Minggu, 15 Maret 2020

Wisata Kuliner Ayam Taliwang Lombok, Mantap!

Ayam taliwang terkenal akan kelezatannya. Traveling ke Lombok, tentunya sempatkan buat mencicipi makanan khas ini.

Setelah 11 tahun, saya akhinya mendapatkan kesempatan untuk bepergian ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Terakhir saya ke Lombok adalah tahun 2007 lalu. Karena tugas dari kantor saya.

Saya ke Lombok dengan menumpang pesawat Hercules TNI Angkatan Udara, yang VIP. Sewaktu pertama kali ke Lombok, saya melalui bandara yang lama, Selaparang. Kali ini, saya mendarat di Bandar Udara Internasional Lombok, singkatnya BIL.

Tiba di Lombok, perut terasa lapar. Dan dalam perjalanan kami ke Mataram, keputusan dibuat. Makan Ayam Taliwang. Kalau ke Lombok tidak makan ayam taliwang, sudah pasti akan kurang rasanya. Karena bingung memilih, pengemudi bus yang mengantarkan saya dan rombongan, memilihkan restoran tempat makan ayam taliwang. Dia pasti tahu mana yang enak.

Perjalanan dari BIL ke Kota Mataram, kurang lebih setengah jam. Kami diantarkan ke Restoran Taliwan Irama 3. Karena belum jam makan siang, restoran belum terlalu ramai. Oh iya, karena pengemudi bus mengetahui nomor telepon restoran ini, makanan bisa dipesan terlebih dahulu. Jadi, ketika kami sampai, sudah siap tinggal makan saja.

Ketika kami tiba memang sudah tersaji di meja. Nggak perlu nunggu lama. Yang tersaji di meja bukan hanya ayam taliwang saja. Ada ikan dan juga plecing. Plecing ini memang khas Lombok. Ada kangkung, tauge dan kacang direbus plus sambal. Tapi, kali ini sambal dipisah. Biasanya plecing sambal sudah disiram di atas. Saatnya makan!

Ayam Taliwang di restoran Irama 3 ini memang begitu menggoyang lidah. Tidak terlampau pedas dan bumbunya meresap hingga ke daging. Daging ayam juga begitu empuk, memang enak. Sambal dan plecing juga membuat santapan semakin lengkap. Ada daging dan ada sayuran.

Tidak salah memang pilihan pengemudi bus yang mengantarkan kami. Makan ayam taliwang di Irama 3 ini juara! Mungkin kalau ke Lombok lagi, saya akan kembali mampir kemari.

Cerita Taman Lotus dan Kodok yang Tak Bersuara di China

Daming Lake jadi danau yang paling populer di Kota Jinan, China. Selain romantis dan sangat cantik, danau ini juga punya cerita tentang taman lotus dan kodok.

Daming Lake begitu populer di Kota Jinan, Provinsi Shandong di China. detikTravel bersama Dwidaya Tour mendapat kesempatan untuk menjelajahi Daming Lake.

Menjadi yang terluas di Kota Jinan, danau ini ikonik. Daming Lake punya banyak sudut yang bisa dijelajahi.

Salah satunya adalah taman lotus atau bunga teratai di dekat pintu keluar. Sisi danau yang ini dikhususkan untuk tanaman bunga teratai. Namun karena musim dingin, teratainya kering dan tak berbunga.

Taman teratai ini pun memiliki cerita menarik yang datang dari zaman kerajaan. Konon, saat itu seorang raja yang berkunjung ke Daming Lake.

Setelah berjalan-jalan, raja beristirahat di dekat taman yang penuh teratai. Taman teratai sendiri begitu ramai dengan kodok-kodok yang bersahut-sahutan.

Raja yang sedang beristirahat merasa terganggu dan menghardik kodok-kodok di taman supaya diam. Seketika itu juga, kodok-kodok di taman lotus ini diam dan keadaan menjadi sunyi.

Menurut kepercayaan setempat, sejak kejadian tersebut taman lotus ini tak lagi berisik. Satu suara kodok pun tak terdengar di area ini.

"Sejak dihardik raja, kodok-kodok di taman ini diam sampai sekarang. Tak ada yang tahu bagaimana ini bisa terjadi," ujar Dennis, pemandu dari China Internasional Travel Service (CITS).

Wisatawan bisa menikmati keindahan taman teratai ketika musim semi atau panas. Ada bangku dan gazebo yang disediakan supaya wisatawan bisa menikmati taman lotus dengan leluasa.

Main ke Pantai Papuma, Bisa Ngapain Saja?

Pantai Papuma menawarkan berbagai aktivitas liburan. Mulai dari bersantai di pantai, naik perahu, hingga ke puncak bukit menikmati pemandangan yang menawan.

Pantai Papuma, salah satu pantai terindah di Pulau Jawa terletak di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Papuma merupakan akronim dari Pasir Putih Malikan, sebab pantai ini memiliki dua sisi yang saling berdampingan.

Kedua sisi tersebut menebar pesona yang sama indahnya. Satu sisi hamparan pasir putih lembut yang melenakan, sisi lain hamparan bebatuan besar yang membentuk pulau. Pantai Papuma menjorok ke laut sehingga penduduk setempat juga menamainya Pantai Tanjung Papuma.

Letaknya tidak jauh dari Jember, hanya sekitar 45 menit bila ditempuh dengan kendaraan bermotor. Di Jember sendiri masih kurang transportasi umum sehingga untuk mencapai pantai, saya harus menggunakan kendaraan sewaan.

Pantai Papuma pada hari biasa nampak sepi pengunjung sehingga saya bisa dengan bebas menikmati keindahannya. Dari mulut gerbang masuk menuju pantai cukup dekat, berjalan kaki saja hanya 5-10 menit. Deretan jongko-jongko warung makanan menghiasi kiri kanan jalan yang mulus. Berbagai tawaran kuliner tersaji, tentu saja didominasi makanan khas pantai seperti seafood.

Saya berjalan menyusuri pantai bersama teman-teman. Nampaklah beberapa penginapan berdiri milik Perum Perhutani bernama Foresta Resort Tanjung Papuma. Terdapat beberapa pilihan kamar mulai dari harga Rp 300.000 sampai Rp 800.000 tergantung jumlah kamar.

Fasilitasnya sendiri terdiri dari AC, TV, dan kamar mandi dalam. Informasi lengkap sila hubungi Pak Suharno di 08123055191 atau Pak Gandung 081333339973. Pilihan lain, kamu bisa kemping di pantai. Ada juga penyewaan tenda dan kebutuhan lainnya.

Cuaca cerah, angin yang berhembus dari laut ke pesisir, dan nyanyian ombak menghipnosis saya. Perahu-perahu nelayan berlabuh di pantai, beberapa bersandar di pasir. Perahu-perahu itu ukurannya kecil dan ramping khas perahu nelayan.

Bagi kamu yang ingin memutari Pantai Papuma bisa juga menyewa perahu ini. Konon agak jauh dari pantai terdapat sebuah pulau penuh misteri. Menurut cerita penduduk sekitar, pulau tersebut luar biasa menawan. Sayang untuk mendekati pulau tersebut taruhannya nyawa sehingga jarang ada orang yang berani mendekat ke sana.

Untuk melihat kecantikan Pantai Papuma secara keseleruhan, saya dan teman-teman naik ke puncak Siti Hinggil yang terdapat di atas bukit karang. Anak-anak tangga melingkar-lingkar berwarna-warni bagai pelangi.

Anak-anak tangga itu bagai tak berkesudahan namun keindahan Pantai Papuma yang magis menghilangkan segala keletihan. Dari atas Siti Hinggil membentang Pantai Papuma dari ujung ke ujung.

Nampaklah tujuh batuan karang besar tegak berdiri seolah mengambang di atas laut dari atas Siti Hinggil. Ketujuh karang tersebut dapat berubah posisi seiring hembusan angin dan alunan ombak.

Itulah asal-muasal nama Malikan yang berarti berbalik. Pulau-pulau tersebut bernama Kresna, Narada, Batara Guru, Nusa Barong, Kajang, dan Kodok. Dua pulau yang dijadikan ikon Pantai Papuma adalah Kajang dan narada yang bentuknya mirip topi.

Untuk masuk ke Pantai Papuma kamu harus membayar Rp 20.000 per orang pada hari libur dan Rp 15.000 pada hari biasa. Sedangkan untuk pengunjung mancanegara dikenakan biaya seharga Rp 35.000.

Mau kemping? Ada biaya tambahan sebesar Rp 5.000. Parkir roda dua sebesar Rp 2.000, parkir roda empat Rp 5.000, dan parkir roda enam Rp 10.000. Harga yang tidak apa-apanya dibanding pesona Pantai Papuma.

Bagi saya Pantai Papuma merupakan salah satu pesona Asia yang masih tersembunyi. Masih begitu murni dan kaya akan kearifan lokal.