Selasa, 07 April 2020

Mengenal Paus Pembunuh yang Muncul di Anambas

Paus pembunuh atau orca muncul di Perairan Anambas. Jadi fenomena langka di Indonesia, yuk kenali orca lebih dekat.

Orca atau paus pembunuh memiliki nama latin Ornicus Orca. Hewan ini bukanlah ikan apalagi paus. Orca adalah mamalia keluarga lumba-lumba.

Nama paus yang diberikan sebenarnya memiliki kisah. Konon, ketika masa perburuan paus di Australia, orca membantu manusia.

Orca bisa dengan mudah menemukan paus-paus lain. Sehingga orca diberi julukan whale killer atau pembunuh paus. Namun julukan tersebut malah berubah menjadi killer whale atau paus pembunuh.

Mamalia ini hidup bergerombol hingga 40 ekor. Orca sangat suka berburu. Makanan utama mereka adalah ikan, gurita, cumi-cumi hingga burung laut. Mereka hanya memakan binatang yang berukuran lebih kecil.

Namun jangan salah, orca memiliki tubuh yang besar dan gigi panjang yang tajam. Menjadi predator tingkat satu, orca mampu untuk menyerang hiu putih atau white shark yang ganas.

Meski demikian, belum pernah ada sejarah yang mencatat bahwa orca memangsa manusia. Karena sejatinya orca adalah lumba-lumba.

Habitat hidup orca dimulai dari tempat yang sangat dingin seperti kutub sampai perairan hangat. Ini mengapa kemunculan orca di Anambas bisa terjadi, walau sangat langka.

"Migrasi orca tidak mengikuti pola musim. Ketika migrasi orca menggunakan sonar untuk memancarkan gelombang akustik yang dimilikinya untuk memandunya mencari mangsa dan menuju lokasi yang ditujunya," ujar Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan,Badan Riset & SDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Penjalaran gelombang akustik di kolom massa air laut sangatlah tergantung oleh suhu laut dan densitas massa air laut. Densitas massa air laut dipengaruhi dari konsentrasi partikel-partikel yang terlarut di dalam air laut tersebut, seperti kadar garam dan konsentrasi terlarut lainnya.

"Ketika ada suatu anomali massa air laut, maka kecepatan penjalaran gelombang akustik yang dipancarkan oleh orca juga bisa terganggu atau terbelokkan sehingga orca pun tersesat," tambahnya.

Sonar navigasi orca juga bisa dipengaruhi oleh faktor ekstrem lainnya seperti sinyal seismik yang digunakan oleh manusia dalam survei mencari potensi sumber-sumber minyak di bawah dasar laut. Percobaan-percobaan militer atau ledakan di bawah air juga bisa menghasilkan sinyal akustik ekstrim.

Ketika Social Distancing Telah Sampai di Kutub Utara

Pandemi Corona membuat dunia jadi berbeda. Banyak negara gunakan kebijakan karantina, bahkan Kutub Utara kena dampaknya.

Polastren adalah kapal milik Jerman yang melakukan ekspedisi penelitian ke Kutub Utara. Melintasi Samudera Arktik, kapal ini melakukan perjalanan selama setahun mulai dari September 2019.

Namun wabah pandemi Corona mengubah semuanya. Serangkaian jadwal penerbangan di bulan April untuk pergantian kru kapal harus ditunda.

"Tak ada cara untuk melakukan rotasi kru lewat penerbangan. Ini akan berdampak pada ekspedisi kami," ujar Markus Rex, seorang ilmuwan atmosfer dari Alfred Wegener Institute Helmholtz Center untuk penelitian kutub dan laut.

Rotasi kru pertama terjadi di akhir tahun. Kemudian dilakukan lagi pada awal Maret. Namun untuk bulan April rasanya akan sangat sulit.

Kru yang selesai tugas dikirim pulang lewat Norwegia. Mereka bisa pulang dengan izin khusus dari pemerintah setempat. Selain karena Corona, penundaan rotasi juga dikarenakan adanya cuaca buruk.

Salah seorang dari peneliti dinyatakan positif Corona dan dikarantina di Jerman. Sehingga serangkaian penerbangan survey ditangguhkan oleh pemerintah Norwegia, selaku negara perbatasan. Kebijakan ini ditujukan untuk memerangi penyebaran Corona di Kutub Utara.

Penanganan Corona Terbaik Jatuh pada Taiwan (2)

Politik di Balik Pandemi

CNN melaporkan, meskipun Taiwan dinilai berhasil menangani pandemi Corona, beritanya masih kalah dengan situasi darurat Corona di Eropa dan AS. Padahal, langkah Taiwan dalam menangani Corona ini bisa ditiru negara lain lebih cepat sebelum Corona menjangkiti global mulai Maret lalu.

Banyak pengamat mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi adalah Taiwan yang tidak menjadi anggota dari World Health Organization (WHO).

Taiwan diklaim oleh China sebagai bagian dari wilayahnya. Beijing menghalangi Taiwan untuk berpartisipasi dalam banyak organisasi internasional kecuali jika sesuai prinsip 'satu China' atau 'one China' yang mengaburkan pemisahan pulau dari daratan China (kerap disebut Chinese Taipei di Olimpiade).

Taiwan sebenarnya memiliki status pengamat di WHO sampai 2016. Usai Presiden Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik menjabat, Taiwan tak lagi menjadi bagian dari WHO. Presiden Tsai Ing-wen sendiri berasal dari partai yang pro kemerdekaan tradisional Taiwan.

Akan tetapi WHO mengatakan bahwa tidak masuknya Taiwan sebagai anggota tidak berpengaruh pada berbagai informasi dan bimbingan kesehatan sehari-hari dan para ahli serta pekerja kesehatan masih berinteraksi dengan rekan-rekan internasional melalui organisasi.

Taiwan jadi salah satu negara yang melakukan respon terbaik dalammenangani penyebaran COVID-19. Beragam langkah responsif Taiwan itu pun mendapat pujian dunia.Foto: Getty Images/Paula Bronstein
Di sisi lain, para pejabat Taiwan mengklaim bahwa pengecualian ini telah memberikan efek negatif bagi negara tersebut baik selama epidemi SARS maupun COVID-19 ini.

Kurangnya informasi dari WHO mendorong Taiwan untuk bekerja sendiri. Kini, Taiwan juga ingin membantu negara lain namun pengecualian yang dilakukan WHO pada negara tersebut membuat mereka kesulitan melakukan upaya penuh dalam merespon dunia global.

"Kami ingin membantu untuk mengirimkan dokter terbaik, peneliti terbaik, perawat terbaik dan untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman kami dengan negara-negara yang membutuhkan," kata Wakil Presiden Chen Chien-jen.

"Kami ingin menjadi warga dunia yang baik dan melakukan kontribusi, tapi sekarang kami tak dapat melakukannya."

Terkait mengenai keanggotaan Taiwan di WHO, Asisten Direktur Jenderal WHO, Bruce Aylward mengatakan dalam sebuah siaran publik Hong Kong, mengatakan "pertanyaan mengenai keanggotaan Taiwan di WHO tergantung pada negara anggota WHO, bukan staf WHO."

Sementara itu, Juru Bicara Menteri Luar Negeri China, Hua Chunying mengatakan,"anggota WHO harus menjadi negara berdaulat."

"Tidak ada masalah dengan keanggotaan Taiwan di WHO dan memperoleh informasi tentang keadaan darurat kesehatan masyarakat, termasuk pandemi ini," katanya.

"Kami berharap (AS dan Taiwan) menghentikan upaya mereka untuk terlibat dalam manipulasi politik dengan dalih pandemi."

Juru bicara WHO kemudian turut angkat bicara. Ia mengatakan bahwa WHO dan Taiwan selama ini berhubungan baik.

"Setiap tahun, otoritas dan pakar WHO dan Taiwan berinteraksi tentang kesehatan masyarakat yang vital dan masalah ilmiah, sesuai dengan pengaturan yang telah ditetapkan. Selama pandemi COVID-19 saat ini, ada interaksi teratur juga," kata WHO dalam email sebagaimana diwartakan CNN.

"Kasus Taiwan relatif rendah terhadap populasi. Kami terus mengikuti perkembangan dengan cermat. WHO mengambil pelajaran dari semua bidang, termasuk otoritas kesehatan Taiwan," tutupnya.