Rabu, 11 Desember 2019

Wishnutama: Saya Selalu Kepikiran Desa di Pulau Komodo

 Baru-baru ini, Menparekraf Wishnutama mendatangi Pulau Komodo di Labuan Bajo, NTT. Dia mengaku masih terus kepikiran dengan desa yang ada di sana.

"Saya selalu kepikiran desa di Pulau Komodo. Bayangin, Pulau Komodo terkenal di dunia, tapi di desanya ada banyak hal yang memprihatinkan," katanya dengan nada yang berat kepada detikcom, Sabtu (7/12) malam.

Desa yang dimaksud adalah Desa Komodo di Pulau Komodo. Ada 2.000 jiwa penduduk di Pulau Komodo yang terbagi dalam 500 KK, 1 desa, 5 dusun dan 10 RT. Perlu diketahui, warga desanya sudah lama menempati Pulau Komodo, jauh sebelum Pulau Komodo ditetapkan sebagai kawasan taman nasional.

Wishnutama menjelaskan panjang lebar soal kunjungannya ke Pulau Komodo. Dia bercerita bertemu kepala desa setempat dan masyarakatnya, mereka menyampaikan banyak keluh kesah.

"Mereka minta dermaga dan listrik juga masih pakai genset. Saya pun belum sempat datang ke desanya, tapi nanti Insya Allah saya akan balik lagi dan datang ke sana," paparnya.

Menurut Wishnutama, salah satu cara untuk mensejahterakan masyarakat di Desa Komodo adalah dengan pariwisata. Pemerintah memasukkan Labuan Bajo (termasuk Pulau Komodo di dalamnya) untuk dijadikan destinasi wisata super premium.

Artinya, pembangunan pariwisatanya akan dikebut. Landasan pacu bandara akan ditambah, sehingga pesawat berbadan lebar bisa datang. Nantinya, lebih banyak lagi turis yang datang dan berkelas.

"Pariwisata itu bukan cuma devisa, tapi bagaimana mensejahterakan masyarakat. Pariwisata pun juga bukan cuma membangun infrastruktur, tapi juga membangun masyarakat atau empowering masyarakat," tuturnya.

Soal empowering masyarakat, Wishnutama ingin membuat suatu tempat bertema creative center di Labuan Bajo. Nantinya tempat itu bakal menjadi wadah untuk menampung para pelaku ekonomi kreatif.

"Di situ ada yang menyajikan kopi Flores, foto-foto, pentas budaya, dan lainnya, nanti juga bisa jadi sekaligus destinasi wisata. Saya sudah bicara ke Menteri PUPR Pak Basuki, beliau setuju. Tempatnya masih kita cari, kalau bisa yang menampilkan lanskap alam cantik," paparnya.

Wishnutama pun ingin memberikan bekal pelatihan kepada masyarakat Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Bekal pelatihan itu semacam coaching clinic dari pakar ekonomi kreatif, sampai antropologi.

Coaching clinic tersebut bukan hanya dari Kementerian Pariwisata Ekonomi dan Kreatif. Ada juga dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah serta dari Kementerian Ketenagakerjaan.

"Kita kembangkan potensi anak-anak mudanya, dari potensi ekonomi kreatif, kuliner, fashion, sampai videografi," tegas Wishnutama.

"Pariwisata tanpa didukung masyarakat, itu berat. PR kami sekarang, bagaimana pariwisata bisa melibatkan masyarakat, memberikan dampak perekonomian seperti lapangan kerja," tutupnya.

Komodo Mendunia, Tapi Masyarakatnya Gelap Gulita

Bisa dibilang, komodo sudah terkenal sampai mancanegara. Sayang kehidupan masyarakat di sana, justru masih hidup gelap gulita. Ironi!

Komodo menempati wilayah Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Gili Motang yang masuk dalam Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, NTT. Paling sering, komodo ditemui di Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang mana juga dihuni oleh penduduk.

detikTravel pada pekan lalu dari tanggal 26-29 Oktober 2016 datang ke Labuan Bajo dalam acara 'Let's Explore Labuan Bajo with Garuda Indonesia'. Pada hari Kamis (27/10) pekan lalu, detikTravel trekking menjelajahi Pulau Komodo dipandu oleh ranger setempat, Abdullah.

Sambil berjalan kaki dan melihat komodo dari dekat, Abdullah menjalaskan banyak hal. Selain soal komodo, dia juga menceritakan tentang kehidupan masyarakat di Pulau Komodo dan Pulau Rinca.

"Iya di sini (Pulau Komodo dan Pulau Rinca) kita hidup berdampingan dengan komodo. Sudah biasa sejak dulu, rumah kita modelnya seperti rumah panggung agar komodo tidak datang," katanya.

Di Pulau Komodo, tinggal sekitar 1.300-an orang jumlahnya tak jauh beda dengan di Pulau Rinca. Mata pencaharian penduduknya kebanyakan nelayan dan berternak kambing. Mata pencaharian lainnya dari ladang pariwisata dengan menjadi ranger, pemandu wisata atau pemahat patung komodo untuk suvenir.

Namun, cerita dari Abdullah ada yang menyayat hati. Lebih jauh dia bercerita tentang kehidupan masyarakatnya, muncul rasa ironi dalam hati. Masyarakatnya masih hidup dengan 'apa adanya'.

"Di Pulau Komodo dan Pulau Rinca belum ada listrik. Sudah terpasang tiang listrik tahun 2013 kalau tidak salah, tapi hanya tiangnya saja. Listriknya belum ada entah terealisasikan kapan," ungkap Abdullah.

Wishnutama Jelaskan Soal 'Ngapain Malaysia Jadi Saingan Kita'

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama tak mau lagi melihat Malaysia sebagai saingan pariwisata. Apa alasannya?

Dalam acara The Next Dev di Jakarta Convention Center, Sabtu (7/12/2019) Wishnutama hadir sebagai pembicara. Dirinya menyinggung soal persaingan pariwisata.

"Saya lihat nih, mohon maaf, Indonesia itu kayaknya emosi banget sama Malaysia sama Thailand, padahal ngapain mereka dijadiin saingan kita," terangnya.

Wishnutama menjelaskan, kerap kali dalam persaingan pariwisata, Indonesia dibanding-bandingkan dengan Malaysia dan Thailand. Terutama, jumlah kunjungan turis.

Wishnutama pun menyebut New Zealand. Dia memberikan contoh terkait jumlah kunjungan turis per tahun di sana dan spending-nya.

"Mau kompetisi ya kerenan dikit gitu ya, kita lihat New Zealand. Mereka visitor-nya cuma 4 juta setahun, tapi spending-nya 5 ribu USD. Kalau Indonesia, spending-nya masih 1.200 USD. Kita bicara kualitas. Experience pariwisata adalah kualitas," papar Wishnutama.

Dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (7/12) kemarin malam, Wishnutama menjelaskan lebih dalam perihal tersebut. Menurutnya, kini dirinya akan membawa arah persaingan dan strategi pariwisata yang baru.

"Yang jarang orang bahas, turis yang ke Malaysia sebanyak 25 juta pada tahun lalu, itu setengahnya dari cross border atau dari perbatasan. Seperti dari Singapura, Thailand, bahkan Indonesia," terangnya.

Wishnutama menuturkan, wisatawan cross border cenderung akan menghabiskan waktu menetap yang lebih sebentar dan pengeluaran yang lebih sedikit. Dinilai hal tersebut tidak bagus untuk pendapatan negaranya.

"Begitu juga Thailand dan Singapura, memang turis yang ke sana banyak tapi juga rata-rata dari negara di ASEAN semua. Turis cross border cenderung spending-nya akan lebih sedikit dibanding dengan yang long haul," paparnya.

Oleh sebab itu, Wishnutama mau mengincar turis yang datang dari negara jauh (long haul) daripada turis cross border. Wishnutama lebih banyak mau turis dari Eropa dan Amerika yang datang ke Indonesia.

"Kalau turis long haul, mereka pasti spending-nya bakal gede seperti waktu menginap, belanja suvenir, makan di restoran, dan lain-lain. Ya masa terbang 6 jam ke Indonesia, habis itu balik lagi, nggak kan? Tapi pasti mereka mau nikmatin dulu lebih lama," ungkapnya.

Dirinya ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Dirinya ingin pariwisata Indonesia menawarkan sesuatu yang beda dari yang lain.

"Turis dari cross border seperti dari Malaysia dan negara tetangga lain tentu kita perhatikan, tapi kita sekarang akan lebih meningkatkan lagi yang long haul. Kita incar turis yang jauh sekalian" tutupnya Wishnutama.

Labuan Bajo Jadi Wisata Super Premium, Wishnutama: Jangan Khawatir

Labuan Bajo di NTT jadi wisata super premium, tapi malah muncul kerisauan warga lokalnya. Menparekraf Wishnutama mengimbau jangan khawatir.

Presiden Jokowi sudah mencanangkan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium. Artinya, segementasi pasarnya tidak dicampur aduk.

Labuan Bajo sendiri merupakan bagian dari 5 Destinasi Super Prioritas. Artinya, pembangunan pariwisata di sana bakal dikebut dan dimaksimalkan supaya membuat turis nyaman dan jadi ladang devisa besar untuk negara.

Namun justru, hal tersebut membuat kerisauan khususnya bagi warga lokal di Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Mereka gusar, kalau jadi super premium, bisa jadi nanti turis yang datang malah sedikit.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama angkat bicara dan menjelaskan lebih mendalam soal Labuan Bajo menjadi destinasi wisata super premium. Pertama, dia meminta masyarakat untuk tidak melihatnya setengah-setengah.

"Untuk wisata super premium ini, jangan lihat setengah-setengah. Kita harus lihat secara utuh, apa sih yang pemerintah rencanakan, bagaimana strateginya, serta jangka ke depannya seperti apa," terang Wishnutama kepada detikcom, Selasa (3/12/2019).

"Yang pasti tujuan dijadikannya Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium adalah untuk kesejahteraan masyarakat, devisa negara, dan untuk menjaga alam," lanjutnya menambahkan.