Rabu, 18 Maret 2020

Melihat Toraja Lewat Budaya dan Alamnya yang Indah

Bicara Toraja pasti tak lepas dari upacara kematiannya. Mari lihat Toraja lebih dekat dari kultur dan alamnya yang eksotis.

Pulau Sulawesi tidak melulu soal laut. Kali ini, penjelajahan saya di pulau Sulawesi berlabuh di kabupaten Toraja Utara. Dari Manado, saya harus melalui Makassar terlebih dahulu melalui perjalanan udara, kemudian melanjutkan perjalanan darat selama kurang lebih delapan jam untuk menuju Toraja Utara.

Banyak pilihan bis dari Makassar ke Toraja. Saya memilih bis Primadona dengan kelas yang harganya Rp 190.000. Bis yang saya naiki nyaman dan membuat perjalanan delapan jam tidak terasa. Disediakan makanan ringan dan air mineral juga.

Toraja Utara merupakan pemekaran dari kabupaten Tana Toraja. Toraja Utara memisahkan diri dari Tana Toraja pada tahun 2008. Meski berbeda wilayah administrasi, jangkauan tempat wisata di Toraja Utara dan Tana Toraja tidak terlalu berjauhan. Saya memilih berhenti di Rantepao, ibukota Toraja Utara, karena teman saya yang akan menjadi tour guide berdomisili disana.

Saya mengunjungi desa Kete Kesu yang merupakan desa wisata di Toraja Utara. Di sana terdapat peninggalan purbakala berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia 500 tahun lebih dan rumah adat suku Toraja.

Saat saya berkunjung ke sana, penduduk desa sedang berkumpul untuk mempersiapkan acara. Selain kuburan batu di desa Kete Kesu, saya juga mengunjungi buntu londa. Kuburan batu yang memiliki kisah romantis Romeo-Juliet versi Toraja.

Konon, ada sepasang kekasih yang dilarang berhubungan lebih lanjut dan kemudian bunuh diri. Kisah bunuh diri mereka ada dua versi. Di Buntu Londa, tulang belulang sepasang kekasih ini diletakkan berdekatan.

Adalah Kalimbuang Bori yang menjadi salah satu warisan dunia UNESCO. Batu-batu tinggi yang tegak berdiri dengan berbagai ukuran atau yang dikenal dengan nama menhir. Konon didirikan demi menghormati pemuka adat ataupun keluarga bangsawan yang sudah meninggal.

Prosesi pendirian menhir ini pun tidak serta merta dilakukan begitu saja, tapi ada proses panjangnya. Mulai dari upacara adat dengan pemotongan hewan kurban berupa kerbau dalam jumlah tertentu, pemilihan bebatuan dari tempat asalnya di gunung. Hingga prosesi pemindahan bebatuan dari tempat asalnya di gunung hingga bisa sampai ke tempat ini dan tertanam kurang lebih sepertiga tingginya masuk ke dalam tanah.

Tidak perlu jauh-jauh ke Brazil, di Toraja saya juga berkesempatan mengunjungi patung Yesus. Meski belum selesai 100 persen, patung Yesus sudah dapat dikunjungi oleh wisatawan.

Di sana juga terdapat jembatan kaca yang panjangnya tidak sampai 100 meter namun cukup membuat saya dag dig dug juga karena bisa melihat keadaan di bawah. Selain bisa menikmati patung Yesus, kita juga bisa menikmati pemandangan kota Makale dari sana.

Selain itu, saya juga mengunjungi desa Lolai, yang dijuluki Negeri di Atas Awan. Jika berniat mengunjungi, harus datang pagi-pagi benar agak awan masih terlihat jelas. Medan yang harus dilalui juga berliku dan menanjak.

Namun jangan khawatir karena akses jalan sudah beraspal. Lolai sangat indah, seindah lagu Negeri di Atas Awan milik Katon Bagaskara.

Meski singkat, perjalanan wisata ke Toraja sungguh membuat saya terkesan. Udara yang sejuk dan destinasi wisata yang sarat budaya membuat saya sungguh ingin kembali dan ingin menjelajahi Toraja lebih mendalam. Sampai bertemu kembali, Toraja!

Wisata Religi Kebanggan Banjarmasin, Masjid Sabilal Muhtadin

 Saat berkunjung ke Banjarmasin, jangan lewatkan Masjid Sabilal Muhtadin. Inilah masjid kebanggan Banjarmasin yang megah dan cantik.

Masjid Sabilal Muhtadin berdiri di atas lahan yang pernah dipergunakan penjajah Belanda untuk membangun Fort Tatas, yang merupakan pertahanan Belanda di kota Banjarmasin pada masa penjajahan.

Pembangunan masjid ini sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 1964, namun kemudian sempat tertunda. Kemudian pada tahun 1974 pembangunan masjid ini dilanjutkan kembali, dan mulai dipergunakan pada tanggal 31 Oktober 1979 untuk kegiatan Idul Adha 1344 H.

Kemudian pada tanggal 9 Februari 1981, Presiden Soeharto meresmikan masjid ini, dan untuk selanjutnya, Masjid Sabilal Muhtadin dipergunakan sebagai pusat kegiatan Islam dan dakwah di Kalimantan Selatan.

Penamaan dengan pilihan Sabilal Muhtadin adalah sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary (1710-1812 M) salah satu karyanya yang terkenal berjudul Sabilal Muhtadin.

Bangunan utama Masjid ini memiliki luas 5250 meter persegi. Masjid ini mampu menampung sekitar lima belas ribu orang jamaah.

Menara masjid terdiri atas 1 menara besar yang tingginya 45 meter, dan 4 menara kecil, yang tingginya masing-masing 21 meter. Pada bagian atas bangunan utama Masjid, terdapat kubah besar dengan diameter 38 meter. Sementara kubah menara kecil memiliki diameter 5 dan 6 meter.

Pada Masjid Raya Sabilal Muhtadin ini terdapat hiasan kaligrafi bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an dan As-maul Husna, serta nama-nama 4 Khalifah Utama dalam Islam. Sementara pada pintu Masjid yang terbuat dari bahan tembaga terdapat bentuk relief dengan corak khas Kalimantan.

Kemegahan Masjid Sabilal Muhtadin juga bisa dinikmati dari Sungai Martapura, jika traveler menyusuri sungai Martapura menggunakan klotok.

Pada halaman masjid, juga terdapat hutan kota yang teduh dan sejuk. Selepas salat berjamaah ataupun saat menunggu datangnya waktu salat, jamaah dapat bersantai sejenak di hutan kota ini.

Melihat Toraja Lewat Budaya dan Alamnya yang Indah

Bicara Toraja pasti tak lepas dari upacara kematiannya. Mari lihat Toraja lebih dekat dari kultur dan alamnya yang eksotis.

Pulau Sulawesi tidak melulu soal laut. Kali ini, penjelajahan saya di pulau Sulawesi berlabuh di kabupaten Toraja Utara. Dari Manado, saya harus melalui Makassar terlebih dahulu melalui perjalanan udara, kemudian melanjutkan perjalanan darat selama kurang lebih delapan jam untuk menuju Toraja Utara.

Banyak pilihan bis dari Makassar ke Toraja. Saya memilih bis Primadona dengan kelas yang harganya Rp 190.000. Bis yang saya naiki nyaman dan membuat perjalanan delapan jam tidak terasa. Disediakan makanan ringan dan air mineral juga.

Toraja Utara merupakan pemekaran dari kabupaten Tana Toraja. Toraja Utara memisahkan diri dari Tana Toraja pada tahun 2008. Meski berbeda wilayah administrasi, jangkauan tempat wisata di Toraja Utara dan Tana Toraja tidak terlalu berjauhan. Saya memilih berhenti di Rantepao, ibukota Toraja Utara, karena teman saya yang akan menjadi tour guide berdomisili disana.

Saya mengunjungi desa Kete Kesu yang merupakan desa wisata di Toraja Utara. Di sana terdapat peninggalan purbakala berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia 500 tahun lebih dan rumah adat suku Toraja.

Saat saya berkunjung ke sana, penduduk desa sedang berkumpul untuk mempersiapkan acara. Selain kuburan batu di desa Kete Kesu, saya juga mengunjungi buntu londa. Kuburan batu yang memiliki kisah romantis Romeo-Juliet versi Toraja.

Konon, ada sepasang kekasih yang dilarang berhubungan lebih lanjut dan kemudian bunuh diri. Kisah bunuh diri mereka ada dua versi. Di Buntu Londa, tulang belulang sepasang kekasih ini diletakkan berdekatan.

Adalah Kalimbuang Bori yang menjadi salah satu warisan dunia UNESCO. Batu-batu tinggi yang tegak berdiri dengan berbagai ukuran atau yang dikenal dengan nama menhir. Konon didirikan demi menghormati pemuka adat ataupun keluarga bangsawan yang sudah meninggal.