambut maka jangan heran jika melihat air lautnya sangat keruh dan hitam. Tidak ada pemandangan laut biru di sini.

Di Pantai Sei Bakau terdapat jembatan kayu ulin yang menjorok ke laut. Jembatan yang dibuat pada tahun 2018 ini menjadi ikon pantai dan wajib dikunjungi saat berkunjung.