Selasa, 23 Maret 2021

Apa Itu Nomor Batch? Sering Disebut Terkait Obat dan Vaksin

  Nomor batch adalah istilah lain untuk kode produksi, atau disebut juga nomor bets. Istilah ini kerap disebut oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), termasuk dalam kaitannya dengan obat dan vaksin.

Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) menyebut, batch atau bets adalah sejumlah obat yang mempunyai sifat dan mutu yang seragam yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan atas suatu perintah pembuatan tertentu.


"Esensi suatu bets adalah homogenitasnya," tulis BPOM dalam pedoman tersebut.


Terkait dengan isu keamanan vaksin AstraZeneca, BPOM menyebut nomor batch vaksin yang masuk ke Indonesia berbeda dengan yang ditangguhkan di beberapa negara Eropa. Penangguhan ini terkait laporan beberapa kasus pembekuan darah setelah penyuntikan.


BPOM menyebut, vaksin AstraZeneca yang masuk ke Indonesia melalui fasilitas COVAX memiliki nomor batch CTMAV504, CTMAV514, dan CTMAV516. Sementara nomor batch atau bets produk vaksin AstraZeneca yang diinvestigasi terkait beberapa kasus pembekuan darah di wilayah Eropa, memiliki nomor batch ABV5300, ABV3025, dan ABV2856.


"Walaupun vaksin COVID-19 AstraZeneca dengan nomor bets ABV5300, ABV3025, dan ABV2856 tidak masuk ke Indonesia, namun untuk kehati-hatian BPOM bersama ITAGI melakukan kajian lebih lanjut sejak diketahui isu keamanan tersebut," jelas BPOM dalam rilisnya pada Rabu (17/3/2021).


Belakangan, BPOM telah memastikan vaksin ini aman digunakan dan bisa segera didistribusikan. Badan obat Eropa European Medicines Agency (EMA) maupun organisasi kesehatan dunia WHO juga telah menegaskan manfaat vaksin ini lebih besar dari kemungkinan risikonya.

https://indomovie28.net/movies/sex-couple/


COVID-19 Belum Terkendali, Kenapa Orang Indonesia Susah Sekali Jaga Jarak?


 Virus Corona COVID-19 pertama kali diidentifikasi di Indonesia pada Maret 2020. Mulai dari sana, masyarakat Indonesia diwajibkan untuk menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker.

Sosiolog dari Universitas Indonesia Daisy Indira Yasmine menyebutkan, dari tiga protokol kesahatan yang diwajibkan yang paling susah untuk diterapkan adalah menjaga jarak. Mengapa?


"Jaga jarak fisik, ini yang paling sulit dan paling rendah sebenarnya, dari persentasi kepatuhannya, karena apa? kalau menurut saya faktornya ada banyak, jaga jarak ini juga berkaitan dengan kerumunan-kerumunan," jelas Daisy, dalam diskusi online "Refleksi Setahun Pandemi: Masyarakat Semakin Abai atau Peduli" melalui Zoom, Senin (22/3/2021).


"Budaya Indonesia itu senengnya kumpul-kumpul, kan kita punya filosofi yang Mangan ora makan yang penting kumpul, nah ini kita nggak boleh kumpul, makan nggak, tapi kumpul juga nggak boleh," tambahnya.


Selain itu, Daisy juga menyebutkan, menjaga jarak menjadi salah satu tantangan untuk masyarakat Indonesia yang hobinya kumpul-kumpul.


Daisy juga menyayangkan sikap masyarakat ketika mengantre disalah satu supermarket tetapi tidak ada panduan yang jelas mengenai hal itu.


"Jaga jarak fisik itu sulit sekali, seperti mengantre di kasir,padahal sudah ada batasnya, kita tetap saja orang menempel ke punggung orang di depannya," pungkasnya.

https://indomovie28.net/movies/invisible-sister/

Sebagian Pasien COVID-19 Bisa Mengalami Gejala Hilang Pendengaran

  Studi terbaru menyebut seseorang yang terinfeksi COVID-19 juga bisa mengalami hilangnya fungsi pendengaran. Ini menambah daftar panjang berbagai gejala terkait COVID-19.

Para peneliti dari University of Manchester and Manchester Biomedical Research Centre mengetahuinya setelah mengalisa 24 studi yang meneliti hubungan antara COVID-19 dengan masalah vestibular. Di dalam tubuh, sistem vestibular merupakan bagian dalam telinga dan otak yang berperan penting mengendalikan keseimbangan.


Lebih detail peneliti menyebut kemungkinan ada 7,6 persen pasien COVID-19 yang mengalami gejala hilang fungsi pendengaran, 14,8 persen mengalami gejala tinnitus, dan 7,2 persen mengalami vertigo.


"Bila studi-studi ini benar, maka sekitar 7-15 persen pasien bisa mengalami gejala tersebut. Ini adalah sesuatu yang harus kita hadapi dengan serius," komentar Profesor Kevin Munro dari Manchester Centre for Audiology and Deafness.


"Ini akan berdampak besar pada layanan kesehatan bila semakin banyak pasien yang mengaku mengalaminya... Ada beberapa pasien yang gejalanya masih berlangsung, ada juga yang mengaku sudah agak membaik. Jadi masih ada banyak hal yang belum kita ketahui," lanjutnya seperti dikutip dari Sky News, Senin (22/3/2021).


Peneliti tidak mengetahui pasti bagaimana COVID-19 menyebabkan gangguan fungsi pendengaran. Namun, pada virus lain, seperti campak, meningitis, dan gondok biasanya ini terjadi karena sel sensor di telinga mengalami kerusakan akibat infeksi.

https://indomovie28.net/movies/hello-my-dolly-girlfriend/


Apa Itu Nomor Batch? Sering Disebut Terkait Obat dan Vaksin


 Nomor batch adalah istilah lain untuk kode produksi, atau disebut juga nomor bets. Istilah ini kerap disebut oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), termasuk dalam kaitannya dengan obat dan vaksin.

Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) menyebut, batch atau bets adalah sejumlah obat yang mempunyai sifat dan mutu yang seragam yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan atas suatu perintah pembuatan tertentu.


"Esensi suatu bets adalah homogenitasnya," tulis BPOM dalam pedoman tersebut.


Terkait dengan isu keamanan vaksin AstraZeneca, BPOM menyebut nomor batch vaksin yang masuk ke Indonesia berbeda dengan yang ditangguhkan di beberapa negara Eropa. Penangguhan ini terkait laporan beberapa kasus pembekuan darah setelah penyuntikan.


BPOM menyebut, vaksin AstraZeneca yang masuk ke Indonesia melalui fasilitas COVAX memiliki nomor batch CTMAV504, CTMAV514, dan CTMAV516. Sementara nomor batch atau bets produk vaksin AstraZeneca yang diinvestigasi terkait beberapa kasus pembekuan darah di wilayah Eropa, memiliki nomor batch ABV5300, ABV3025, dan ABV2856.


"Walaupun vaksin COVID-19 AstraZeneca dengan nomor bets ABV5300, ABV3025, dan ABV2856 tidak masuk ke Indonesia, namun untuk kehati-hatian BPOM bersama ITAGI melakukan kajian lebih lanjut sejak diketahui isu keamanan tersebut," jelas BPOM dalam rilisnya pada Rabu (17/3/2021).


Belakangan, BPOM telah memastikan vaksin ini aman digunakan dan bisa segera didistribusikan. Badan obat Eropa European Medicines Agency (EMA) maupun organisasi kesehatan dunia WHO juga telah menegaskan manfaat vaksin ini lebih besar dari kemungkinan risikonya.

https://indomovie28.net/movies/getting-naked-a-burlesque-story/