Rabu, 15 April 2020

Mainan Seks Laris Manis di Tengah Lockdown Pandemi Corona

Di beberapa negara, mainan seks mulai banyak dicari. Ahli menyebut kemungkinan karena orang-orang ingin mencoba hal baru di tengah lockdown karena pandemi virus Corona COVID-19.
Dikutip dari Reuters, para penjual mainan seks di Kolombia mengalami peningkatan permintaan bahkan sampai 140 persen. Penjual di Denmark dan Inggris juga melaporkan hal yang sama meski angka kenaikannya bervariasi.

"Orang-orang sekarang punya lebih banyak waktu di rumah. Ada yang bersama pasangan atau sendiri, dan mereka membutuhkan sesuatu untuk bersenang-senang mengisi waktu luangnya," kata salah satu penjual mainan seks, Gerson Monje.

Ahli psikologi Dr Carolina Guzman mengatakan kemungkinan mainan seks dicari karena dapat membantu menghilangkan kebosanan di masa sulit ini. Aktivitas seks jadi hal yang disarankan karena bisa menjaga imun tubuh dengan menjauhkan stres.

"Jadi ini waktu yang tepat bagi mereka memuaskan keingintahuannya dan memahami bahwa penggunaan produk-produk tersebut adalah hal yang baik," kata Dr Carolina.

Positif Virus Corona, Wanita Ini Melahirkan dalam Keadaan Koma

Seorang wanita dengan virus Corona COVID-19 berhasil melahirkan seorang anak, meski ia sedang mengalami koma.
Dikutip dari Mirror, wanita itu bernama Angela Primachenko asal Vancouver, Amerika Serikat (AS). Di saat usia kehamilannya yang sudah mencapai 33 minggu, ia dinyatakan positif terinfeksi virus Corona dan harus menggunakan ventilator.

Wanita berusia 27 tahun itu dinyatakan positif virus Corona pada 24 Maret kemarin, setelah mengalami gejala demam yang tinggi. Dalam waktu delapan hari dirawat di Legacy Salmon Creek Medical Center, Angela mengalami peningkatan gejala dan ia pun terbujur koma.

Dokter yang merawat Angela kemudian memutuskan untuk melakukan tindakan induksi atau proses stimulasi untuk merangsang kontraksi rahim sebelum kontraksi alami terjadi. Ini dilakukan mengingat Angela sudah hamil tua dan tindakan ini bertujuan untuk menyelamatkan dirinya dan anak yang dikandungnya.

"Jelas tidak ada yang menyangka bahwa saya akan sakit (COVID-19), jadi tidak, sama sekali tidak, dan saya tidak berharap akan melahirkan anak pada saat itu," kata Angela.

"Setelah semua perawatan dan pengobatan aku terbangun dan tiba-tiba aku tidak lagi memiliki perut (hamil) dan itu sangat mengejutkan," lanjutnya.

Setelah dilakukan pengecekan, bayinya yang bernama Ava menunjukkan hasil negatif virus Corona. Angela pun harus menunggu sampai ia dinyatakan sembuh agar diperbolehkan menemui buah hatinya yang baru saja lahir.

Pasutri Perlu Tahu, Ini Durasi Seks yang Diinginkan Wanita Saat Bercinta

Saat bercinta, setiap wanita memiliki harapan tersendiri tentang berapa lama waktu yang mereka inginkan ketika berhubungan seks dengan pasangan.
Sebuah studi yang dilakukan oleh perusahaan asal Australia menunjukkan rata-rata durasi seks ideal yang diinginkan oleh wanita berusia 45-54 tahun adalah 16,7 menit. Sedangkan pada rentang usia 36-44 tahun yaitu 16,12 menit.

Bahkan sebanyak 78,3 persen wanita pada studi tersebut mengatakan bahwa mereka sangat peduli terhadap lamanya durasi saat bercinta.

Namun tak perlu khawatir, karena masalah durasi saat bercinta bisa diatasi dengan baik. Berikut ini adalah tips dari seorang dokter umum bernama Dr Clare Morrison, agar kamu bisa bertahan lebih lama di atas ranjang saat bercinta, seperti dikutip dari Daily Star.

1. Teknik mulai-berhenti
Ketika kamu merasa akan ejakulasi, Clare menyarankan untuk berhenti sesaat. Tak perlu terlalu lama, biarkan berhenti selama 30-60 detik hingga kamu merasa sudah bisa memegang kendali dan memutuskan untuk melanjutkan stimulasi.

2. Pakai kondom yang tebal
Meski dapat mengurangi sensasi nikmat saat bercinta, menggunakan kondom yang tebal terbukti bisa menurunkan sensitivitas pada penis. Ini berfungsi untuk membuatmu bisa bertahan lama saat bercinta.

Marak Rapid Test Corona Mandiri, Bolehkah Dilakukan Sendiri?

 Wabah virus Corona yang tak mereda di Indonesia membuat banyak masyarakat menjadi parno (paranoid) atas status kesehatan mereka. Bahkan banyak yang akhirnya membeli rapid test yang dijual di lapak online untuk mengetes diri mereka, yang ternyata lebih banyak dampak negatifnya.
Seperti yang diketahui, rapid test adalah screening awal untuk melihat ada atau tidaknya antibodi yang terbentuk setelah terpapar virus, dalam hal ini COVID-19. Caranya adalah dengan mengecek sampel darah yang diambil di ujung jari.

Meski prosedurnya terlihat mudah, namun tidak semua orang bisa mengecek sendiri. Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Prof Amin Soebandrio mengatakan yang harus melakukan prosedur rapid test adalah petugas kesehatan.

"Sebaiknya yang melakukan itu adalah petugas kesehatan karena mereka akan mencatat orang ini tinggalnya di mana, hasilnya apa. Kalau negatif berarti harus diulang lagi dalam beberapa hari kemudian untuk memastikan. Kalau positif diuji kembali dengan PCR (Polymerase Chain Reaction)," katanya kepada detikcom melalui sambungan telepon, Rabu (15/4/2020).

Belum lagi jika kit rapid test yang dibeli tidak diakui kualitasnya. Hasil false negatif tentunya akan lebih besar.

"Harus memastikan kit yang dibeli kualitasnya diakui karena banyak sekali kit yang ditawarkan, lebih dari 10 merek, tidak semuanya di approve di negaranya sendiri. Sebab banyak yang hanya berupaya menghasilkan kit untuk dijual," terangnya.

Hal ini senada dengan penjelasan Kepala BNPB (Badan Nasional Penganggulangan Bencana) Doni Monardo yang menyebut meski pemerintah telah mendistribusi 500 ribu unit alat rapid test, tidak semuanya negatif. Maka dari itu saat ini pemerintah lebih mendatangkan test PCR. Bahkan ada kit rapid test yang didatangkan di Indonesia tetapi ditolak negara lain.

"Jadi tetap kita lakukan rapid test ini. Hanya memang perlu konsekuensi. Biasanya tidak cukup satu kali untuk rapid test ini. Dan juga beberapa ada yang diperiksa dengan rapid test itu negatif, setelah diperiksa dengan PCR positif. Ada juga sebaliknya, ketika diperiksa menggunakan rapid test hasilnya positif, ketika diperiksa oleh PCR negatif. Jadi ini juga menjadi persoalan," papar Doni.

Mainan Seks Laris Manis di Tengah Lockdown Pandemi Corona

Di beberapa negara, mainan seks mulai banyak dicari. Ahli menyebut kemungkinan karena orang-orang ingin mencoba hal baru di tengah lockdown karena pandemi virus Corona COVID-19.
Dikutip dari Reuters, para penjual mainan seks di Kolombia mengalami peningkatan permintaan bahkan sampai 140 persen. Penjual di Denmark dan Inggris juga melaporkan hal yang sama meski angka kenaikannya bervariasi.

"Orang-orang sekarang punya lebih banyak waktu di rumah. Ada yang bersama pasangan atau sendiri, dan mereka membutuhkan sesuatu untuk bersenang-senang mengisi waktu luangnya," kata salah satu penjual mainan seks, Gerson Monje.

Ahli psikologi Dr Carolina Guzman mengatakan kemungkinan mainan seks dicari karena dapat membantu menghilangkan kebosanan di masa sulit ini. Aktivitas seks jadi hal yang disarankan karena bisa menjaga imun tubuh dengan menjauhkan stres.

"Jadi ini waktu yang tepat bagi mereka memuaskan keingintahuannya dan memahami bahwa penggunaan produk-produk tersebut adalah hal yang baik," kata Dr Carolina.