Rabu, 11 Desember 2019

Aokigahara, Bunuh Diri dan Popularitas

Aokigahara dikenal sebagai hutan bunuh diri di Jepang. Ada sejarah kelam, di lain sisi banyak pula yang memanfaatkan popularitasnya.

Dilansir dari situs BBC, Selasa (9/1/2018) Aokigahara terletak di bagian barat laut Gunung Fuji, sekitar 100 kilometer sebelah barat Tokyo. Dengan luas 30 kilometer persegi, hutan tersebut cukup subur akibat curahan lahar yang berasal dari Gunung Fuji ketika gunung tersebut meletus tahun 864.

Sayangnya, pamor hutan ini bukan karena bentang alamnya yang indah. Sejak lama, Aokigahara sudah dikenal sebagai tempat bunuh diri. Angka bunuh diri di sana pun tidak main-main.

Berdasarkan catatan resmi, terdapat 21.897 orang yang meninggal dunia akibat bunuh diri di Jepang pada 2016. Angka itu termasuk yang paling rendah selama 20 tahun terakhir.

Menilik sejarah ke belakang, Aokigahara kerap disangkutpautkan dengan kematian karena kawasan itu diyakini pernah digunakan untuk melakoni ubasute ritual untuk mengasingkan manula ketika masa kelaparan dan musim kering melanda. Sebagian orang Jepang bahkan masih percaya bahwa ada arwah-arwah yang bergentayangan di hutan itu.

Masyarakat dunia mungkin baru mengenal Aokigahara sebagai hutan bunuh diri di tahun 1961. Kala itu, Tower of Waves, novel karya Seicho Matsumoto terbitan 1961 berisi aksi bunuh diri sepasang kekasih di Hutan Aokigahara. Buku lain, The Complete Manual of Suicide (1993) karya Wataru Tsurumi, menggambarkan Aokigahara sebagai 'tempat sempurna untuk meninggal dunia'. Buku-buku itu terjual jutaan eksemplar.

Beberapa film juga mengambil popularitas Aokigahara. Ada setidaknya dua film yang terinspirasi oleh reputasi Aokigahara, yakni Sea of Trees (2015), yang dibintangi Mathhew McConaughey, dan film horor The Forest yang dirilis 2016 lalu. Ada pula sejumlah acara televisi yang membahas Aokigahara di sejumlah negara.

Yang terbaru, Youtuber asal Amerika Serikat Logan Paul jadi perbincangan. Dia menuai kontroversi dengan mengunggah vlog-nya saat sedang berada di Hutai Aokigahara, Jepang. Dalam postingannya tersebut dia memperlihatkan jasad di hutan, yang memang dikenal sebagai tempat bunuh diri di Jepang. Karena menuai kecamanan dan kritikan dari beragam pihak, dia menghapus dan meminta maaf kepada publik melalui videonya yang baru.

Terus Mencegah Kasus Bunuh Diri

Dengan pepohonan lebat dan hampir tidak ada binatang liar, Aokigahara merupakan tempat sunyi dan mencekam yang dipenuhi bebatuan dengan formasi janggal.

Di beberapa tempat ada penanda dan peringatan berisi informasi konseling anti-bunuh diri. Sejumlah penanda bahkan berisi imbauan kepada pengunjung untuk 'merenungkan anugerah kehidupan sekaligus rasa sakit yang Anda timbulkan untuk keluarga Anda'.

Untuk mencegah potensi bunuh diri, pemerintah Jepang mengerahkan petugas patroli dan memasang kamera pengawas. Pemilik toko-toko di sekitar hutan juga bersedia sebagai relawan untuk mencegah bunuh diri. Pemilik sebuah kedai kopi di pintu masuk hutan, misalnya, mengklaim kepada surat kabar Japan Times bahwa dia telah menggagalkan 160 aksi bunuh diri selama 30 tahun dengan mengamati pengunjung yang datang sendirian.

Sejumlah pakar mengamini bahwa kesendirian merupakan penyebab depresi dan bunuh diri di kalangan orang dewasa dan manula. Meski demikian, faktor stres dan keuangan juga menjadi pemicu bunuh diri di antara kaum muda.

Kepolisian Jepang menunjukkan data bahwa pada 2010, 57% dari semua korban bunuh diri melakukan aksi mereka setelah pulang kantor. Khusus di Jepang, faktor pemicu lainnya adalah tradisi bunuh diri demi martabat dan kehormatan. Lagipula, tiada budaya kecaman terhadap bunuh diri di Negeri Sakura.

Selasa, 10 Desember 2019

Pernyataan Achmad Zaky Usai Mundur Sebagai CEO Bukalapak

Achmad Zaky resmi mengundurkan diri sebagai CEO Bukalapak. Dalam pernyataannya, Zaky mengungkapkan rasa bangga telah membangun Bukalapak hingga berkontribusi terhadap para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

"Kami memulai Bukalapak dengan semangat pribadi untuk menciptakan dampak positif bagi UMKM. Saya bangga dalam waktu 10 tahun, Bukalapak dikenal di peta dunia sebagai e-Commerce Indonesia yang terkemuka," ujar Zaky dalam pernyataannya, Senin (9/12/2019).

Bukalapak didirikan sejak 10 Januari 2010, di mana Achmad Zaky bersama Muhammad Fajrin Rasyid dan Nugroho Herucahyono berperan penting dalam kelahiran startup e-commerce ini.

Sekarang, Bukalapak jadi salah satu startup bergelar unicorn alias valuasi di atas USD 1 miliar. Selain Bukalapak, level unicorn di Indonesia ini dihuni Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan Ovo.

Perubahan pucuk kepemimpinan Bukalapak ini terhitung efektif pada tanggal 6 Januari 2020, sebagai sebagai kelanjutan dari rencana jangka panjang perusahaan memasuki dekade kedua dan dalam rangka membangun bisnis e-commerce yang berkelanjutan (sustainable).

Implementasi dari rencana jangka panjang ini telah dimulai sejak bulan Oktober 2016 dengan penunjukan Willix Halim sebagai Chief Operating Officer (COO) Bukalapak untuk memperkokoh tim manajemen dengan individu-individu yang memiliki keahlian khusus dan berpengalaman.

Adapun pengganti Zaky di Bukalapak adalah Rachmat Kaimuddin yang nantinya berperan sebagai CEO.

"Sekarang, kami mengajak Rachmat bergabung dengan Bukalapak karena kepemimpinannya bisa mengarahkan Bukalapak ke tingkat yang lebih hebat lagi. Saya percaya Rachmat adalah orang yang tepat, bagian dari tim yang tepat, di posisi yang tepat, dan datang pada waktu yang tepat," kata Achmad Zaky.

Upaya Bukalapak Go International

Dengan fitur BukaGlobal yang telah diluncurkan beberapa waktu silam, Bukalapak coba memudahkan pelapaknya untuk berjualan di negara lain. Saat ini, mereka masih terus berupaya mengembangkannya.

"BukaGlobal baru start dan belum lama jadi baru coba-coba tapi sudah berpartner di Singapore, Brunei, Taiwan, Hongkong, dan Malaysia jadi UMKM yang sudah jadi lapak bisa berpotensi jual barangnya ke negara tersebut," jelas Even Alex Chandra Head of Public Policy & Government Relations Bukalapak, Kamis (5/12/2019), di seminar Global Sources Electronic Indonesia, Jakarta Convention Center (JCC).

Syaratnya pelapak harus memberikan yang terbaik dari segi kualitas barang dan pelayanannya, contohnya apakah saat si pelapak bisa cepat ketika membungkus barang. Sementara, barang yang bisa masuk kriteria juga baru di DKI Jakarta dan Tangerang.

"Syarat lainnya, tergabung komunitas Bukalapak, jadi nggak semua 5 juta pelapak tapi yang berkualitas yang bisa masuk global apa nggak. Ini upaya global, bisa jadi mercusuar, orang-orang bisa melihat yang benar-benar bagus dari Indonesia," sambungnya.

Jika ingin menjual keluar negeri, Anda harus membukanya lewat fitur BukaGlobal. Bukalapak juga menjamin pembeli luar negeri dari biaya-biaya tambahan dan ini adalah produk prioritas yang difokuskan:

1. Kosmetik halal
2. Busana muslim
3. Makanan dan bahan makanan
4. Keperluan rumah tangga
5. Minyak herbal, jamu
6. Kerajinan tangan

Untuk urusan legal atau tidaknya barang juga sudah dipikirkan oleh Bukalapak dan dibantu oleh Janio sebagai mitra logistik.

"Kalau di kita Buka Lapak jadi satu fitur sendiri, kalau misalnya barangnya yakin legal atau tidak, Bukalapak kan sifatnya platform buat jual dan beli, kita partnernya sama Janio, jadi akan urusan paperworks ini legal atau tidak mereka yang bantu," tutupnya.