Minggu, 09 Februari 2020

Kisah Penjelajahan Orang Indonesia di Kota Barrow dekat Kutub Utara (5)

Funakoshi Memorial : Monumen yang didirikan tahun 2008 ditepi Samudera Arctic ini untuk menghormati pilot wanita kebanggaan Alaska berkebangsaan Jepang yaitu Shima Funakoshi dan ibunya Yoshiko Funakoshi yang mana keduanya meninggal karena mengalami kecelakaan ketika terbang dari Barrow menuju Wainwright. Ibunya  sedang berkunjung ke Alaska dari Jepang adalah tercatat sebagai nonpaying passenger di pesawat tersebut.

Birnirk Site: Adalah archeological site di tepi samudera Arctic. Tempat tinggal bawah tanah atau sod house yang dihuni oleh suku Birnirk yang merupakan cikal bakal suku Inupiat Eskimo. Tempat tersebut diregistrasikan menjadi daftar National Historic Landmark Amerika Serikat.

Whale Bone Arch: Sebuah monumen yang terbuat dari tulang ikan paus. Sebagai simbol 'Gate to the Arctic Ocean' yang mendiskripsikan kedekatan penduduk inupiat dan Samudera Arctic dalam rangka perburuan ikan paus atau whaling dan  untuk mengenang para pemburu ikan paus yang hilang ketika berlayar.

Tempat ini juga menjadi icon kebanggaan kota Barrow sehingga tidak akan pernah terlewatkan jika sedang bertandang kesini. Terletak di dekat Top of The World hotel di tepi indahnya panorama Samudera Arctic.

Baleen Palm Trees: Point Barrow adalah daerah paling ujung utara dari negara USA yang jaraknya sekitar 14 km dari kota Barrow. Ketika Saya ke sana mobil yang kami tumpangi hanya berhenti sekitar separuh perjalanan karena jalan menuju ke ujung masih tertutup banyak salju harus diperlukan kendaraan salju. Biaya sewa mencapai USD 1.500.

Di sepanjang jalan terdapat beberapa pohon palem buatan yang cukup unik dan menarik perhatian untuk difoto. Dulu sebelum bertandang ke sini saya pikir pohon palem ini adalah satu-satunya pohon yang masih bisa tumbuh di sini. Penasaran kan? Silahkan pergi ke sini. You can see the baleen Palm Trees.

Inupiat Heritage Center: Tempat perhentian yang lebih sempurna adalah Inupiat Heritage Center. Satu-satunya museum yang berisi tentang kebudayaan suku Inupiat Eskimo. Admision fee nya sebesar USD 10 untuk dewasa, dan USD 5 jika anak-anak.

Di sini saya bisa melihat-lihat dan membaca cerita sejarah dan kebudayaan penduduk Inupiat Eskimo melalui foto-foto yang ada ceritanya dan artifact atau tiruan benda-benda bersejarah  yang dipamerkan di museum ini. Cerita tentang bagaimana whaling atau perburuan ikan paus pun bisa dibaca di sini.

Berbagai macam bnatang yang diawetkan seperti burung, beruang kutub dan juga bowhead whale sungguh cantik menghiasi ruangan ini. Tarian khas penduduk Eskimo blanket toss dance juga menambah kemeriahan dan menghibur pengunjung di museum.

Di bagian ruangan lain terdapat berbagai macam baju tebal keseharian penduduk Eskimo yang terbuat dari bulu binatang asli yang sangat tebal begitu dipakai badan saya seketika terasa hangat. Jika mau membeli jaket ini harganya sangat mahal, lebih dari sepuluh juta rupiah  karena terbuat dari bulu binatang asli.

Tidak ada tempat lain yang menjual cenderamata yang lengkap tentang Barrow kecuali di sini. Saya membeli beberapa kaos tanpa kerah  dan kerajinan tangan penduduk setempat untuk oleh-oleh keluarga tercinta di rumah. Untungnya harga berbagai cenderamata di museum ini tidak membuat kantong jadi bolong.

Setelah tiga jam lebih mengikuti tour akhirnya dengan berat hati saya berpisah dengan Mr Mike. Saya memberikan biaya tour USD 100 dan sedikit tips sebagai tanda terima kasih. Saya mendapatkan selembar sertifikat sebagai bukti bahwa saya sudah mengelilingi tempat-tempat eksotis wilayah arctic circle di Kota Barrow.

Saya pun sangat bangga menerima penghargaan ini. Meski Mr Mike hanyalah seorang pemandu wisata lokal tetapi pengalaman beliau yang sudah  20 tahun lamanya membuat dia jadi pujaan para pelancong kelas wahid dari seluruh penjuru dunia.

Menjelajah kota Barrow banyak tersimpan keunikan yang belum pernah saya temui ditempat lainnya seperti : Tanah di sini tergolong permafrost yang artinya lapisan tanah dibawah mengandung es.

Oleh karena itu struktur bangunan rumah yang didirikan di kota Barrow harus dibuat panggung dengan pilar berbahan khusus untuk menghindari terjadinya panas yang mengakibatkan lapisan es di dalam tanah meleleh dan menyebabkan bangunan akan tenggelam.

Karena tanah yang tergolong permafrost tersebut mengakibatkan jalan-jalan di sini tidak diaspal karena akan selalu rusak. Rumah salju tidak saya temui di sini sebab mereka hanya membangun rumah Igloo di tengah laut yang beku untuk berlindung ketika berburu binatang.

Bahwa dengan adanya tanah permafrost  banyak penduduk yang mempunyai permafrost freezer yaitu kulkas alami di bawah tanah untuk menyimpan bahan makanan terutama daging binatang hasil buruan supaya tidak membusuk.

Kisah Penjelajahan Orang Indonesia di Kota Barrow dekat Kutub Utara (4)

Semua parabola di Barrow tidak menghadap ke atas tapi horizontal sebab semua satelit terletak di dekat Equator.  Meski fasilitas perguruan tinggi sudah disediakan di Ilisagvik College namun banyak anak muda yang pergi kuliah ke tempat lain ataupun bekerja merantau membuat kota Barrow yang penduduknya hanya 4.300 jiwa ini semakin sunyi senyap.

Tidak adanya gemerlap hiburan malam membuat penduduk malas keluar rumah kerena hawa terlalu dingin. Sudah jam setengah satu dini hari tapi diluar masih sangat terang. Fenomena midnght sun mulai tersa di sini. Meski tidak sangat terang namun suasana tengah malam seperti waktu siang saja.

Hari ini adalah hari ketiga saya berada di Barrow. Seperti sebelumnya saya bangun awal karena meja sarapan akan tutup jam sembilan pagi. Sarapan sangat berarti bagi saya supaya bisa berhemat mengingat harga makanan di sini sangat mahal.

Di penginapan ini disediakan  berbagai macam roti, susu, dan sereal sudah cukup untuk mengganjal perut. Agenda saya hari ini adalah mengunjungi supermarket terbesar di  Barrow. Karena lumayan jauh maka saya mau naik taksi saja. Ongkos taksi di sini jauh dekat sama saja yaitu USD 6 sekali jalan.

Sopir taksi di sini tidak mengharapkan tips tidak seperti di wilayah USA lainnya. Pekerjaan sebagai pengemudi taksi disini hampir semua dilakukan oleh penduduk lokal sehingga keramahan pun dapat segera saya rasakan.

Sebenarnya ada bus kota sebagai alternatif transportasi yang lebih murah tapi saya gak sabar untuk segera sampai. Barusan ada sebuah mini bus khusus untuk senior atau orang tua yang lewat dan meski sepi penumpang saya tidak diperkenankan untuk naik.

Alaska Commercial Company disebut sebagai perusahaan retail terbesar di Alaska yang melayani customer sejak 1867 dan tersebar di 33 kota di seluruh pedalaman Alaska. Penduduk setempat lebih mengenal dengan nama AC Value Center.

Jangan kaget jika harga makanan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari atau groseris di Barrow lebih mahal dibanding dengan harga-harga di wilayah USA lainnya. Sebab goods and service index di sini selalu paling tinggi di wilayah USA. Saya pun tertarik untuk berbelanja dan mengamatinya.

Hampir semua pelancong yang bertandang ke Barrow selalu saja mampir dan mengabadikan foto harga harga makanan di sini. Meski mahal tapi kan masih jauh lebih murah daripada kita harus makan di restauran.

Meskipun sudah berbelanja di AC Value Center, entah mengapa saya sangat ingin mencoba makan di Arctic Pizza yang paling terkenal itu. Harga pizza ukuran medium dan large masing-masing USD 17 dan USD 36. Jika mau minum masih harus membayar lagi.

Meski harganya mahal tetapi rasanya memang nikmat sekali dan ada kebanggaan tersendiri bisa menikmati hangatnya pizza di arctic circle. Pokoknya jika melancong ke  Barrow harus siapkan budget super ekstra buat membeli makanan.

Sehabis manikmati hangatnya kelezatan pizza saya sempatkan pergi ke kantor pos untuk mengirim kartu pos bergambar beruang kutub berbagai pose dan bowhead whale buat teman- teman di Indonesia.

Saya melihat ada satu lapangan sepak bola yang tertutup salju di sini. Meski Barrow mempunyai salju yang sangat tebal namun tidak sepanjang tahun lapangan tertutup oleh salju. Sehingga pertandingan sepak bola tetap bisa dilakukan di musim panas.

Menjadi destinasi wisata favorit adalah dambaan pemerintah kota Barrow saat ini. Dengan tersedianya fasilitas yang lengkap dan beberapa tempat yang unik dan melawan arus, kini Barrow sudah banyak memikat hati pelancong kelas wahid dari penjuru dunia untuk menikmati Arctic Adventures.

Sektor pariwisata merupakan pendapatan tambahan yang menghasilkan lumayan banyak pemasukan untuk menggenjot pertumbuhan perekonomian. Pada musim spring dan panas seperti ini semakin banyak pelancong berdatangan untuk menikmati midnight sun dan festival perburuan bowhead whale yang dikenal dengan Nalukataq dengan disuguhi tarian khas penduduk Eskimo blanket toss dance.

Berbagai macam brosur tempat wisata, penginapan, dan tempat makan juga bisa didapatkan secara cuma-cuma. Bagi pelancong yang sudah bosan dengan hiruk-pikuk suasana liburan perkotaan ataupun pantai dengan view pohon kelapa bisa bertandang ke sini untuk mencari suasana berbeda sambil memperluas pengalaman.

Di Barrow memang tidak ada landscape seperti gunung es ataupun hutan dengan tumbuhan hijau yang dihiasi dengan air sungai yang gemercik mengalir tetapi kultur dan sisi kehidupan lain umat manusia yang berbeda bisa kita nikmati dan rasakan disini.

Perasaan haru saya pun datang ketika saya akan meninggalkan kota ini. Kota yang penuh dengan potensi keunikan alam dan segudang warisan budaya suku Inupiat Eskimo. Dan akhirnya melalui sebuah referendum pada Oktober 2016 nama kota Barrow secara resmi diubah kembali ke nama tradisional yaitu Utqiakvik.