Selasa, 18 Mei 2021

Ngeri! WHO Sebut Tsunami COVID-19 di India Lebih Buruk dari yang Dilaporkan

 Pakar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkhawatirkan angka infeksi virus Corona di India lebih besar dari laporan resmi. Meski pada Senin (17/5) kasus harian cenderung menurun, namun tingkat kematian masih di angka 4 ribu orang per hari.

WHO menyebut angka infeksi Corona di India tidak dapat dijadikan patokan karena kurangnya pengujian di pedesaan, tempat virus juga menyebar dengan cepat dan akses menuju tempat pelacakan sulit dijangkau.


Bahkan dengan penurunan selama beberapa hari terakhir, ahli mengatakan tidak ada kepastian bahwa infeksi telah mencapai puncaknya, dengan kekhawatiran atas varian B1617 baru yang lebih menular.


"Masih banyak bagian negara yang belum mengalami puncak, mereka masih naik," kata kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan dilaporkan Straits Times mengutip surat kabar The Hindu.


Dr Swaminathan menunjuk pada tingkat positif nasional yang sangat mengkhawatirkan yaitu sekitar 20 persen dari tes yang dilakukan. Angka ini merupakan tanda bahwa mungkin ada gelombang yang lebih buruk segera datang.


"Pengujian masih tidak memadai di banyak negara bagian. Dan ketika Anda melihat tingkat positif pengujian yang tinggi, jelas kami tidak cukup menguji. Jadi, angka absolut sebenarnya tidak berarti apa-apa ketika diambil sendiri; mereka harus diambil dalam konteks seberapa banyak pengujian dilakukan, dan uji tingkat kepositifan," jelasnya.


Belum lagi anggapan bahwa tes PCR di India banyak yang tidak akurat. Dilaporkan bahwa hasil yang tidak akurat itu terjadi karena mutasi ganda COVID-19 yang menyebar di Negeri Bollywood itu.

Namun hal ini masih belum bisa diterima oleh para ahli yang mengaku bahwa fenomena ini masih diteliti dan belum dapat disimpulkan.


"Penurunan kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di India ini hanyalah ilusi," kata profesor kedokteran S. Vincent Rajkumar dari Mayo Clinic di Amerika Serikat.


Perdana Menteri Narendra Modi mendapat kecaman karena lambatnya peluncuran kampanye imunisasi di produsen vaksin terbesar dunia itu. Hingga saat ini India telah memvaksinasi penuh lebih dari 40,4 juta orang, atau 2,9 persen dari populasinya.

https://maymovie98.com/movies/the-darkest-hour/


Ada-ada Saja, Sopir Taksi Ini Pasang 100 Jimat di Mobilnya Biar Nggak Kena Corona


 Setelah memanjatkan doa, sopir taksi asal Thailand bernama Sopee Silpakit mengikatkan rantai jimat di lehernya lalu melompat ke belakang kemudi, didukung oleh ketenangan pikiran yang diberikan oleh ritual melawan COVID-19.

Pria berusia 65 tahun tersebut bekerja sebagai sopir taksi di Bangkok. Mata pencariannya membuat dia harus berhubungan dengan orang setiap harinya.


Hidupnya sekarang kembali diliputi kekhawatiran, sebab ibu kota Thailand menjadi pusat gelombang ketiga COVID-19.


"Saya berdoa pada jimat ini setiap hari: 'Jangan biarkan virus mendekati saya,'" ucapnya, seperti dikutip dari laman Manila Times.


"Saya benar-benar percaya bahwa mereka dapat melindungi saya dari virus dan menjaga saya dalam kesehatan yang baik," lanjutnya.


Thailand yang mayoritas beragama Buddha. Sebagian besar penduduknya percaya akan keberuntungan, yang salah satunya diharap bisa diperoleh melalui benda-benda yang diberkati pemuka agama.


Penggunaan jimat ini menyebar ke berbagai demografi. Tidak jarang seorang wirausaha terlihat memakainya di balik kaos polo mereka.


Jimatnya mungkin terlihat sederhana, seperti patung Buddha kecil. Atau lebih rumit, menampilkan ukiran yang dibungkus di balik penutup plastik untuk perlindungan.


Sopee, yang taksinya memiliki lebih dari seratus benda suci yang menghiasi mobilnya, mengaku lebih yakin taksinya bebas virus, daripada jika dia tidak memiliki perlindungan spiritual tersebut.


"Saya tidak terlalu peduli berapa harga jimat di taksi saya ini," tambahnya.


"Itu benar-benar tergantung pada seberapa besar nilainya bagi pikiran saya," lanjut Sopee.

https://maymovie98.com/movies/the-tent-of-love/

Dua Meninggal di DKI Usai Vaksin COVID-19, Batch CTMA457 Disetop

 Kementerian Kesehatan RI menyebut ada dua kasus KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) 'serius fatal' terkait pemberian vaksin COVID-19 di DKI Jakarta. Komnas KIPI mengungkap salah satunya seorang lansia dengan penyakit bawaan.

"Iya lansia, 61 tahun," kata Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Irawan Satari Senin (17/5/2021).


"Ada penyakit bawaan," lanjutnya.


Penyebab pasti meninggalnya lansia tersebut saat ini masih diinvestigasi bersama Dinas Kesehatan DKI. Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan uji sterilitas dan toksisitas terhadap vaksin Corona AstraZeneca batch (kelompok produksi) CTMA457.


Selama uji dilakukan, penggunaan batch tersebut disetop sementara. Lebih dari 400 dosis vaksin dari batch tersebut telah digunakan untuk TNI dan sebagian di DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.


Sebelumnya, seorang pria 22 tahun di Buaran, Jakarta Timur, juga meninggal sehari setelah mendapat vaksinasi COVID-19. Trio Fauqi Virdaus dikebumikan 6 Mei lalu dan akan diautopsi untuk memastikan penyebab kematiannya.


"Alhamdulillah (keluarga) sudah bersedia diautopsi, sedang disiapkan oleh Dinas Kesehatan DKI," jelas Prof Hindra.


2 Kasus Varian Corona Baru Masuk Jatim, Impor dari Malaysia


Dua kasus COVID-19 varian baru kembali teridentifikasi di Indonesia, kali ini di Jawa Timur. Keduanya ditemukan pada pekerja migran yang baru pulang dari Malaysia.

"Minggu lalu kita ketemu lagi dua mutasi baru, dua-duanya terjadi di Jatim," tutur Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers Senin (17/5/2021).


"Dua-duanya merupakan pekerja migran Indonesia yang datang dari Malaysia, mereka bawa satu mutasi Afrika Selatan, satu lagi dari London," tambah Menkes Budi.


Varian Afrika Selatan memiliki nama resmi B1351 dan dijuluki 'varian raja'. Sedangkan varian 'London' atau sering disebut varian Inggris adalah B117. Keduanya termasuk Variant of Concern (VoC) yang diwaspadai.


Temuan ini dibenarkah oleh Jubir Satgas COVID-19 Jatim dr Makhyan Jibril. Menurutnya, kedua kasus ditemukan pada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Jember dan Sampang, Madura.


"Iya benar, dua varian baru itu dari PMI yang datang ke Jatim sejak 27 April kemarin. Varian UK PMI asal Jember dan Afsel itu PMI asal Sampang," katanya, saat dikonfirmasi detikcom, Senin (17/5/2021).


Melalui genome sequencing, didapatkan 78 kasus konfirmasi positif pada TKI yang tiba di Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, 76 kasus terinfeksi varian lama.


"Sedangkan 2 PMI, saat sampelnya di-sequencing, menunjukkan varian baru," kata Jibril.

https://maymovie98.com/movies/the-intern-a-summer-of-lust/


Ngeri! WHO Sebut Tsunami COVID-19 di India Lebih Buruk dari yang Dilaporkan


Pakar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkhawatirkan angka infeksi virus Corona di India lebih besar dari laporan resmi. Meski pada Senin (17/5) kasus harian cenderung menurun, namun tingkat kematian masih di angka 4 ribu orang per hari.

WHO menyebut angka infeksi Corona di India tidak dapat dijadikan patokan karena kurangnya pengujian di pedesaan, tempat virus juga menyebar dengan cepat dan akses menuju tempat pelacakan sulit dijangkau.


Bahkan dengan penurunan selama beberapa hari terakhir, ahli mengatakan tidak ada kepastian bahwa infeksi telah mencapai puncaknya, dengan kekhawatiran atas varian B1617 baru yang lebih menular.


"Masih banyak bagian negara yang belum mengalami puncak, mereka masih naik," kata kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan dilaporkan Straits Times mengutip surat kabar The Hindu.


Dr Swaminathan menunjuk pada tingkat positif nasional yang sangat mengkhawatirkan yaitu sekitar 20 persen dari tes yang dilakukan. Angka ini merupakan tanda bahwa mungkin ada gelombang yang lebih buruk segera datang.


"Pengujian masih tidak memadai di banyak negara bagian. Dan ketika Anda melihat tingkat positif pengujian yang tinggi, jelas kami tidak cukup menguji. Jadi, angka absolut sebenarnya tidak berarti apa-apa ketika diambil sendiri; mereka harus diambil dalam konteks seberapa banyak pengujian dilakukan, dan uji tingkat kepositifan," jelasnya.


Belum lagi anggapan bahwa tes PCR di India banyak yang tidak akurat. Dilaporkan bahwa hasil yang tidak akurat itu terjadi karena mutasi ganda COVID-19 yang menyebar di Negeri Bollywood itu.

https://maymovie98.com/movies/midnight-hair/