Minggu, 15 Desember 2019

Bukit Eksotis di Tanah Sumba

Tanah Sumba memang eksotis. Traveler bisa berkunjung ke Bukit Tanarara untuk melihat keeksotisan Sumba yang sebenarnya.

Bukit Tanarara terletak sekitar 19 km dari Kabupaten Sumba Timur. Berkendara dengan mobil dengan jalan berkelok-kelok, bukit ini rasanya tidak berujung. Hamparan bukit yang berupa savana tak habisnya terlihat dari balik kaca mobil.

Bukit Tanarara termasuk landai, sehingga untuk mencapai spot-spot terbaik untuk foto tidak terlalu sulit. Jalanan sepanjang Bukit Tanarara sebagian besar sudah diaspal, meskipun ada beberapa bagian yang agak berlubang.

Jalan ini tidak terlalu ramai dilewati oleh kendaraan bermotor, karena itu seringkali wisatawan menjadikan jalan sebagai spot foto. Tapi tentu saja tetap harus berhati-hati.

Tak ingin sekedar menikmati sunrise, saya bersama teman memutuskan untuk bermalam di satu spot landai yang bisa digunakan untuk membangun tenda. Tidak mudah untuk mendirikan tenda dengan angin malam yang semakin kencang berhembus.

Pun udara yang dingin cukup menusuk sehingga jaket sangat diperlukan, terlebih jika hujan turun. Di waktu malam hingga pagi pun tak henti-hentinya tenda diguncang hembusan angin yang cukup kuat.

Saat matahari mulai menampakkan dirinya, kami keluar dari tenda. Apa yang saya lihat di luar tenda sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Meskipun saat itu matahari agak tertutup awan, namun pemandangan yang saya lihat di pagi hari sungguh luar biasa.

Saya berada sejajar, bahkan di atas awan di hamparan Bukit Tanarara. Dengan warna bukit yang saat itu kekuningan di musim kemarau, betapa menakjubkannya ciptaan Tuhan yang satu ini.

Di pagi hari juga kami berjumpa dengan sekelompok pelajar SD yang hendak berangkat sekolah. Terus terang, saya tak terbayang berada di balik bukit sebelah mana sekolah mereka. Salut dengan tekad anak-anak itu berjuang untuk belajar.

Untuk melihat pemandangan bukit Tanarara lebih luas kami naik ke salah satu bukit di dekat tempat kami bermalam. Dan benar saja, luasnya bukit Tanarara terlihat dari atas sini. Melihat Bukit Tanarara saat matahari terbit, benar-benar pengalaman yang unik dan tak akan saya lupakan.

Dan untuk mewujudkan perjalanan ke Sumba ini, tentu saja saya sangat dimudahkan oleh tiket.com. Mulai dari mencari penerbangan pulang pergi yang paling sesuai baik dari segi waktu dan harga, begitu juga untuk memilih penginapan. Apalagi, setiap kita memesan melalui tiket.com, kita bisa mendapatkan TIX point yang bisa kita gunakan untuk potongan harga di transaksi berikutnya ataupun ditukar dengan voucher.

Bukan di Eropa, Pegunungan Salju Cantik Ini Ada di India

Pegunungan salju identik dengan Eropa. Namun jangan salah, di India juga ada pegunungan salju yang tak kalah cantiknya. Inilah Pegunungan Kashmir!

Merasakan salju ga harus ke Eropa, wisata ke pegunungan berselimut salju bisa juga traveller dapatkan di India. Tepatnya di wilayah Kashmir, India Utara.

Bumi Kashmir yang sangat subur dan tersembunyi di balik bayang-bayang Pegunungan Himalaya menjadi magnet bagi para traveler. Hari kedua kami di Kashmir agendanya adalah menuju Sonamarg.

Lama tempuh dari tempat kami menginap di danau Dal ke Sonamarg sekitar 2 jam 30 menit. Sebagai penduduk dari negara tropis seperti Indonesia, bermain salju pasti akan menjadi pengalaman langka yang menyenangkan.

Kami tiba di Sonamarg sekitar pukul 11:30. Senangnya saya dan teman-teman dapat menginjakkan kaki dan bermain salju di Sonamarg. Orang tropis paling excited kalo ketemu salju. Di Sonamarg, kami menggunakan kuda dengan biaya sekitar 1000 rupee.Tanah Sumba memang eksotis. Traveler bisa berkunjung ke Bukit 

Mengulik Pesona Pantai Cantik di Bulukumba (2)

Suara deburan ombak dari kejauhan serona musikal alam yang menggoda panca indra. Sungguh Tanjung Bira gambaran nyata pantai penuh pesona yang selama ini menjadi destinasi wisata yang saya impi-impikan. Di sini saya puaskan diri bergumul dan menyibak butiran-butiran pasir berwarna putih yang teramat lembut selembut tepung terigu, menghampar rata seluas mata memandang.

Saya tak membuang kesempatan menikmati beningnya air laut di pesisir pantai yang membentuk degradiasi warna hijau (tosca) kebiru-biruan yang teramat eksotis, ketika terkena pantulan sinar matahari serupa lautan kristal yang terpendam dalam air. Sungguh pemandangan alam yang tak hanya indah tapi juga seksi.

Tak sekedar menghanyutkan diri oleh keindahan alam dan berburu titik-titik terkece untuk berpotret-potret ria, di sini pengunjung bisa diving dan snorkeling, ada tempat penyewaan alatnya, hanya saja saya belum sempat mencobanya.

Jika ingin menikmati pesona pantai pada pagi, sore, atau malam hari, buang jauh rasa kekhawatiran masalah tempat menginap karena di lokasi tidak jauh dari pantai banyak sekali lokasi penginapan semacam villa, bungalow, homestay, bahkan juga hotel.

Untuk memesan hotel jangan lupa colek langsung di layanan tiket.com. Dijamin no ribet. Booking jauh-jauh hari juga bisa kok. Pada musim liburan seringnya penginapan diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin sekedar refresing, menekuni hobby, atau menerapi diri dari kejenuhan di sela kesibukan kerja atau kegiatan kuliah/sekolah.

Jika tidak ingin repot membawa bekal atau sedang berwisata spontan jangan takut akan kelaparan, karena di tempat ini banyak pedagang aneka makanan dan minuman. Tinggal siapin dokunya saja.

Tidak terasa hari bergulir menuju sore, tapi dua kaki rasa berat sekali meninggalkan tempat yang yang dipenuhi kemolekan tanpa cacat ini. Tapi saya berjanji dalam diri dan berdoa, semoga suatu saat ada peluang datang ke sini lagi.

"Ke Tebing Apparalang sekarang, ya", ajak Bu Rika, memecah lamunan saya.

Saya mengacungkan ibu jari seraya berseru, "Siap, Bu Guru!"

Motor melaju dengan kecepatan sedang. Tidak seperti jalanan yang kami lalui sewaktu ke pantai Tanjung Bira, rute ke Tebing Apparalang kondisi jalan cenderung berkelok-kelok, menanjak, hingga turunan tajam dan bergeronjal. Sungguh memompa jiwa petualang saya yang sedang mekar-mekarnya.

Angin sepoi-sepoi mengibarkan hijab yang saya kenankan. Kurang lebih 30 menit kami sampai ke lokasi wisata yang disebut Tebing Apparalang. Hanya dengan membayar parkir 5000 untuk roda dua dan 10.000 sekelas mobil, pengunjung sudah bisa sepuasnya menikmati pemandangan aduhai di kawasan ini.

Tebing Apparalang ini menampakkan panorama pantai dengan rona biru berpadu tosca serupa Pantai Bira dengan tebing curam dan bebatuan karang menambah pancaran gagah destinasi ini.

Ada sebuah anjungan yang memudahkan pengunjung untuk lebih dekat dan bisa bermesraan langsung dengan jernihnya air laut, cukup menuruni tangga kayu untuk mencapai ke sana. Kita juga dibolehkan terjun berenang, tapi harus hati-hati sebab banyak batu karang tajam yang siap mengenai kaki jika tidak mawas diri.

Kelelahan dan perjuangan selama perjalanan menuju ke tempat ini sungguh terbayar lebih dari sekedar kontan, tapi mendapatkan bonus lebih yakni menikmati alam ciptaan Tuhan yang luar biasa memukau dan sangat menakjubkan secara langsung dan mengabadikannya untuk kenang-kenangan.

Enggan rasanya meninggalkan spot-spot yang di mata saya tidak ada secuilpun nilai minusnya. Tapi apa daya hari yang berangsur gelap memaksa saya segera mengalihkan pandangan dan beranjak pulang. Beberapa bidikan berhasil saya dokumentasikan dan tersimpan rapi di galeri smartphone saya.