Selasa, 09 Februari 2021

Ulama Iran Klaim Vaksin COVID-19 Bikin Orang Jadi Gay, Benarkah? Ini Faktanya

 Seorang ulama di Iran, Ayatollah Abbas Tabrizian, menyebut vaksinasi COVID-19 bisa mengubah orang-orang jadi homoseksual alias gay. Hal ini diungkapkan lewat akun Telegram-nya yang diikuti oleh sekitar 210.000 orang.

"Jangan dekati orang-orang yang sudah divaksinasi COVID. Mereka jadi homoseksual," kata Ayatollah Abbas Tabrizian seperti dikutip dari Arab News, Selasa (9/2/2021).


Tokoh oposisi di Iran, Sheina Vojoudi, menuduh isu hoax tersebut sengaja disebarkan untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan vaksin pada rakyat. Sampai saat ini tidak ada sumber ilmiah yang menjelaskan kaitan antara vaksin COVID-19 dengan homoseksualitas.


"Dia sengaja menyebarkan kebohongan supaya orang-orang tidak mau divaksin, sementara pemimpin rezim mendapat vaksin COVID-19 dari Pfizer. Mereka kemudian tidak menyediakan vaksin untuk rakyat dengan alasan tidak percaya pada Barat," kata Sheina.


Ahli berkali-kali membantah tudingan miring soal berbagai mitos bahaya vaksin. Direktur program imunisasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Kate O'Brien, memastikan bahwa vaksin COVID-19 yang sudah mendapat izin terbukti aman karena kandungannya sudah satu-satu diuji.


"Semua kompenan di dalam vaksin sudah sangat teruji aman pada dosis yang sesuai. Vaksin memang mengandung berbagai macam senyawa, tapi tiap senyawa itu sudah diuji jauh-jauh sebelum diberikan pada manusia," kata Kate seperti dikutip dari situs resmi WHO, Selasa (9/2/2021).

https://tendabiru21.net/movies/house-ii-the-second-story/


Heboh Ramalan Bill Gates soal Ancaman Pandemi di Masa Depan


- Bill Gates memprediksi akan ada ancaman besar bagi dunia dan bisa mengancam jiwa di kemudian hari. Ia pun tak menampik kemungkinan pandemi selain COVID-19 bisa terjadi di masa datang.

"Ada sejumlah virus pernapasan, dan dari waktu ke waktu, salah satunya akan datang, itu sangat menular dan menyebabkan tingkat kematian yang cukup tinggi," sebutnya dalam wawancara di YouTube, dikutip dari Republic World.


"Penyakit pernapasan sangat menakutkan, karena Anda masih berjalan di pesawat, bus saat Anda tertular, tidak seperti beberapa penyakit lain seperti Ebola," lanjutnya.


Sebenarnya, para ahli dan ilmuwan sudah menjelaskan kemungkinan terjadinya pandemi selain COVID-19. Hal ini berkaca pada sejumlah ancaman virus yang disebutkan masih berisiko terus mewabah.


"Dalam 20 tahun terakhir, kami menghadapi enam ancaman signifikan - SARS, MERS, Ebola, flu burung, dan flu babi," kata Profesor Matthew Baylis dari Universitas Liverpool kepada BBC News.


"Kami menghindari lima virus tadi hingga akhirnya COVID-19 berhasil menyerang," sebutnya.


Prof Matthew menyebut perlu mengidentifikasi lebih banyak virus yang bisa muncul dari satwa liar.


"Dan ini bukan pandemi terakhir yang akan kami hadapi, jadi kami perlu melihat lebih dekat pada penyakit satwa liar," bebernya.


Prediksi Bill Gates soal pandemi bukan hal baru. Ia juga pernah memprediksi hal ini di 2015 silam saat COVID-19 belum merebak.


Apa yang diramal Bill Gates saat ini?

"Satu adalah perubahan iklim. Setiap tahun akan ada angka kematian yang lebih besar daripada pandemi ini (akibat perubahan iklim)," katanya, seperti yang dikutip dari Republic World.


Bencana lain yang disebutkan Bill Gates akan terjadi yaitu bio terorisme. Disebutnya, bisa memicu kerusakan parah.


"Bio terorisme. Seseorang yang ingin mengakibatkan kerusakan bisa menciptakan virus dan itu artinya, peluang untuk menuju ke arah ini lebih besar daripada epidemi yang disebabkan oleh alam seperti saat ini," beber Bill Gates.


TERUSKAN MEMBACA, KLIK DI SINI.

https://tendabiru21.net/movies/from-one-second-to-the-next/

Menkes Wanti-wanti Jokowi Kasus COVID-19 Akan Naik, Tapi Tak Perlu Panik

 - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan kasus infeksi virus Corona masih akan terus naik. Hal ini lantaran pihak Kemenkes tengah menggencarkan 3T (Testing, Tracing, Treatment) untuk menekan laju penularan COVID-19.

Menkes menyebut telah mengingatkan Presiden Joko Widodo akan adanya kenaikan kasus, namun tidak perlu panik.


"Saya juga sudah ingatkan ke Bapak Presiden, ini strategi di India, ya akan terjadi nanti jumlah kasus akan naik karena akan lebih banyak yang terlihat. Saya bilang ke Presiden, bapak ibu (DPR RI) tidak usah panik," katanya dalam rapat bersama komisi IX DPR RI, Selasa (9/2/2021).


Lebih baik kita lihat realnya seperti apa sehingga strategi kita benar daripada yang kita lihat sedikit, kita senang, padahal kenyataan nya jauh lebih banyak sehingga langkah kita salah," lanjutnya.


Atas masukan dari sejumlah epidemiologi, Menkes mengatakan pihaknya akan meningkatkan jumlah testing untuk mempercepat identifikasi seberapa luas penularan virus Corona di masyarakat.


Ke depannya, testing dilakukan ke 15-30 kontak erat per kasus aktif yang dikejar dalam waktu 72 jam. Untuk kebutuhan tracing, alat diagnosa yang dipakai adalah swab antigen sebab bisa mengidentifikasi dalam waktu cepat.


Menkes menyebut WHO juga sudah menyetujui penggunaan swab antigen untuk diagnosa kasus positif.


"Yang dipakai deteksi adalah swab antigen. Swab antigen bagusnya cepat dan bisa langsung di titiknya. Kalau positif swab antigen, langsung masuk kasus positif," ujar Menkes.

https://tendabiru21.net/movies/the-prisoner-of-second-avenue/


Ulama Iran Klaim Vaksin COVID-19 Bikin Orang Jadi Gay, Benarkah? Ini Faktanya


 Seorang ulama di Iran, Ayatollah Abbas Tabrizian, menyebut vaksinasi COVID-19 bisa mengubah orang-orang jadi homoseksual alias gay. Hal ini diungkapkan lewat akun Telegram-nya yang diikuti oleh sekitar 210.000 orang.

"Jangan dekati orang-orang yang sudah divaksinasi COVID. Mereka jadi homoseksual," kata Ayatollah Abbas Tabrizian seperti dikutip dari Arab News, Selasa (9/2/2021).


Tokoh oposisi di Iran, Sheina Vojoudi, menuduh isu hoax tersebut sengaja disebarkan untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan vaksin pada rakyat. Sampai saat ini tidak ada sumber ilmiah yang menjelaskan kaitan antara vaksin COVID-19 dengan homoseksualitas.


"Dia sengaja menyebarkan kebohongan supaya orang-orang tidak mau divaksin, sementara pemimpin rezim mendapat vaksin COVID-19 dari Pfizer. Mereka kemudian tidak menyediakan vaksin untuk rakyat dengan alasan tidak percaya pada Barat," kata Sheina.


Ahli berkali-kali membantah tudingan miring soal berbagai mitos bahaya vaksin. Direktur program imunisasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Kate O'Brien, memastikan bahwa vaksin COVID-19 yang sudah mendapat izin terbukti aman karena kandungannya sudah satu-satu diuji.


"Semua kompenan di dalam vaksin sudah sangat teruji aman pada dosis yang sesuai. Vaksin memang mengandung berbagai macam senyawa, tapi tiap senyawa itu sudah diuji jauh-jauh sebelum diberikan pada manusia," kata Kate seperti dikutip dari situs resmi WHO, Selasa (9/2/2021).

https://tendabiru21.net/movies/the-second-time-around/