Rabu, 11 Desember 2019

Wishnutama Bicara Masalah Kapal Pesiar di Indonesia

Kapal pesiar dinilai sebagai salah satu potensi pariwisata di Indonesia. Namun, Menparekraf Wishnutama mau ada regulasi yang jelas terkait hal itu.

"Namanya cruise (kapal pesiar-red) punya potensi mendatangkan devisa, asal aturannya jelas. Misalnya penumpang harus turun untuk tur, makan di restoran setempat, dan lainnya," kata Menteri Pariwisata Ekonomi dan Kreatif (Menparekraf) Wishnutama dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (7/12) malam kemarin.

Menurut Wishnutama, kapal pesiar bagaikan one stop destination. Ada kamar tidur, restoran, kolam renang, bioskop, hingga berbagai fasilitas.

Oleh sebab itu, uang yang dikeluarkan turis saat naik kapal pesiar hanya berputar-putar di situ. Jika pun datang ke suatu destinasi, sekadar tur kemudian balik ke kapal pesiar lagi.

"Jangan sampai turis yang naik kapal pesiar hanya nikmatin pemandangan, tapi tidak spending apa-apa di kita," jelasnya.

Wishnutama menjelaskan, harus ada regulasi yang mengatur kapal pesiar di Indonesia. Sehingga, turis yang datang dengan kapal pesiar, bisa lebih banyak mengeluarkan uang.

"Misal ada aturan refueling (isi bahan bakar-red) harus di mana, mesti bersandar di mana, makan di mana, tur ke mana, nonton pertunjukan apa," tuturnya.

Selain itu, Wishnutama juga menyinggung soal kesiapan destinasi di Indonesia untuk menyambut kapal pesiar. Dia memberi contoh Labuan Bajo, yang dinilai masih harus dibenahi.

"Saya ambil contoh di Pulau Komodo di Labuan Bajo ada kapal pesiar datang. Turisnya turun terus mau beli suvenir kayak patung-patung komodo gitu ya, tapi ternyata pembayaran harus cash dan pakai rupiah," terangnya.

"Akhirnya apa, ya mereka cuma keluar uang buat beli tiket masuk Pulau Komodo doang," tambahnya.

Wishnutama menekankan, itu baru di Labuan Bajo, lantas bagaimana di daerah lain? Selain regulasi, kesiapan destinasi wisata untuk menyambut kapal pesiar juga harus patut diperhatikan.

"Kita harus memandang ini dengan komprehensif. Potensi dari wisata kapal pesiar ada, tapi regulasinya harus jelas," pungkasnya.

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali Utara

Menparekraf Wishnutama ingin mengembangkan kawasan Bali bagian utara, termasuk timur dan barat. Tapi rasanya, ada tantangan yang tak mudah.

Pekan lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama wakilnya Angela Tanoe mengunjungi Bali sebagai kunjungan kerja perdana ke daerah. Selama di Bali, mereka bertemu Gubernur Bali, Wayan Koster dan para pelaku wisata.

Salah satu hasil pertemuan tersebut adalah, Wishnutama ingin mengembangkan pariwisata di Bali bagian utara, barat, dan timur. Tentu bukan rahasia lagi, kawasan Bali bagian selatan seperti Kuta, Sanur, dan Seminyak sudah penuh sesak.

Konsentrasi pariwisata Bali pun terpusat di bagian selatan. Hingga akhirnya muncul permasalahan seperti overtourism, hingga kemacetan.

Praktisi dan pemerhati pariwisata asal Bali, Puspa Negara berpendapat, pengembangan pariwisata Bali bagian utara, timur, dan barat tidak semudah membalikan telapak tangan. Akesesibilitas menjadi tantangan terberat.

"Aksesibilitas menjadi faktor penentu terdistribusinya wisatawan maupun berkembangnya destinasi di belahan Bali utara, timur, dan barat. Ini tak lepas dari kondisi infrastruktur pendukung kepariwisataan lebih dominan ada di Bali selatan seperti bandara, sarana, dan prasarana pendukung lainnya," kata Puspa kepada detikcom, Selasa (26/11/2019).

Rata-rata, wisatawan yang menginap di Bali menghabiskan waktu 2-3 malam. Tentu kalau dari kawasan selatan ke utara Bali, waktunya akan habis di jalan.

"Turis yang datang lewat jalur laut seperti cruise, ada yang berlabuh di Padang Bay (Bali bagian timur), Celukan Bawang (Bali bagian utara) dan Gilimanuk (Bali barat). Namun angkanya, itu hanya 2 persen saja dari total turis yang datang ke Bali. Sisanya melalui Bandara Ngurah Rai di Bali bagian selatan," papar Puspa.

Bagaimana soal pembangunan bandara di kawasan Buleleng?

"Begini, tahun 1967 ibukota Bali pindah dari Singaraja ke Denpasar, mungkin karena upaya untuk membangun bandara sebagai pintu masuk, yang mana pembangunan bandara relatif lebih mudah di Bali bagian selatan," jawab Puspa.

Maksudnya pembangunan bandara relatif lebih mudah?

"Kawasan Bali bagian utara mungkin secara geografis memang sulit dibangun bandara karena kontur lahan yang berbukit, sedangkan di Bali bagian selatan relatif datar. Termasuk untuk membangun bandara di atas laut di Bali bagian utara, biayanya lebih besar," terangnya.

Usai Labuan Bajo dan Mandalika, Wishnutama Mau ke Mana Lagi?

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama dan wakilnya, Angela Tanoesoedibjo, sudah melakukan kunjungan kerja ke daerah Labuan Bajo dan Mandalika pada pekan lalu. Berikutnya mau ke mana?

Dimulai dari hari Selasa (26/11) kemarin, Menparekraf Wishnutama dan Angela Tanoe mengunjungi Mandalika di NTB. Mereka melihat proses pembangunan pariwisata di sana.

Kemudian di hari Kamis (28/12), mereka geser ke Labuan Bajo di NTT. Mereka berkeliling sampai ke Taman Nasional Komodo, seperti ke Pulau Padar dan Pulau Komodo.

Labuan Bajo dan Mandalika termasuk ke dalam daftar 5 Destinasi Super Prioritas. Artinya, pembangunan pariwisata di sana akan dikebut dan dimaksimalkan demi mendatangkan banyak devisa dari kunjungan turis.

Lantas setelah dari Mandalika dan Labuan Bajo, berikutnya akan ke mana lagi?

"Yang pasti ke 5 Destinasi Super Prioritas itu dulu fokusnya," jawab Wishnutama pada awak media di Istana Negara, Selasa (3/12/2019).

Selain Labuan Bajo dan Mandalika, yang termasuk ke dalam 5 Destinasi Super Prioritas adalah Borobudur, Danau Toba, dan Likupang. Pembangunan pariwisata di sana meliputi aksesibilitas, infrastruktur, amenitas, hingga sektor ekonomi kreatif.

"Nanti saya juga mau ke Banyuwangi, ingin ke Ambon, dan tempat-tempat lain. Tapi prioritas saya, 5 Destinasi Super Prioritas itu dulu," pungkas Wishnutama.

Cerita Guide yang Temani Wishnutama di Pulau Komodo

Baru-baru ini Menparekraf Wishnutama dan wakilnya, Angela Tanoe mengunjungi Pulau Komodo. Ini cerita naturalis guide saat menemani mereka di sana.

Dimulai dari hari Selasa (26/11) kemarin, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama dan Angela Tanoe mengunjungi Mandalika di NTB dan Labuan Bajo di NTT. Dua tempat tersebut masuk dalam daftar 5 Destinasi Super Prioritas yang sedang digarap maksimal oleh pemerintah.

Hari Kamis (28/11) kemarin, Wishnutama dan Angela Tanoe menapakkan kaki di Labuan Bajo. Mereka mendatangi Pulau Komodo di Taman Nasional Komodo.

Selama di Pulau Komodo, Wishnutama dan Anegla Tanoe didampingi oleh pihak Taman Nasional Komodo, jajaran Pemkab Manggarai Barat, dan naturalis guide. Naturalis Guide merupakan penduduk lokal di Desa Komodo yang menjadi pemandu wisata di Taman Nasional Komodo. Mereka pun biasa mendampingi wisatawan untuk melihat komodo.

Hamnor, merupakan salah satu naturalis guide yang ikut dalam rombongan dan menemani perjalanan Wishnutama di Pulau Komodo. Dia menemani sejak berlabuh di dermaga di Loh Liang.

"Dari dermaga, Wishnutama dan Angela Tanoe mampir di pusat oleh-oleh. Mereka melihat berbagai suvenir, terutama soal patung-patung komodo," jelas Hamnor kepada detikcom lewat sambungan telepon, Minggu (1/12/2019).

Hamnor pun mendengarkan apa yang Wishnutama diskusikan bersama jajarannya dan para penjaja suvenir. Wishnutama memuji para penjaja suvenir yang juga merupakan penduduk asli Desa Komodo di Pulau Komodo.

"Dia (Wishnutama) bilang, harus ada nilai tambah. Patung-patung komodo sudah bagus, tapi harus ada ekonomi kreatif lainnya seperti kerajinan tangan. Dia juga bilang akan memberikan pelatihan pada para pengrajin suvenir, khususnya para pemahat patung komodo," papar Hamnor.

Setelah dari situ, Wishnutama bersama rombongan lanjut ke Oase Cafe, suatu kafe yang berada di pinggir pantai di Pulau Komodo. Saat itu Hamnor tidak bisa ikut ke dalam, karena hanya para pejabat dari Pemkab Manggarai Barat serta pihak Taman Nasional Komodo.

"Tapi dari kafenya, Wishnutama melihat-lihat komodo. Di bawah kafenya juga banyak komodo," terangnya.

Namun sebelum ke kafe, Wishnutama bersama rombongan melewati pintu gerbang Pulau Komodo. Kata Wishnutama, gerbangnya mau diubah.

"Dia bilang patung dan gerbangnya akan diubah supaya ada daya tarik," ungkap Hamnor yang sudah menjadi naturalis guide selama 10 tahun.

"Kemudian, Wishnutama juga dikenali oleh Kepala Desa Komodo. Dia pun mendengarkan keluh kesah warga desa, seperti membutuhkan dermaga permanen. Kata Pak Menteri, nanti akan disampaikan ke Menteri Perhubungan Budi Karya," lanjutnya menjelaskan.

Menurut Hamnor, Wishnutama tidak sempat untuk trekking di Pulau Komodo mungkin karena jadwal yang padat. Dirinya pun ikut senang dan berharap banyak kepada Wishnutama sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

"Harapan saya, semoga masyarakat di Desa Komodo bisa lebih terlibat pada pariwisata. Selama ini, kami belum banyak merasakan langsung pendapatan dari pariwisata," tutupnya.