Rabu, 11 Desember 2019

Jepang yang Pemalu, Toilet Saja Dibuat Bisa Bernyanyi

Sebagai negara maju, apa sih yang tidak bisa dimiliki Jepang? Namun mereka membuat toilet bisa bersenandung karena sifat pemalu orang-orangnya.

Apa yang traveler bayangkan tentang negara Jepang? Warganya yang bersih dan on time? Negara industri yang maju? Negara dengan ribuan vanding machine? Negara dengan Ztoilet canggih? Itu semua benar.

Namun dibalik fakta itu semua, warga Jepang sejatinya punya sifat yang pemalu. Dapat dilihat dari desain toilet mereka yang tak hanya canggih, namun juga bisa bersenandung.

detikcom bersama Smartfren datang ke Jepang. Kami pun singgah diberbagai tempat dan menemukan adanya tanda 'flushing sound' di salah satu tombol toiletnya.

"Orang Jepang sangatlah pemalu. Makanya di toilet mereka ada fitur 'flushing sound' untuk meredam bunyi-bunyi saat kita buang air besar," ungkap Andi, guide yang menemani detikcom di Jepang.

Di suatu kesempatan detikcom pun mencoba menggunakan fitur flashing sound ini. Bunyinya pun sungguh riuh seperti robot yang sedang berperang. Dan fitur ini memang bisa meredam bunyi 'plung-plung' dan keriuhan saat buang air besar.

Menariknya lagi, detikcom pun terkejut karena tidak menemukan tempat sampah untuk bekas tisu toilet. Ternyata tisunya langsung dibuang dan dihanyutkan ke toilet.

"Warga Jepang orangnya juga sangat bersih dan menjaga lingkungan. Tisu toilet mereka pun sudah di desain sedemikian rupa hingga saat di masukan ke toilet, tisu langsung hancur. Makanya mereka tidak butuh tempat sampah tisu toilet," jelas Andi.

Pada saat memasuki musim dingin ini, toilet juga menyesuaikan suhu. Dudukan dan airnya akan terasa hangat.

"Pada saat musim dingin dudukan toilet otomatis jadi hangat. Begitu juga dengan air bilasnya," tutup Andi.

Hal menarik lainnya yang detikcom temukan adalah adanya huruf braile di setiap fitur toilet. Berarti orang Jepang memikirkan kecanggihan memang untuk semua kalangan.

Perjuangan Jepang Melawan Pelecehan Seksual di Kereta

Siapa yang tidak bermimpi liburan ke Jepang? Namun ternyata, Jepang yang punya banyak destinasi indah juga punya sisi kelam berupa pelecehan seksual.

Dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (3/9/2019) pelecehan seksual di transportasi umum merupakan masalah besar di Jepang. Angka pelecehan seksual di Jepang pun cukup tinggi.

Ambil contoh di tahun 2017 lalu. Data dari Kepolisian Tokyo mencatat, terjadi 2.620 kasus pelecehan seksual di transportasi umum dan paling banyak di kereta dan stasiun. Paling banyak, pelecehan seksualnya berupa meraba-raba.

Bahkan suatu penelitian di Jepang mengenai pelecehan seksual menyebutkan, hanya 10 persen wanita Jepang yang melaporkan pelecehan seksual kepada polisi. Lebih banyak, memilih diam.

Pemerintah Jepang sebenarnya tidak menutup mata perihal pelecehan seksual di kereta. Sejak 20 tahun lalu, kereta di Jepang punya gerbong kereta khusus wanita.

Belakangan ini, pemerintah Jepang pun menambah banyak imbauan dan tempat-tempat khusus bagi wanita di stasiun-stasiun dan kereta-kereta. Sebut saja tempat khusus untuk menunggu kereta bagi wanita.

Imbauan di dalam kereta berupa sticker diperbanyak. Para wanita juga diminta untuk tidak segan melaporkan kepada petugas keamanan, jika melihat ada orang-orang mencurigakan yang mau melakukan pelecehan seksual.

Tahun 2016, kepolisian Jepang meluncurkan aplikasi DigiPolice. Lewat aplikasi ini, para korban pelecehan seksual tinggal memencet aplikasinya yang terhubung dengan kepolisian dan para pengguna lain. Sehingga, penumpang yang lain bisa tahu kalau ada pelaku pelecehan seksual di dekatnya.

Sebelumnya di tahun 2011, pemerintah Jepang memberlakukan aturan khusus soal kamera ponsel. Kamera ponsel harus berbunyi!

Sebabnya, banyak pula pelaku pelecehan seksual yang memotret wanita diam-diam apalagi bagi wanita yang memakai rok. Oleh sebab itu, segala jenis ponsel tidak boleh mematikan suara kamera ponsel alias tidak bisa di-silent. Hal tersebut pun dilakukan oleh berbagai pabrikan ponsel bahkan dari luar negeri, seperti Samsung dan Apple.

Berbagai inovator di Jepang pun mengeluarkan berbagai peralatan anti pelecehan seksual. Sebut saja stempel tak kasat mata, sampai aplikasi Chikan Radar. Aplikasi tersebut bagaikan suatu peta yang menampilkan lokasi-lokasi rawan pelecehan seksual dan kapan waktu-waktu mereka beraksi.

Seperti Ini Perayaan Rasa Syukur Orang Jepang

Sebagai negara maju yang tak lupa akan tradisi budaya, Jepang kembali merayakan festival Shinto. Inilah perayaan rasa syukur dan suka cita.

Musim dingin di Jepang tak mengurangi kemeriahan festival malam itu. Kembang api menyala terang, lentera-lentara terbang menutupi bukit dan pusat kota diiringi tangisan orang-orang yang berteriak "washoi, washoi". Malam itu menjadi puncak Festival Shinto yang telah berevolusi dari ucapan syukur atas hasil panen menjadi pertemuan setahun sekali antara dua dewa lokal.

Festival Shinto yang disebut sebagai Chichibu Night Festival telah berusia lebih dari 1000 tahun. Festival ini merupakan salah satu dari tiga festival paling terkenal di Jepang.

Ikon dari Festival Shinto adalah pelampung besar yang ditarik keliling kota. Pelampung yang tingginya mencapai 7 meter dengan berat hingga 15 ton itu ditarik menggunakan roda kayu besar oleh ratusan penduduk berpakaian tradisional. Mereka mengenakan ikat kepala, legging hitam, dan jaket katun tebal yang berhias karakter Jepang. Arak-arakan itu semakin meriah dengan tabuhan drum, tiupan peluit, dan nyanyian yang meriah.

Dilansir dari Associated Press, Selasa (10/12/2019), Shinto merupakan kepercayaan asli Jepang yang telah berusia ratusan tahun. Kepercayaan animisme ini mengakui adanya ribuan 'kami' atau roh yang menghuni alam, seperti hutan, sungai, dan gunung atau arwah nenek moyang. Para penganutnya didorong untuk hidup dalam harmoni dengan roh yang dipercaya bisa membantu mereka.

Menurut imam kepala Kuil Chicibu, Minoru Sonoda, festival yang berlangsung selama dua hari ini berakar dari tradisi lama penduduk desa yang bersyukur pada dewa gunung atas bantuannya selama musim tanam dan panen. Mantan pengajar studi religi dari Universitas Kyoto itu juga menjelaskan bahwa pada 2016, UNESCO telah menetapkan festival ini sebagai warisan budaya tak benda.

"Ini adalah waktu untuk merayakan karunia alam," kata Sonoda.

Pada abad pertengahan, festival itu berkembang menjadi sebuah perayaan pertemuan tahunan antara dewa gunung dengan dewi kota. Mereka dibawa dalam kotak bahtera berhias oleh sekelompok pria berpakaian putih melalui jalanan lalu diistirahatkan di taman kota sementara 6 pelampung dikumpulkan di alun-alun yang telah dipadati penonton. Setiap kedatangan pelampung itu dirayakan dengan ledakan kembang api.

Festival yang berlangsung setiap bulan Desember ini mampu menarik perhatian sampai 200 ribu orang. Namun dewasa ini, banyak orang Jepang tidak mengetahui cerita di balik festival itu. Mereka yang datang mengatakan kalau perayaan ini tidak memiliki arti religi untuk mereka meskipun mereka tetap ingin mempertahankan tradisi tersebut.

Mereka umumnya datang dari Tokyo menggunakan kereta dengan menempuh perjalanan sekitar 90 menit. Alasanya hanya untuk bersenang-senang dan mendapatkan pengalaman kebudayaan dengan ikut berjalan, menonton prosesi dan makan jajanan yang dijual di sekitar lokasi festival seperti cumi panggang, ayam yakitori, dan puluhan camilan lainnya.

Beberapa orang lainnya juga mengunjungi Kuil Chichibu untuk berdoa. Mereka akan berdoa menurut ajaran Shinto yaitu dengan bertepuk tangan dua kali untuk mendapatkan perhatian para dewa lalu membungkuk dengan tangan terlipat.

Salah satu pengunjung festival, Mitsua Yamashita (69) rupanya rutin mengikuti festival ini selama 15 tahun terakhir. Ia mengungkapkan alasan kedatangannya hanya untuk menikmati festival itu.

"Saya suka kembang api dan makanannya. (saya datang) murni untuk menikmatinya. Saya tidak terlalu memikirkan aspek agama. Orang Jepang tidak terlalu religius, dan dengan cara lain kami semua berada di tempat yang religius," katanya.

Banyak orang Jepang secara bebas mencampurkan agama tergantung pada kesempatan yang ada seperti festival ini. Mereka akan mengunjungi kuil Shinto di Tahun Baru, mengadakan pemakaman Buddha atau menikah dalam pernikahan Kristen, pilihan yang populer meskipun hanya 1% populasi Jepang yang menganut Kristen.

"Saya tidak tahu apakah itu berarti kami fleksibel atau kami tidak memiliki keyakinan," kata Yamashita.

Agama di Jepang diyakini sebagai budaya, hal yang komunal, dan ritualistik daripada keyakinan pribadi. Hal ini berbeda dengan negara lain di Asia, dunia Barat, atau negara-negara penganut Islam yang menekankan keyakinan individu atau seperangkat keyakinan berdasarkan pada kitab suci seperti Alkitab atau Alquran.

Shinto tidak memiliki teks suci atau teologi yang didefinisikan dengan jelas, dan banyak orang Jepang akan kesulitan untuk merangkumnya, termasuk para pengunjung festival ini.