Jumat, 17 April 2020

Trump Setop Duit ke WHO, Bill Gates Malah Tambah Dana Corona

Melinda Gates kembali menyuarakan kritiknya pada presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait keputusannya menghentikan pendanaan untuk WHO. Sebaliknya, dia dan Bill Gates menambah dana segar untuk penanganan Corona.
Ia menyebut langkah Trump berbahaya dan tak masuk akal di saat dunia saat ini mengalami krisis kesehatan terkait pandemi corona. Istri Bill Gates yang aktif di yayasan The Bill & Melinda Gates Foundation ini juga mengumumkan tambahan donasi dana USD 150 juta untuk mempercepat pengembangan vaksin dan perawatan pada penderita COVID-19, sehingga total sumbangan jadi USD 250 juta.

"Menghentikan dana ke WHO benar-benar tidak masuk akal dalam sebuah pandemi. Kita membutuhkan respons global yang terkoordinasi," sebutnya, dikutip detikINET dari Reuters, Jumat (17/4/2020).

Ia menyebut WHO merupakan organisasi yang sungguh dapat menangani pandemi semacam ini. Melinda pun berharap dalam krisis seperti sekarang, semua pihak dapat mengulurkan bantuan.

Yayasan Bill Gates sendiri menyumbangkan dana sangat besar bagi WHO, hanya kalah dari negaranya sendiri. Melinda mengatakan pengurangan dana ke WHO akan sangat sulit ditalangi pihak lain.

Adapun dana tambahan dari Bill Gates dan istri, selain dikucurkan buat mendukung pembuatan obat virus Corona, juga untuk menolong negara-negara miskin yang terdampak besar, misalnya bertambahnya kemiskinan.

"Sungguh kita sebagai komunitas global perlu melihat apa yang sekarang baru permulaan di negara-negara Afrika dan Asia Selatan. Kami melihat kebutuhan sangat besar dan itulah mengapa kami melipatgandakan komitmen kami," ujar ibu 3 anak itu.

Pandemi semacam ini membuat orang miskin paling menderita. "Kita perlu memastikan hal-hal seperti transfer uang tunai dilakukan dan mereka punya akses ke perawatan kesehatan," tandasnya.

Pekerja Kantoran WFH, Jasa Logistik Sektor Ini Lesu

Pandemi virus Corona (COVID-19) membuat penyedia jasa logistik kebanjiran order, khususnya untuk mengantarkan produk pangan ke pelanggan karena dibatasinya kegiatan di luar rumah. Namun tidak semua pengusaha logistik diuntungkan imbas virus Corona.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Mohamad Feriadi mengatakan, jasa logistik yang biasa mengantar kebutuhan perkantoran atau pertokoan harus gigit jari karena banyak yang tutup.

"Pemain yang banyak andalkan, menangani pelanggan korporat atau pelanggan ke konter-konter, mereka cenderung akan terjadi penurunan. Kenapa bisa terjadi? kita tahu banyak industri sudah mulai tutup, banyak toko, bisnis yang sekarang mulai shutdown, pekerjanya mulai work from home sehingga kalau produksi turun otomatis distribusinya turun," kata dia dalam diskusi online melalui saluran YouTube, Jumat (17/4/2020).

Hal itu diamini oleh Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita. Menurutnya pengusaha logistik yang model bisnisnya melayani korporasi atau biasa disebut business to business (B2B), tertekan oleh pandemi COVID-19.

"Kalau dampaknya ke B2B, memang dampaknya ke B2B drop-nya memang sangat tinggi, karena hampir semua orang fokusnya penuhi kebutuhan pangan. Sandang papan dan lain-lain jadi opsional," jelasnya.

Jadi meskipun jasa logistik untuk mengantarkan kebutuhan pangan masyarakat meningkat, secara umum pertumbuhan industri logistik minus akibat virus Corona.

"Lima tahun terakhir growth-nya logistik itu kira-kira 10-15%. Sejak COVID-19 sudah minus, growth-nya minus," tambahnya.

Ada Militer AS di Balik Perusahaan yang Bikin Vaksin Corona

Perusahaan Inovio yang sedang membuat vaksin virus Corona punya banyak keunikan. Pendananya selain Bill Gates adalah militer AS yang perhatian soal senjata biologi. Siapa sangka...

Inovio Pharmaceuticals menarik perhatian publik di tengah pandemi virus Corona. Mereka mengumumkan siap melakukan uji vaksin Corona pada manusia pada bulan April. Sahamnya pun melambung tinggi.

Menurut Crunchbase, Inovio didirikan tahun 1983 oleh J Joseph Kim di Pennsylvania, Amerika Serikat. Perusahaan ini bergerak di bidang bioteknologi, farmasi, layanan kesehatan dan therapeutic.

Inovio punya 5 pendana besar yang menggelontorkan uang supaya mereka bisa melakukan riset terkait virus. Uniknya, di antara mereka ada 2 pendana dari pihak militer AS yang perhatian dengan senjata biologi.

Dihimpun detikInet dari berbagai sumber, Jumat (17/4/2020) inilah 5 pendana Inovio:

1. Bill and Mellinda Gates Foundation
Inovio diketahui memiliki sejumlah pendana besar yang menggelontorkan uang supaya mereka membuat penelitian soal virus Corona. Pada 12 Maret 2020, Inovio mengumumkan mendapat dana USD 5 juta (Rp 77,4 miliar) dari Bill and Mellinda Gates Foundation.

Bill and Melinda Gates Foundation adalah yayasan milik Co-founder Microsoft, Bill Gates dan istrinya yang mendukung program terkait pendidikan, kesehatan dunia dan komunitas. San Diego Union Tribune pada 12 Maret 2020 memberitakan kalau Inovio dapat gelontoran dana ini untuk melakukan uji dan produksi vaksin virus Corona.

2. Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI)
Inovio mendapatkan dana USD 9 juta (Rp 139,4 miliar) dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) pada 25 Januari 2020. Dilihat detikInet dari situs resminya, CEPI adalah LSM internasional di bidang kesehatan, khususnya epidemi yang didirikan pemerintah Norwegia, India, Bill & Melinda Gates Foundation, Wellcome Trust, dan World Economic Forum.

Jadi Bill Gates membantu Inovio dengan 2 pintu, lewat yayasannya sendiri dan lewat CEPI. Pada 30 Januari 2020, San Diego Bussines Journal memberitakan CEPI mendanai Inovio untuk mengembangkan vaksin virus Corona.

3. Korea Investment Partners (KIP)Inovio juga punya pendana dari Korea Investment Partners (KIP). Pada 6 Agustus 2019, Inovio mengumumkan mendapat pendanaan sebesar USD 15 juta (Rp 232,3 miliar).

KIP adalah perusahaan investasi global yang berbasis di Seoul, Korea Selatan. Diberitakan Pharmiweb, situs berita farmasi global pada 6 Agustus 2019, Inovio didanai untuk melakukan riset terkait Human papillomavirus (HPV). Saat itu memang masih jauh dari ancaman virus Corona.

4. Defense Threat Reduction Agency (DTRA)
Nah, dua pendana lnovio berikutnya lebih unik lagi. Siapa sangka kalau Inovio juga memiliki 2 pendana dari pihak militer Amerika Serikat. Mundur ke 14 Juni 2019, Inovio mendapatkan dana USD 8,1 juta (Rp 125,4 miliar) dari Defense Threat Reduction Agency (DTRA).

DTRA adalah badan militer Amerika untuk melawan ancaman senjata pemusnah massal termasuk senjata kimia, biologi, radiologi, nuklir dan peledak tinggi. Diberitakan Philadelphia Business Journal, DTRA mendanai Inovio untuk membuat alat untuk memasukan vaksin lewat kulit bernama Cellectra 3PSP.

5. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA)
Inovio juga pendana militer AS lainnya. beberapa tahun silam, tepatnya 22 September 2015, ternyata didanai sebesar USD 45 juta (Rp 697,05 miliar) oleh Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA).

DARPA adalah badan militer Amerika yang mendanai banyak lembaga untuk tujuan pertahanan. DARPA secara terbuka dalam publikasi menyambut HUT ke-60 mengungkapkan perhatian terhadap ancaman senjata biologi.

Nah terkait gelontoran uang ini, rilis pers dari Inovio tertanggal 21 September 2015 yang diakses detikInet, menjelaskan tujuan DARPA adalah supaya Inovio mengembangkan obat untuk virus Ebola.

Keterlibatan 2 badan militer AS mendanai Inovio adalah beberapa tahun sebelum wabah virus Corona. Pendanaannya pun untuk program lain yaitu terkait virus Ebola dan alat vaksin lewat kulit. Tidak diketahui apa ada keterlibatan 2 lembaga ini dengan Inovio terkait pandemi COVID-19. Namun tentunya informasi ini menarik, melihat gerak kilat Inovio sekarang untuk menciptakan vaksin Corona yang makin mendekati kenyataan.