Selasa, 24 Maret 2020

Museum yang Tak Sekadar Museum

 Museum ini bukan sembarang museum. Museum Lambung Mangkurat menyimpan koleksi benda bersejarah dari masa kerajaan Hindu-Buddha hingga perjuangan lawan penjajah.

Ada ungkapan: "Bila ingin berbicara dengan orang asing belajarlah bahasanya, dan bila ingin mengetahui sifat nya pelajarilah sejarah dan budayanya, karena budaya dan sejarah membentuk jiwa seseorang,"

Tempat paling untuk mempelajari budaya dan sejarah Banjar adalah dengan mengunjungi museumnya. Di provinsi Kalimantan Selatan sendiri terdapat 2 buah museum yang terkenal yaitu Museum Lambung Mangkurat dan Museum Wasaka.

Saat kami ke Kalimantan Selatan beberapa tahun lalu, kedua tempat itu berhasil dikunjungi. Bila Museum Wasaka banyak menyimpan koleksi masa perjuangan kemerdekaan RI 1945-1949, maka Museum Lambung Mangkurat lebih beragam. Koleksinya mulai dari masa prasejarah, jaman kerajaan Hindu-Buddha dilanjutkan masa Kesultanan dan akhirnya masa perlawanan terhadap Belanda di abad 19-20.

Kami berangkat dari kota Banjarmasin sekitar pukul 7.30 dan tiba di museum ini pukul 8.00 lebih sedikit. Karena masih pagi kami mengira museum ini belum buka, ternyata anggapan kami salah. Halaman sekitar museum sudah penuh dengan siswa/i Sekolah Dasar (SD) bersama guru-guru mereka.

Ternyata hari itu para siswa/I dan guru-guru pembimbing sedang melaksanakan kunjungan museum. Bentuk bangunan museum ini adalah Rumah Banjar Bubungan Tinggi yang merupakan arsitektur asli rumah Banjar. Setelah membayar tiket masuk Rp 2.000, kami pun mulai memasuki bagian dalam museum.

Koleksi yang pertama kali lihat adalah peninggalan masa kerajaan Hindu, berupa sisa patung Nandi (dalam agama Hindu Nandi adalah hewan yang disucikan karena menjadi kendaraan Dewa Syiwa), replika patung Dewa Syiwa (dewa utama dalam agama Hindu bersama Brahma dan Wishnu), replika Lingga dan Yoni yang merupakan perlambang kesuburan.

Selain benda-benda di atas, sisa-sisa bagian dari candi Laras dan Agung yang merupakan candi tertua di Kalimantan disimpan di museum ini. Pada masa dulu, kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha pernah berdiri di bumi Kalimantan seperti kerajaan Kutai, Kerajaan Sri Bangun, Kerajaan Wijayapura, Kerajaan Tajungpura, Kerajaan Kuripan, Kerajaan Negara Dipa, dan Kerajaan Negara Daha.

Dari tempat ini kami melanjutkan ke ruang masa Kesultanan Banjar. Di sini kami melihat beragam senjata yang digunakan rakyat Banjar dalam melawan Belanda (1859-1905) berupa pedang, keris, meriam kecil, tombak panjang, sumpit dan perisai Dayak. Sedang senjata yang digunakan Belanda adalah pedang panjang melengkung hingga pistol antik.

Tidak hanya senjata, di sini juga menyimpan koleksi benda sehari-hari yaitu lampu Eropa, jam dinding Eropa, teko, guci dari negara China. Beberapa lukisan yang menggambarkan kehidupan masyarakat Banjar di masa lalu juga dipajang di dinding museum, termasuk lukisan seorang pembesar kesultanan Banjar mengenakan pakaian kebesarannya lengkap dengan ikat kepala, sarung dan keris.

Salah satu lukisan yang sering jadi perhatian pengunjung adalah lukisan pertempuran laut armada angkatan laut Belanda, didukung kapal-kapal layar berukuran besar, dengan meriam-meriamnya yang lebih besar dan modern. Kapal ini melawan kapal-kapal layar berukuran jauh lebih kecil milik pasukan laut Sultan Antasari, didukung para bangsawan dan tumenggung bersama rakyat Banjar dan Dayak di sungai Barito.

Syahdunya Prosesi Ibadah Para Bhiksu Sebelum Ada Corona

Kuil Wat Pho di Thailand sering dikunjungi wisatawan. Di kuil ini kita bisa melihat syahdunya prosesi ibadah para bhiksu, sebelum virus Corona datang menyerang.

Bagi sebagian besar wisatawan, terutama yang baru pertama berkunjung ke Bangkok, mengunjungi Wat Pho tentu akan menjadi suatu agenda wajib. Betapa tidak, sebab kuil ini sangat terkenal dengan patung sang Buddha yang sedang berbaring, dengan ukuran besar dan berlapis emas.

Selain itu, Wat Pho juga terkenal sebagai tempat lahirnya seni pijat khas Thailand atau Thai Massage. Namun ada juga yang unik saat saya mengunjungi Wat Pho beberapa waktu yang lalu, sebelum virus Corona datang menyerang.

Saat sedang mengeksplore area, terdapat suatu ruangan ibadah, yang di dalamnya dipadati cukup banyak bhiksu. Rupanya sedang ada prosesi peribadatan di saat itu.

Pada awalnya saya cukup ragu untuk mengambil gambar, bahkan untuk mendekat. Namun saya lihat cukup banyak wisatawan yang mendekat ke ruangan itu, dan bahkan masuk ke dalamnnya. Maka saya pun memberanikan diri untuk masuk ke ruang ibadah setelah meminta izin dahulu pada petugas yang berjaga.

Di dalam ruangan, suasananya begitu hangat. Dengan harumnya aroma dupa yang dibakar, dan bhiksu yang sedang membacakan doa dalam bahasa Thailand, sungguh terasa khusyuk dan syahdu proses peribadatan di sore itu. Area untuk bhiksu dan pengunjung lain dibuat terpisah.

Pada bagian depan terdapat umat yang sedang berdoa, sementara saya dan wisatawan lainnya ada di bagian tengah dan belakang.
Walaupun sedang beribadah, namun wisatawan masih diperkenankan untuk mengambil gambar.

Hanya saja pastikan untuk tidak menggunakan lampu blitz, jika tidak tentu akan mengganggu ketenangan dan konsentrasi para bhiksu dan umat yang sedang beribadah. Sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan saat berkunjung ke Wat Pho.

Museum yang Tak Sekadar Museum

 Museum ini bukan sembarang museum. Museum Lambung Mangkurat menyimpan koleksi benda bersejarah dari masa kerajaan Hindu-Buddha hingga perjuangan lawan penjajah.

Ada ungkapan: "Bila ingin berbicara dengan orang asing belajarlah bahasanya, dan bila ingin mengetahui sifat nya pelajarilah sejarah dan budayanya, karena budaya dan sejarah membentuk jiwa seseorang,"

Tempat paling untuk mempelajari budaya dan sejarah Banjar adalah dengan mengunjungi museumnya. Di provinsi Kalimantan Selatan sendiri terdapat 2 buah museum yang terkenal yaitu Museum Lambung Mangkurat dan Museum Wasaka.

Saat kami ke Kalimantan Selatan beberapa tahun lalu, kedua tempat itu berhasil dikunjungi. Bila Museum Wasaka banyak menyimpan koleksi masa perjuangan kemerdekaan RI 1945-1949, maka Museum Lambung Mangkurat lebih beragam. Koleksinya mulai dari masa prasejarah, jaman kerajaan Hindu-Buddha dilanjutkan masa Kesultanan dan akhirnya masa perlawanan terhadap Belanda di abad 19-20.

Kami berangkat dari kota Banjarmasin sekitar pukul 7.30 dan tiba di museum ini pukul 8.00 lebih sedikit. Karena masih pagi kami mengira museum ini belum buka, ternyata anggapan kami salah. Halaman sekitar museum sudah penuh dengan siswa/i Sekolah Dasar (SD) bersama guru-guru mereka.