Selasa, 10 Desember 2019

Domain .id Kurang Diminati, Apa Penyebabnya?

Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI), yang merupakan operator domain .id menyebut sampai Juni 2019, pengguna domain .id baru mencapai angka 304 ribu.

Jumlah ini terbilang kecil, mengingat Indonesia saja mempunyai total penduduk lebih dari 260 juta jiwa. Sementara itu di dua negara tetangga Indonesia, rasio penggunaan domain lokalnya terbilang lebih baik.

Contohnya adalah Singapura, dengan jumlah penduduk sebanyak 5,5 juta jiwa, pengguna domain .sg mencapai 118 ribu. Sementara Malaysia yang jumlah penduduknya 32 juta jiwa, mempunyai 360 ribu pengguna domain .my.

Salah satu penyebab rendahnya pengguna domain .id di Indonesia ditenggarai adalah karena kurangnya literasi internet. Hal ini diutarakan pakar teknologi informasi dari Universitas Bina Nusantara Agung Trisetyarso.

Menurutnya, domain .id yang notabene merupakan country code Top Level Domain (ccTLD) Indonesia seharusnya bisa sejajar dengan domain unik dunia lainnya, seperti .tv milik Tuvalu, .me milik Montenegro, atau .co milik Kolombia. Namun ada syaratnya, yaitu masyarakat harus mendapat literasi internet yang memadai untuk menumbuhkembangkan minat menggunakan domain .id.

"Itu (kurangnya literasi internet) tentunya sedikit banyak mempengaruhi tingkat penggunaan domain .id di Indonesia," ujar Agung dalam keterangan yang diterima detikINET.

Ketika ditanyakan perihal dukungan dari pemerintah dalam pengembangan nama domain .id, dia mengaku memahami bahwa dengan luas wilayah Indonesia yang sangat besar, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Dia pun menekankan agar sinergi antar kementerian bisa lebih dipererat.

"Dengan masing-masing kapasitasnya, sinergi Kemenkominfo dengan Kemenristekdikti dinilai akan sangat efektif meningkatkan penggunaan domain .id," ujarnya.

Terkait dengan potensi pasar luar negeri, dimana pihak PANDI berencana untuk melakukan ekspansi nama domain .id ke luar negeri, Agung berpendapat bahwa itu merupakan hal yang positif.

"Sangat potensial karena memiliki keunikan," tukasnya.

Program Satu Juta Domain

Pemerintah melalui Kemenkominfo sebenarnya pernah menggagas program Satu Juta Nama Domain .id gratis kepada para pelaku Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM), desa, sekolah/pesantren, dan komunitas lokal pada 2017 lalu. Namun hingga program tersebut usai, hanya sekitar 50 ribu pengguna yang mendaftar, dan bahkan hanya 30 persen yang melanjutkan berlangganan di tahun kedua.

Ketua PANDI, Yudho Giri Sucahyo menilai, prevalensi penggunaan domain .com atau nama domain unik lain seperti .co dan .tv di Indonesia didorong oleh kesan bahwa penggunaan domain-domain tersebut lebih keren atau komersil.

"Tentunya, kami juga berupaya untuk membangun kesadaran korporasi-korporasi dalam negeri untuk beralih ke nama domain .id," tutur dia.

PANDI pun telah memantapkan rencananya untuk ekspansi domain .id ke luar negeri. Hal itu dilakukan lantaran domain .id memiliki peluang besar di pasar internasional. Menurut Yudho, domain .id memiliki potensi besar di pasar internasional. Salah satunya adalah keunikan dan makna dari nama domain .id itu sendiri. Nantinya, hingga akhir tahun 2019 ini, PANDI menargetkan 800 ribu nama domain .id terdaftar di registrar PANDI.

"Kelebihan nama domain .id yang merepresentasikan 'idea' atau 'identity' merupakan sebuah berkah tersendiri yang hanya dimiliki oleh nama domain .id. Hal ini harus dimanfaatkan supaya penjualan di luar negeri meningkat dengan pesat," tukas Yudho.

Domain Lokal my.id Digandrungi Milenial

Satu bulan setelah memasarkan nama domain my.id, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) menyebutkan, peminatnya terbilang signifikan. Mayoritas dari peminat tersebut berasal dari kalangan milenial.

Hal tersebut sesuai dengan target pemasaran PANDI dalam memasarkan domain my.id yang diperuntukkan sebagai website personal maupun aktivitas bisnis.

"Hal ini yang menjadi keunggulan nama domain my.id, karena bisa digunakan siapa saja untuk mengekspresikan diri dengan tulisan, blog, bisnis online, bahkan email pribadi. Selain itu Nama Domain my.id mudah diingat dan bisa merepresentasikan diri sebagai my identity atau my international domain," ungkap Yudho Giri Sucahyo selaku Ketua PANDI, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/11/2019).

PANDI mencatat, angka pendaftaran nama domain my.id per bulan Oktober 2019 sejumlah 2.491 pengguna. Angka tersebut diklaim meningkat 10 kali lipat dibandingkan dengan rata-rata pendaftaran pada bulan-bulan sebelumnya yang hanya berjumlah 207 pendaftaran.

Untuk terus menggenjot pengguna domain yang dikelolanya, PANDI menyederhanakan proses pendaftaran my.id, di mana tidak lagi memerlukan verifikasi dokumen apa pun dibandingkan dengan sebelumnya yang menggunakan KTP/paspor.

Adapun untuk saat ini hanya memerlukan verifikasi e-mail yang masih aktif. Hal ini diharapkan dapat memberikan keunggulan dan kemudahan bagi para pengguna my.id.

Yudho mengajak masyarakat yang belum memiliki nama domain my.id untuk segera memilikinya, agar nama domain berakhiran my.id tidak hilang.

"Karena nama domain ini sangat pas dipergunakan sebagai salah satu nama domain personal yang efisien untuk merefleksikan diri ke dalam dunia yang serba digital," ucap dia.

Sebagai informasi, PANDI dibentuk oleh komunitas Internet Indonesia bersama pemerintah sejak 29 Desember 2006 untuk menjadi registrasi domain .id. Pada 29 Juni 2007, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara resmi menyerahkan pengelolaan seluruh domain internet Indonesia kepada PANDI, kecuali domain go.id dan mil.id.

Kemudian, terhitung pada tanggal 16 September 2014, pemerintah menetapkan PANDI sebagai registri nama domain tingkat tinggi Indonesia.

Begini Cara PANDI Genjot Pengguna Domain .id

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) mencatat, data pertumbuhan nama domain .id hingga Q2 masih terbilang rendah, tepatnya baru mencapai 16%. Karena itulah diperlukan strategi khusus untuk menggenjot pertumbuhannya.

Setelah menetapkan strategi ekspansi pemasaran ke luar negeri yang telah dijalankan, kali ini PANDI selaku .id Registry akan membuat strategi untuk memperbanyak agen pemasaran untuk domain .id di dalam negeri.

"Kami akan memperbanyak agen-agen pemasaran Nama Domain .id agar aktivitas pemasaran semakin bertambah sehingga akan memicu pertumbuhan Nama Domain .id," ujar ketua PANDI, Yudho Giri Sucahyo dalam keterangan yang diterima detikINET.

"Harapan PANDI adalah memiliki agen pemasaran di seluruh pelosok wilayah Indonesia, bukan cuma tersentralisasi di Pulau Jawa," tambahnya.

Bertambahnya jumlah agen pemasaran bukan hanya untuk mempercepat pertumbuhan namun sekaligus akan memberikan keuntungan dari sisi brand awareness. Oleh karenanya, demi memudahkan kerjasama dengan agen pemasaran, .id Registry akan menyediakan sebuah sistem kerjasama tersebut.

Sesuai Visi PANDI selaku .id Registry, yaitu menjadikan Nama Domain .id menjadi domain utama masyarakat Indonesia. Yudho berharap semoga hal ini akan berdampak positif untuk percepatan pertumbuhan domain .id di Indonesia.

"Harapan kami dengan bertambahnya agen-agen pemasaran domain .id, masyarakat yang tadinya belum tahu menjadi tahu, yang sudah tahu, menjadi yakin dan mantap untuk memilih domain .id dibanding domain lainnya," tutup Yudho.