E (29) diketahui mengalami depresi sebelum ditemukan tewas telanjang di Sungai Serang, Grobogan, Jateng. Perempuan itu sempat menghilang dua hari dari Ponpes Ki Ageng Serang.
"Menurut informasi dari pihak keluarga, korban menderita penyakit depresi/ODGJ. Kurang-lebih 3 bulan lalu dibawa berobat ke Ponpes Ki Ageng Serang milik Gus Jibril, yang beralamat di Dusun Cingkrong, Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, Grobogan," kata Kapolsek Penawangan AKP Saptono Widyo, Senin (9/12/2019).
Berdasarkan pengakuan keluarga, E diketahui mengalami depresi selama 9 bulan terakhir. Perempuan kelahiran Blora, 9 Maret 1990, itu merupakan seorang ibu rumah tangga.
Dia pernah tinggal bersama suaminya di Bahar Mulya RT 19 RW 04, Kecamatan Bahar Utara Kota, Kabupaten Muaro, Jambi, tapi kemudian dipulangkan ke Blora karena kondisi kesehatannya.
Saptono mengatakan pengampu Ponpes menyebut korban sempat menghilang selama dua hari sebelum ditemukan tewas dengan kondisi telanjang, Minggu (8/12) kemarin.
"Gus Jibril menyatakan korban meninggalkan ponpes selama dua hari dan tidak kembali lagi ke ponpes," ujarnya.
Kini keluarga telah membawa jenazah ke kampung halamannya di Dusun Ngelo Bener, Desa Jepon, Blora. Rencananya korban akan dikebumikan hari ini.
Dibekuk! Pelaku Pamer Alat Vital di Dekat Kampus UST Yogya
Seorang pria pelaku ekshibisionis atau tindakan memamerkan alat kelamin kepada orang asing ditangkap di dekat Universitas Sarjawanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta. Bagaimana ceritanya?
"Kami kemarin menangkap salah satu pelaku. Kebetulan pelaku memiliki kelainan seksual," ujar Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan Abeje Janoko kepada detikcom, Selasa (10/12/2019).
Abeje mengungkapkan peristiwa itu terjadi di gang yang berada di sebelah barat kampus, Jalan Batikan, Tuntungan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (7/12). Saat itu, satpam dan penjaga parkir mendengar teriakan seorang mahasiswi.
"Karena (pelaku) memperlihatkan (alat vital), mahasiswa teriak, lalu satpam bersama tukang parkir mengejar dan akhirnya tertangkap," ujar Abeje.
Pelaku, kata Abeje, langsung diamankan dan diborgol oleh petugas keamanan kampus. Hingga saat ini sudah ada empat mahasiswi yang melapor pernah menjadi korban aksi asusila itu.
"Tidak ada main hakim sendiri. Kami serahkan (pelaku) ke Polsek Umbulharjo," kata Abeje.
"Polsek sudah mendatangkan dokter dan membuktikan (pelaku memiliki kelainan seksual). Wajib lapor dua kali seminggu," lanjutnya.
Dihubungi terpisah, Kapolsek Umbulharjo Kompol Aal Prasetyo mengatakan tak ada laporan terkait kasus itu.
"Nggak ada, selama beberapa hari ini saya di kantor, nggak ada terus," kata Aal kepada detikcom.
Kaget Marak Pelecehan Seksual di Transportasi Umum, Kemenhub Akan Berbenah
Kementerian Perhubungan menilai survei yang dikeluarkan oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) terkait angka pelecehan seksual di transportasi umum sangat memprihatinkan. Kemenhub akan diskusi secara internal untuk membahas hal tersebut.
"Ya kami tentunya prihatin kaget dengan data ini, mohon data ini agar di-publish ke publik ya, data ini kan selama ini kita belum pernah tahu. Baru dari pertemuan diskusi di Komnas Perempuan ini baru terlihat bahwa ternyata banyak sekali pelecehan seksual ini," ujar Kepala Pusat Pengembangan Transportasi Berkelanjutan (PPT) Kemenhub Raden Ari Widianto di gedung Komnas Perempuan, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (17/11/2019).
Kemenhub, jelas Ari, akan mempertimbangkan aturan untuk melindungi pengguna jasa transportasi umum dari pelecehan seksual. Dengan begitu, pihaknya juga meminta organisasi, lembaga, atau aktivis mengirim masukan kepada Kemenhub.
"Tentunya kami dengan kewenangan yang ada di Kementerian Perhubungan akan berupaya memperbaiki apakah di undang-undangnya. Mumpung kami sedang merilis omnibus law kami mohon kerja samanya dari seluruh sektor terutama dari teman Komnas Perempuan, aktivis perempuan ataupun korban yang bisa memberi saran pendapat kepada kami Kementerian Perhubungan," katanya.