Selasa, 10 Desember 2019

Jokowi Kesal soal Ayam di Rest Area, Basuki: Harus Ada Jangkarnya

Baru-baru ini, Presiden RI Joko Widodo menumpahkan kekesalannya terkait brand asing penjual ayam goreng dan minuman kopi yang lebih menjamur di rest area tol di Indonesia. Brand-brand asing tersebut dirasa masih lebih banyak ketimbang produk lokal.

Beberapa nama menteri disentil Jokowi menyangkut hal itu, salah satunya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. Merespons hal tersebut, Basuki menjelaskan sudah ada aturan yang mengatur porsi asing dan lokal di sebuah rest area.

"Kan sudah ada aturan terkait 30% untuk (brand) asing dan 70% untuk lokal. Lagi pula, (brand asing) itu tetap harus ada seperti Starbucks atau KFC, karena tanpa itu, seperti yang kita liat di rest area Solo-Surabaya, isinya pick up semua," ujar Menteri Basuki di Gedung Kementerian PUPR, Selasa (10/12/2019).

Menurutnya, kehadiran brand asing di rest area harus tetap ada demi menjadi daya tarik bagi pengguna jalan atau sebagai jangkarnya. Sehingga, pada akhirnya pelaku usaha lokal lainnya dapat ikut diuntungkan.

"Harus ada KFC atau Starbucks satu jadi anchor (jangkar) nya, supaya orang mau ke situ jadi menyebar ke yang lain seperti ke Pecel Rawon," katanya.

Basuki pun memastikan bahwa porsi 70% keberadaan brand lokal di rest area maupun sentra-sentra ekonomi kawasan infrastruktur baru lainnya sudah terpenuhi sesuai aturan.

"Ya saya kira sudah ada 70% yang baru-baru (brand lokal) ya, seperti Sate Maranggi pasti ada, Soto Padang, Pecel Madiun, Rawon Uling, pasti ada," katanya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah memang sudah mengamanatkan aturan kepemilikan kios di rest area melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 10/PRT/M/2018 tentang Tempat Peristirahatan dan Pelayanan pada jalan tol.

Beleid ini menginstruksikan seluruh pengelola tol untuk menyediakan lahan pelaku usaha lokal sebanyak 70%. Khusus untuk UMKM dan Koperasi, aturan ini juga punya porsinya sendiri yaitu masing-masingnya wajib mengisi area sebesar 20% dan 30% di sebuah jalan tol yang baru beroperasi.

Jokowi Sindir Dominasi Kopi dan Ayam Goreng Asing di Rest Area

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta kepada jajaran menteri untuk memprioritaskan produk UMKM lokal berada di rest area atau tempat pemberhentian sementara jalan tol. Hal itu menyusul kualitasnya tinggi.

Hal itu diungkapkannya saat rapat terbatas (ratas) pemberdayaan UMKM Tahun 2020. Jokowi pun sempat menyinggung dominasi perusahaan kopi dan ayam goreng asing.

Dia pun memerintahkan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, serta Menteri BUMN Erick Thohir untuk menyusun prioritas pemberdayaan UMKM di rest area jalan tol.

Jokowi menyinggung soal eksistensi perusahaan kopi dan ayam goreng yang sudah mendominasi di Indonesia. Dalam pembukaan rapat terbatas (ratas) mengenai pemberdayaan UMKM tahun 2020 perusahaan lokal harus lebih mendominasi.

"UMKM ini sudah saya ulang-ulang ke Menteri PU (Basuki Hadimuljono), Menteri Perhubungan (Budi Karya) untuk mengisi sentra-sentra ekonomi di kawasan infrastruktur yang baru yang telah dibangun," kata Jokowi di kantor Presiden, Jakarta, Senin (9/12/2019).

"Misalnya rest area jalan tol, rest area di jalan tol isi dengan produk-produk brand lokal, karena yang lalu-lalu kita lihat kalau rest area itu pasti isinya kalau kopi ya kopi itu, kalau ayam ya ayam itu, nggak usah saya sebutkan saya kira Bapak Ibu tahu semuanya, ini mulai harus digeser" tambahnya.

Menurut Jokowi, produk kopi lokal dan ayam goreng lokal saat ini memiliki kualitas yang bagus. Bahkan, banyak kopi lokal dan ayam goreng lokal yang digemari oleh masyarakat.

Eks Gubernur DKI Jakarta ini mengungkapkan bahwa pemberdayaan UMKM nasional harus menjadi komitmen bersama. Lokasi yang akan mengutamakan UMKM lokal adalah rest area di jalan tol Trans Sumatera.

Kopi dan ayam goreng asing akan dibatasi?

Dikunjungi Prabowo di Kantor, Luhut: Makan Siang Saja

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bertemu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Kedua sahabat lama ini bertemu di kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Kemaritiman dan Investasai.

Usai pertemuan, Luhut dan Prabowo keluar barsama menuju lobi Kemenko Kemaritiman. Nampak pula Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin jalan bareng Luhut dan Prabowo di Kemenko Kemaritiman.

Saat ditanya soal isi pertemuan, Luhut enggan banyak komentar. "Makan siang saja," jawab Luhut sambil berjalan menuju mobilnya.

detikcom mencoba mengkonfirmasi langsung ke Ngabalin soal pertemuan yang dihadirinya bersama Luhut dan Prabowo. Ngabalin menyatakan itu hanya pertemuan makan siang biasa.

Katanya, Luhut dan Prabowo sudah lama tidak makan siang bareng. Menurutnya, tidak ada hal penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut.

"Beliau berdua sudah lama nggak makan siang. Jadi pertemuan siang tadi makan siang saja dan memang sudah lama nggak jumpa untuk agenda seperti lunch," ungkap Ngabalin lewat pesan WhatsApp kepada detikcom.

Usai pertemuan, Ngabalin ikut mendampingi Luhut menuju Istana Negara untuk rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo.

"Setelah itu saya mendampingi Pak Menko menuju istana untuk ratas dengan Bapak Presiden," kata Ngabalin.

Luhut Beri Aturan Main ke Edhy Prabowo Tangani Kapal Eks Maling Ikan

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan hari ini memanggil Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ke kantornya. Pertemuan tersebut membahas nasib kapal maling ikan ke depan.

Luhut mengatakan sudah memberikan aturan main tentang status bekas kapal maling ikan kepada Edhy. Hal ini terkait keinginannya yang menginginkan kapal tersebut untuk dihibahkan kepada orang yang membutuhkan.

"Kapal tadi kita bicara semua biarlah Pak Edhy buat studi dengan timnya. Tapi kita sudah jelaskan rambu-rambu bermain," ucap Luhut di kantornya, Selasa (19/11/2019).

Rambu-rambu bermain yang dimaksud Luhut adalah bagaimana aturan terkait penghibahan kapal itu bisa memberikan dampak positif bagi semua pihak.

"Jadi rambu-rambu bermain itu bagaimana nelayan bisa enak, terus Indonesia juga dapat revenue yang bagus, laut terpelihara baik, kemudian hubungan dengan negara-negara lain bagus," katanya.

Lebih lanjut, Luhut bilang bahwa semua itu dibutuhkan pengawasan dan perencanaan yang matang.

"Tapi ujung-ujungnya itu perencanaan yang matang dan pengawasan. Jadi pengawasan dan perencanaan yang matang," jelasnya.

Sebelumnya, Edhy mengatakan pihaknya tidak akan asal-asalan menyerahkan kapal maling ikan kepada penerima kapal. Edhy tidak mau, kapal yang sudah dihibahkan malah mangkrak atau malah dijual.

"Ya nanti dulu makanya kita liat kan yang jelas kami lagi menyiapkan siapa penerimanya, siapa yang akan menjadi tujuan. Begitu kita serahkan, kita harus cek sebulan dua bulan ke depan kapalnya menghasilkan nggak? Jangan-jangan mangkrak lagi atau malah dijual," tuturnya.