Senin, 17 Februari 2020

Kebanyakan Turis, Traveler Jepang Malah Hindari Kyoto

Kyoto dikenal sebagai salah satu tempat wisata di Jepang yang wajib dikunjungi. Akibatnya, warga Jepang malah enggan liburan ke Kyoto.

Hal itu pun dibuktikan dengan turunnya jumlah wisatawan domestik ke Kyoto. Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Rabu (6/3/2019), pihak Kyoto City Tourism Association dan Kyoto Convention Bureau mengungkapkannya lewat data kunjungan tahun lalu.

Pada bulan Desember 2018, diketahui kalau jumlah turis Jepang yang tinggal di hotel Kyoto menurun 12,2% dibandingkan bulan yang sama tahun 2017. Di bulan November 2018, penurunan sebanyak 10,&% terjadi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya seperti diberitakan media Sora News 24.

Usut punya usut, pihak hotel mengatakan kalau sebabnya adalah karena faktor keramaian yang kian menjadi. Penurunan jumlah turis domestik berbanding terbalik dengan turis asing yang meningkat 5,3% di tahun 2018.

Bagi para first-timer yang baru liburan ke Negeri Matahari Terbit, Kyoto kerap menjadi tempat wiata di Jepang yang wajib dikunjungi. Jadi tak heran kalau Kyoto kian dipadati turis asing, dan dijauhi traveler domestik Jepang.

Di satu sisi, pihak Asosiasi Pariwisata Kyoto tidak mengeluarkan keluhan atas fakta tersebut. Namun, salah satu juru bicaranya berujar kalau keseimbangan di antara keduanya lebih diharapkan. 

Kurangi Emisi, Ini Maskapai Paling Ramah Lingkungan di Bumi

Maskapai manakah yang terbaik untuk mengurangi emisi karbon? Ada satu maskapai dari Inggris yang mencapainya.

Melansir BBC, Rabu (6/3/2019), adalah easyJet maskapainya. Perusahaan ini yang berusaha mengurangi emisi karbon untuk mengatasi perubahan iklim dan telah berada di puncak.

Sebuah laporan menunjukkan bahwa pada tahun 2020 emisi per kilometernya berkurang setengah dari beberapa saingan. Fokus kerja perusahaan kini lebih ke armada modern yang lebih efisien serta tak memaksa mengisi setiap kursinya.

Perusahaan yang disebut memiliki rencana terlemah untuk mengurangi emisi karbon adalah Air China China Southern, Korean Air, Singapore Airlines dan Turkish Airlines. Pesawat easyJet diperkirakan hanya mengeluarkan 75 g CO2 per penumpang km pada tahun 2020, dibandingkan Korean Air sebanyak 172 g.

International Airlines Group (IAG), termasuk British Airways sebagai anggotanya, diperkirakan mengeluarkan 112g. Industri penerbangan secara sukarela membekukan emisi keseluruhannya pada tahun 2020 dan mengurangi separuh emisi pada tahun 2050.

Ini adalah target yang lebih murah daripada yang diberikan kepada sektor industri lainnya, tetapi laporan itu mengatakan hanya EasyJet yang memenuhi target penerbangan sejauh ini. Laporan siapakah itu?

Adalah laporan dari London School of Economics (LSE) yang didukung oleh sekelompok investor institusi, Environment Agency Pension Fund (Dana Pensiun Badan Lingkungan). Dana mereka hanya ditujukan untuk mendukung perusahaan yang berkomitmen untuk mengurangi emisi.

"Investor memiliki pesan yang jelas untuk sektor penerbangan. Untuk kerja mengurangi emisi karbon, itu harus untuk jangka panjang," kata salah satu perwakilan Faith Ward.

"Itu berarti penetapan target pengurangan emisi hingga 2030 dan seterusnya. Jelas ini bukan masalahnya," imbuh dia.

Para investor juga mengeluh bahwa maskapai penerbangan berusaha untuk mencapai target mereka sendiri. Dan, mereka mengimbanginya dengan hal yang kontroversial, di mana perusahaan itu menanam pohon untuk mengkompensasi emisi CO2 mereka sendiri.

Chukae! Ini Dia 3 Pemenang Liburan Gratis ke Korea Selatan

Kompetisi menulis detikTravel dan tiket.com dengan hadiah jalan-jalan ke Korea Selatan, meledak animonya. Pemenangnya pun kita tambah jadi 3 orang. Mantuls!

detikTravel berkomitmen untuk selalu menggelar kompetisi reguler secara periodik dengan hadiah menarik untuk para pembaca setia dan juga anggota komunitas travel blogger detikTravel yang disebut d'Traveler. Bersama tiket.com, detikTravel menggelar tiket.com d'Traveler Goes to Korea.

Ini adalah lomba menulis sepanjang bulan Februari 2019 dan berhadiah liburan gratis ke Korea Selatan. Lomba dibuka untuk umum dan semua peserta menulis cerita liburan ke destinasi unik dengan pengalaman menggunakan tiket.com untuk mencapainya.

Animonya, pecah banget! Redaksi menerima ratusan artikel kiriman pembaca. Tentu semua itu harus dikurasi betul-betul dan hanya artikel terbaik yang layak dipublikasikan di laman detikTravel.

Karena antusias pembaca untuk mengirim artikel sangat besar, yang tadinya diumumkan akan ada 1 pemenang, maka dijadikan 3 pemenang. detikTravel dan tiket.com memilih 3 pemenang terbaik yang dinilai dari kualitas tulisannya dan sejumlah kriteria lain. Inilah 3 pemenang tiket.com d'Traveler Goes to Korea:

1. Feni Novida Saragih
2. Misbakhul Ulum
3. Bayu Fitri Hutami

Selamat kepada Feni, Misbakhul dan Bayu Fitri. Para pemenang akan dihubungi oleh pihak detikcom. Siap-siap packing ke Korea Selatan!

Untuk yang belum menang jangan khawatir, rajin-rajin baca detikTravel. Lomba-lomba seru lainnya sudah menunggu. Siapa tahu berikutnya giliran kamu yang jalan-jalan gratis! 

Kebanyakan Turis, Traveler Jepang Malah Hindari Kyoto

Kyoto dikenal sebagai salah satu tempat wisata di Jepang yang wajib dikunjungi. Akibatnya, warga Jepang malah enggan liburan ke Kyoto.

Hal itu pun dibuktikan dengan turunnya jumlah wisatawan domestik ke Kyoto. Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Rabu (6/3/2019), pihak Kyoto City Tourism Association dan Kyoto Convention Bureau mengungkapkannya lewat data kunjungan tahun lalu.

Pada bulan Desember 2018, diketahui kalau jumlah turis Jepang yang tinggal di hotel Kyoto menurun 12,2% dibandingkan bulan yang sama tahun 2017. Di bulan November 2018, penurunan sebanyak 10,&% terjadi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya seperti diberitakan media Sora News 24.

Usut punya usut, pihak hotel mengatakan kalau sebabnya adalah karena faktor keramaian yang kian menjadi. Penurunan jumlah turis domestik berbanding terbalik dengan turis asing yang meningkat 5,3% di tahun 2018.

Bagi para first-timer yang baru liburan ke Negeri Matahari Terbit, Kyoto kerap menjadi tempat wiata di Jepang yang wajib dikunjungi. Jadi tak heran kalau Kyoto kian dipadati turis asing, dan dijauhi traveler domestik Jepang.

Di satu sisi, pihak Asosiasi Pariwisata Kyoto tidak mengeluarkan keluhan atas fakta tersebut. Namun, salah satu juru bicaranya berujar kalau keseimbangan di antara keduanya lebih diharapkan.