Sabtu, 14 Desember 2019

Keindahan Pantai Seger Saat Festival Bau Nyale

Festival Bau Nyale sudah menjadi acara tahunan warga Lombok. Saat festival mulai, Pantai Seger yang gelap akan tampak indah dengan pendar senter.

Berburu Nyale tak lepas dari kisah Putri Mandalika, seorang putri raja di pulau Lombok yang rela menceburkan dirinya ke lautan untuk menghindari pertumpahan darah antar pangeran dari berbagai kerajaan yang ingin mempersuntingnya dan oleh masyarakat Sasak Lombok dipercaya menjelma menjadi Nyale.

Tradisi ini dilakukan secara turun temurun setiap tahun menurut perhitungan penanggalan suku Sasak yaitu pada hari ke-20 setelah purnama di bulan ke-10.

Semakin banyak Nyale yang keluar dari laut maka dipercaya membawa keselamatan dan kesejahteraan. Selain untuk di konsumsi, Nyale juga dipercaya dapat menyuburkan lahan pertanian dengan cara meyebarnya di lahan tersebut.

Berbekal kepercayaan tersebut, masyarakat setempat selalu menyambut tradisi ini dengan gembira dan beramai-ramai untuk berburu di sepanjang pantai selatan, timur dan tengah pulau Lombok dan setiap tahunnya kegiatan ini dipusatkan di Lombok Tengah, tepatnya di pantai Seger.

Menjelang dini hari, berbekal lampu sederhana dan jaring berbagai bentuk, ribuan orang baik laki-laki dan perempuan dari beragam usia mulai turun ke laut untuk memulai perburuan.

Pantulan sinar lampu dari ribuan pemburu Nyale membuat lautan tampak menyala seolah memperlihatkan riuh gembira perburuan waktu itu, tampak indah terlihat dari atas bukit di sekitar pantai.

Perburuan biasanya selesai ketika matahari terbit, perlahan-lahan ribuan warga mulai kembali ke pinggir pantai bersiap untuk pulang sambil membawa hasil tangkapannya.

Inilah sedikit cerita tradisi Bau Nyale yang kini sudah diagendakan menjadi event tahunan oleh Kementerian Pariwisata dengan nama Festival Bau Nyale.

Buat kalian yang ingin merasakan sensasi turun ke laut bersama ribuan orang untuk ikut berburu Nyale, persiapkan diri untuk ke Lombok di tahun depan ya.

Untuk tiket pesawat dan hotel, tiket.com bisa menjadi pilihan untuk membantu merencanakan liburan dengan memanfaatkan aplikasinya yang bisa di akses melalui smartphone. Tiket.com sebagai pionir Online Travel Agent di Indonesia tentunya sudah berpengalaman untuk membantu para konsumennya dan memanjakan konsumennya yang hobi travelling dengan beragam promo.

Fitur yang buatku sangat bermanfaat adalah Sewa Mobil, banyak pilihan dengan harga terbaik dan sudah dilengkapi dengan driver professional sehingga memudahkan transportasiku di tempat tujuan.

Fatuulan, Negeri Dongeng dari Indonesia Timur

Siapa bilang Indonesia tak punya negeri dongeng. Inilah Fatuulan, sebuah desa dari NTT yang berada di ketinggian, tertutup kabut bagai negeri dongeng.

Desa Fatuulan berada kecamatan Ki'e, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Desa ini berjarak sekitar 40 Km dari jantung Kota Soe. Untuk menuju daerah ini, traveler bisa menempuh jalur darat, menggunakan mobil atau motor dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Akses menuju desa ini cukup sulit karena sebagian besar jalannya yang masih menggunakan sertu kasar.

Desa Fatuulan tidak hanya indah, namun juga memiliki kekayaan budaya leluhur Atoin Meto (orang Timor). Di sini banyak ditemukan Rumah tradisional orang Timor.

Rumah tradisional orang Timor ini biasa disebut ume kbubu (rumah bulat). Ume kbubu adalah salah satu identitas orang Timor. Rumah trasional ini terdiri dari 4 buah tiang penyangga dan beratap alang-alang.

Belajar Toleransi dari Kota Suci Betlehem

Betlehem menjadi kota suci kelahiran Yesus. Penuh toleransi, suara adzan di kota ini akan diakhiri dengan bunyi lonceng gereja.

Kota Suci Betlehem adalah kota suci yang mempunyai daya tarik tinggi sebagai tujuan wisata rohani. Salah satu objek yang cukup menarik terutama pada bulan Desember menjelang natal adalah Gereja Nativity atau yang merupakan tempat kelahiran Yesus.

Gereja Nativity dikelillingi tembok dari tiga biara yaitu Orthodoks, Armain, dan Katolik Roma. Pintu masuk Gereja ini melalui pintu batu yang sempit dan rendah. Desain seperti ini fungsinya untuk mencegah perampok masuk ke gereja dengan kuda sewaktu perang salib berkecamuk.

Gereja Nativity berdekatan dengan Masjid yang dibangung pada tahun 1193 oleh Sultan Afdhal, putra dari Salahuddin al-Ayubi. Di tempat tersebut dulu Khalifah Umar RA melaksanakan shalat.

Masjid Umar didirikan di atas tanah pemberian dari Gereja Kristen Ortodoks Yunani.Antara Gereja Nativity dan Masjid Umar ada bangunan Betlehem Peace Center, dan lapangan yang saat ini ada pohon natal yang tinggi menjulang megah.

Gereja Nativity selain sangat sakral juga sangat unik. Di Gereja yang menjadi tempat kelahiran Yesus ini dihiasi dengan ornamen berwarna emas yang sangat mengagumkan.

Jika pengunjung ingin memasuki gua tempat kelahiran Yesus maka harus melalui pintu sempit sekaligus menuruni sejumlah anak tangga secara bergiliran. Di tempat lahirnya Yesus terdapar bintang perak yang bertulisan bahasa Latin "Hic de Maria Virgine Jesus Cristus Natus est" yang artinya Di Sinilah Yesus Kristus Anak Perawan Maria Dilahirkan.

Pada saat penulis mengunjungi Gereja Nativiti (6 Desember 2019) pegunjung sangat ramai. Dan dari atributnya nampak bahwa pengunjung bukan hanya umat bergama Kristen atau Katolik tetapi juga umat agama lain. Bahkan suara azan dari Masjid Umar selalu diakhiri dengan lonceng Gereja. Suasananya sangat damai.

Kota Suci Betlehem adalah kota dengan toleransi beragama yang sangat baik. Masing-masing umat menjalankan agamanya dengan khusuk tanpa merasa terganggu dengan ritual agama lain. Sukacita dirasakan oleh seluruh masyarakat pada saat hari raya keagamaan. Toleransi umat beragama di Betlehem ini yang patut diteladani.

Keindahan Pantai Seger Saat Festival Bau Nyale

Festival Bau Nyale sudah menjadi acara tahunan warga Lombok. Saat festival mulai, Pantai Seger yang gelap akan tampak indah dengan pendar senter.

Berburu Nyale tak lepas dari kisah Putri Mandalika, seorang putri raja di pulau Lombok yang rela menceburkan dirinya ke lautan untuk menghindari pertumpahan darah antar pangeran dari berbagai kerajaan yang ingin mempersuntingnya dan oleh masyarakat Sasak Lombok dipercaya menjelma menjadi Nyale.

Tradisi ini dilakukan secara turun temurun setiap tahun menurut perhitungan penanggalan suku Sasak yaitu pada hari ke-20 setelah purnama di bulan ke-10.

Semakin banyak Nyale yang keluar dari laut maka dipercaya membawa keselamatan dan kesejahteraan. Selain untuk di konsumsi, Nyale juga dipercaya dapat menyuburkan lahan pertanian dengan cara meyebarnya di lahan tersebut.

Berbekal kepercayaan tersebut, masyarakat setempat selalu menyambut tradisi ini dengan gembira dan beramai-ramai untuk berburu di sepanjang pantai selatan, timur dan tengah pulau Lombok dan setiap tahunnya kegiatan ini dipusatkan di Lombok Tengah, tepatnya di pantai Seger.

Menjelang dini hari, berbekal lampu sederhana dan jaring berbagai bentuk, ribuan orang baik laki-laki dan perempuan dari beragam usia mulai turun ke laut untuk memulai perburuan.