Jumat, 13 Desember 2019

Rabobank Setop Operasi di Indonesia

PT Bank Rabobank International Indonesia (Rabobank Indonesia) memberikan pemberitahuan penghentian operasional di Indonesia.

Hal tersebut tertulis dalam surat pemberitahuan pertama - penghentian operasional kepada nasabah.

Dalam surat itu tertulis ucapan terima kasih kepada nasabah telah menemani perjalanan Rabobank selama puluhan tahun di Indonesia.

"Setelah puluhan tahun Rabobank Indonesia, sebagai bagian dari Rabobank Group telah bertumbuh dan berkembang bersama para nasabah, mitra dan seluruh karyawan. Dengan berat hati kami sampaikan bahwa pemegang saham pengendali telah memutuskan untuk menghentikan operasional Rabobank Indonesia. Keputusan ini merupakan keputusan yang sulit namun merupakan bagian utama dari strategi global Rabobank Group terkait visi Banking for Food yang terfokus pada rantai pasok internasional untuk sektor pangan dan agrikultur," tulis surat tersebut, dikutip Selasa (30/4/2019).

Kemudian dalam surat juga disebutkan Rabobank Indonesia berkomitmen untuk menjalankan keputusan dari seluruh pemegang saham dengan sebaik mungkin dan memastikan proses pengembalian izin perbankan dan izin usaha kepada otoritas terkait berjalan dengan baik, lancar dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia.

"Penghentian operasional Rabobank Indonesia akan dilakukan secara bertahap. Sebagai tahap pertama, kantor cabang tempat Bapak/Ibu sebagai nasabah Rabobank Indonesia akan ditutup. Saat ini permohonan izin penutupan kantor cabang sudah kami sampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," tulisnya.

Rabobank Indonesia atau PT Bank Rabobank International Indonesia mulai beroperasi pada tahun 1990 dengan memberikan layanan perbankan korporasi.

Rabobank Indonesia adalah anak perusahaan Rabobank Group yang berpusat di Utrecht, Belanda. Sebagai anak perusahaan Rabobank Group, Rabobank Indonesia memiliki pengetahuan yang baik di bidang pangan dan agribisnis dan karena itu nasabah yang bergerak dalam sektor ini terus bertambah.

RI Diserbu Fintech Abal-abal dari China

Satgas waspada investasi beberapa waktu lalu mengumumkan telah memblokir 144 daftar layanan fintech peer to peer lending ilegal alias abal-abal.

Dari daftar tersebut ada beberapa fintech dari luar negeri dan paling banyak dari China. Memang, China adalah salah satu negara yang terkenal punya 'masalah' dengan layanan pinjaman online ini.

Mulai dari pinjaman yang agunannya foto bugil peminjam sampai bunga yang diberikan terlalu tinggi.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menjelaskan saat ini sedang berupaya untuk memberantas fintech abal-abal yang meresahkan itu.

"Banyak (asal) mereka, dari China, Amerika, Singapura, Malaysia dan Indonesia juga ada," ujar Tongam saat dihubungi detikFinance, Selasa (30/4/2019).

Dia menjelaskan, sampai dengan saat ini, jumlah Fintech Peer-To-Peer Lending tidak berizin yang ditemukan Satgas Waspada Investasi pada tahun 2018 sebanyak 404 entitas sedangkan pada tahun 2019 sebanyak 543 entitas sehingga secara total saat ini yang telah ditangani sebanyak 947 entitas sebagaimana terlampir.

Wakil ketua asosiasi fintech pendanaan bersama Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko menjelaskan Indonesia memang memiliki potensi pasar fintech yang sangat besar. Sehingga pelaku fintech dari negara lain termasuk dari China tertarik masuk ke Indonesia.

"Untuk motivasi mereka (Fintech asal China) yang ke Indonesia sebenarnya belum diketahui secara pasti. Karena saya juga nggak bisa menuduh, yang jelas Indonesia itu pasarnya sangat besar untuk fintech ini," ujar Sunu.

Dia mengungkapkan, memang dari pihak satgas waspada investasi dan otoritas jasa keuangan (OJK) sudah pernah menangkap pelaku fintech abal-abal yang platformnya dari China, jadi tersangka tersebut hanya kepanjangan tangannya.

"Kita juga nggak tahu kalau di sana susah ruang gerak mereka dan akhirnya lari ke sini. Tapi bisa saja mereka lihat dari sisi lain karena di sini potensinya besar, masyarakat unbankednya besar," jelas dia.

Perkembangan fintech di China memang luar biasa. Ratusan fintech baru di negeri tirai bambu pun bermunculan seperti jamur di musim hujan. Pemerintah China kewalahan karena banyak pemain fintech ini yang tidak mau ikut aturan.

Alhasil pemerintah China akhirnya bersih-bersih supaya tidak ada praktik shadow banking di negaranya. Hal ini berimbas pada paniknya industri fintech p2p lending China yang pada 2018 mencapai US$ 192 miliar.

BCA Caplok Seluruh Saham Rabobank Rp 397 M

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) akan membeli seluruh saham PT Bank Rabobank Internasional Indonesia. Total nilai transaksi ini ditaksir mencapai Rp 397 miliar.

Informasi ini telah disampaikan oleh pihak BCA melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (11/12/2019).

BCA melalui BCA Finance telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan para pemegang saham Rabobank yang terdiri dari Cooperatieve Rabobank UA, PT Aditirta Suryasentosa, PT Antarindo Optima, PT Antariksabuana Citanagara dan PT Citra Usaha Kencana Sejati.

Total saham yang akan dibeli oleh BCA Finance sebanyak 3.719.070 lembar. Jumlah itu merupakan total seluruh saham Rabobank Indonesia.

Dari total saham itu diperkirakan nilai transaksi mencapai Rp 397 miliar. Nilai tersebut akan dilakukan penyesuaian dengan memperhitungkan pendapatan atau kerugian Rabobank Indonesia pada saat tanggal penyelesaian transaksi.

Setelah transaksi itu selesai BCA secara langsung dan tidak langsung memiliki seluruh saham Rabobank. Dengan begitu Rabobank Indonesia akan menjadi anak usaha terkendali.

Rabobank Mau Setop Operasi, Bagaimana Nasib Nasabah?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara terkait rencana PT Bank Rabobank International Indonesia (Rabobank Indonesia) berhenti operasi di Indonesia. Menurut OJK, hal itu merupakan pertimbangan bisnis.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (2/5/2019).

"Kita hargai kalau memang ternyata mempunyai alasan-alasan yang menurut bisnis, pasti dia alasan-alasan bisnis ini lebih menguntungkan mereka kalau tidak beroperasi lagi di Indonesia. Kita hargai keputusan itu," katanya.

Meski begitu, Wimboh mengatakan, untuk berhenti operasi ada proses yang mesti diikuti. OJK sendiri, lanjutnya, fokus agar layanan masyarakat atau kepentingan nasabah tidak terganggu.

"Kita yakini, kita jamin tidak akan terganggu. Kita tentunya teknikal akan minta beberapa hal kepada Rabobank, untuk bisa menjamin kontinuitas para nasabah melakukan jasa perbankan," ujarnya.

Wimboh melanjutkan, saat ini belum ada pembahasan detail terkait nasib nasabah. Tapi, ia yakin hal itu bisa diselesaikan karena hal semacam ini bukan pertama kali.

"Kita belum sampai sedetail itu teknisnya, tapi itu tidak sulit sebenarnya. Ini kan bukan pertama kali," katanya.

Dia mengatakan, ada beberapa cara yang bisa diterapkan. Salah satunya, dengan memindahkan rekening nasabah ke bank lain.

"Ada beberapa cara lakukan, memberikan opsi ke nasabahnya untuk memindahkan rekeningnya pada bank lain. Tapi, juga bagaimana kerja sama Rabobank dengan baik lain, bank mana yang bisa melakukan itu. Ini hanya beberapa opsi-opsi yang disiapkan," ujarnya.

Wimboh mengaku, belum tahu secara detail-detail kewajiban yang harus diselesaikan. Menurutnya, banyak hal yang mesti dibicarakan secara detail dengan OJK.

"Kita juga belum tau detailnya, kewajiban-kewajiban apa yang lain yang harus diselesaikan. Banyak hal yang harus kita bicarakan, teknis lebih detail antara Rabobank terutama dengan kita sebagai otoritas pengawas, secara detail," tutupnya.