Selasa, 12 Januari 2021

Bocoran Wujud Trio Flagship Huawei P50

   Huawei dikabarkan tengah menyiapkan produk flagship terbarunya, P50 Series sebagai suksesor Huawei P40 Series. Kabarnya ada tiga varian yang bakal dirilis, yakni Huawei P50, P50 Pro, dan P50 Pro+.

Ketiga model tersebut diprediksi akan menggunakan tiga jenis layar berbeda. Strategi tersebut serupa dengan yang diterapkan Huawei pada P40 Series yang diluncurkan pada tahun 2020 silam.


Seri paling bungsu, Huawei P50 dilekatkan layar lengkung jenis micro curved. Layar ini memiliki lengkungan di sisi kanan dan kirinya sehingga memberikan sudut pandang lebih luas.


Berikutnya Huawei P50 Pro menerima layar jenis hyperboloid. Kelengkungan layarnya lebih besar jika dibandingkan dengan layar micro curve di seri P50.


Sementara itu, versi paling tinggi yaitu Huawei P50 Pro+ dipasangkan dengan layar quad curved. Layar tersebut memiliki lengkungan menyeluruh baik di sisi kanan, kiri, atas, dan bawah sehingga bagian depan perangkat terisi penuh oleh layar, tidak ada lagi bezel.


Seperti dikutip detikINET dari Gizchina, Senin (11/1/2021), bocoran gambar yang diduga sebagai rupa Huawei P40 Pro telah beredar di dunia maya. Pada gambar tersebut, nampak di bagian belakang terpasang empat unit kamera, termasuk kamera telephoto periskop.


Berdasarkan bocoran paten desain yang pernah diungkap, Huawei akan menggunakan teknologi liquid lens pada kamera P50 Series. Lensa tersebut memiliki kecepatan fokus yang sangat baik, nyaris setara kemampuan fokus mata manusia.


Adapun sektor dapur pacu pada Huawei P50 Series kemungkinan tetap mengandalkan prosesor Kirin 9000 5nm. Kabar lain menyebut ada pula kemungkinan seri flagship ini dipersenjatai chipset Mediatek.

https://movieon28.com/movies/the-guys-2/


Ini Ninu, Parfum Pintar Pertama di Dunia


Perhelatan CES selalu menghadirkan perangkat unik. Tahun ini ada Ninu, parfum pintar pertama di dunia.

Ninu mencoba menggabungkan parfum kualitas tinggi dengan teknologi terkini. Nuansa futuristik begitu kental terlihat dari kemasannya.

Mengusung material metal dengan sentuhan desain premium Italia. Hadir dalam dua warna rose gold untuk wanita dan hitam untuk pria.


Terdapat tombol sentuh untuk mengaktifkannya. Selain itu ada LED ambient yang menghiasi bagian bawahnya yang bikin menarik tampilannya.

Di dalam kemasan utama tersimpan tiga botol yang berisikan parfum yang berbeda wewangiannya dan bisa diisi ulang. Ketiganya parfum tersebut nantinya dipadukan satu sama lain sehingga menghadirkan wangi yang berbeda tiap harinya.


Pengguna tidak perlu repot-repot meracik manual untuk mendapatkan wangi yang berbeda tiap harinya. Hanya cukup menekan menu di aplikasi yang telah disiapkan Ninu.


Aplikasi tersebut dibekali AI yang dapat mempersonalisasi wangi parfum. Jadi penggunanya bisa menyesuaikan dengan mood, musim atau kegiatan.


Belum ada informasi soal harga parfum Ninu. Mungkin baru akan diumumkan saat perhelatan CES 2021 mulai digelar.


Telkomsel Perkuat Jaringan di Titik Evakuasi Sriwijaya Air SJ-182


Telkomsel berupaya membantu proses evakuasi pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan laut Kepulauan Seribu dengan memperkuat jaringannya di sejumlah titik.

Direktur Network Telkomsel, Hendri Mulya Syam, mengungkap sejak Sabtu (9/1), Telkomsel telah melakukan penambahan kapasitas dan pengamanan kualitas jaringan BTS yang mencakup area utama seperti Posko Basarnas di Jakarta International Container Terminal (JICT) 2-Pelabuhan Tanjung Priok, Posko Crisis Center di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang dan Bandara Supadio Pontianak, serta Posko Antemortem-DVI RS Polri Kramat Jati.


Upaya yang telah dilakukan dengan berkoordinasi bersama pihak TNI AL, Kepolisian RI hingga Badan SAR Nasional (Basarnas) ini guna mengantisipasi lonjakan trafik komunikasi di area tersebut seiring dengan diaktifkannya sejumlah tim yang sudah mulai melakukan proses evakuasi, penyelamatan dan identifikasi korban.


Selain itu, Telkomsel juga telah mengoperasikan tambahan masing-masing satu unit Compact Mobile BTS (Combat) Telkomsel di area JITC 2 Pelabuhan Tanjung Priok dan RS Polri sebagai antisipasi kenaikan kapasitas trafik komunikasi di sekitar lokasi Posko Basarnas dan Posko Antemortem-DVI.


Berkoordinasi dengan kesatuan Dinas Komunikasi dan Elektronika (Diskomlek) TNI AL, Telkomsel juga mengoperasikan tambahan satu unit BTS Merah Putih di Kapal Rakyat Indonesia (KRI) Semarang yang telah difungsikan sebagai salah satu KRI untuk proses evakuasi dan penyelamatan korban di titik jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu.

https://movieon28.com/movies/the-guys/

Mereka Kembangkan Aplikasi Chat dengan Orang yang Telah Tiada

 Merindukan sosok yang telah tiada adalah hal yang wajar. Berbekal perasaan tersebut, ada beberapa orang yang mengembangkan chatbot untuk berbincang dengan orang terkasih yang sudah lebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Pertama adalah yang dilakukan oleh Eugenia Kuyda. Pada 28 November 2015, seorang pemuda Belarusia meninggal ketika ditabrak mobil di Moskow. Namanya Roman Mazurenko dan saat itu baru berusia 30-an.


Setelah kematiannya, Eugenia kerap merindukan Roman dan membaca kembali ribuan pesan teks yang telah dia kirimkan dengannya mulai tahun 2008, tahun mereka bertemu. Eugenia, yang juga seorang pengusaha dan pengembang perangkat lunak, pun mengerjakan aplikasi messenger bernama Luka yang menggunakan AI untuk meniru dialog manusia.


Terinspirasi oleh episode acara Black Mirror di mana seorang wanita muda, Martha, yang hancur karena kehilangan pacarnya Ash, kemudian menginstal aplikasi yang memungkinkannya untuk terus berkomunikasi dengannya, Eugenia memutuskan untuk memodifikasi Luka.

https://movieon28.com/movies/satans-slave/


Eugenia meminta teman dan kerabat Roman untuk mengiriminya pesan tertulis yang mereka terima darinya. Dia mendapatkan beberapa ribu pesan, yang kemudian dia sortir untuk konten yang terlalu pribadi. Dengan bantuan beberapa temannya yang merupakan ilmuwan komputer, dia menciptakan bot yang dapat meniru bahasa manusia dan memungkinkan untuk berkomunikasi dengan 'Roman'.


Luka dan Replika bukanlah satu-satunya penemuan yang dirancang untuk mendengar kabar dari replikasi digital seseorang. Beberapa tahun lalu, James Vlahos, seorang jurnalis Amerika yang telah menjadi penggemar AI sejak kecil, menciptakan apa yang dia sebut 'Dadbot'.


Semuanya dimulai pada 24 April 2016, ketika ayahnya John didiagnosis menderita kanker paru-paru. Setelah mengetahui penyakit ayahnya, James mulai merekam semua percakapan mereka. Setelah 12 sesi, masing-masing satu setengah jam, dia mamppu menyimpan 91.970 kata.


Transkrip yang dicetak mengisi sekitar 203 halaman. Ini semua berisi sejumlah kenangan, lagu, anekdot dan hal-hal menyentuh tentang pernikahan John, poin-poin tertinggi dalam karirnya, serta semua minatnya. Semua materi ini, selain ditranskripsikan, juga diarsipkan dalam file MP3 di komputer James.


Suatu hari, James menemukan sebuah artikel yang mendeskripsikan sebuah proyek yang dilakukan oleh dua peneliti Google. Proyek ini memasukkan sekitar 26 juta baris dialog film ke dalam jaringan saraf untuk membangun chatbot yang dapat berinteraksi dengan manusia. Setelah mencapai tujuannya, kedua peneliti mulai mengajukan serangkaian pertanyaan filosofis kepada chatbot termasuk tentang tujuan hidup.


Terinspirasi dari ini, ia memutuskan untuk menggunakan rekaman ayahnya untuk membuat sesuatu lebih besar dari sekadar buku kenangan. Dia ingat pernah menulis artikel yang membahas PullString (sebelumnya dikenal sebagai ToyTalk), program yang dirancang untuk membuat percakapan dengan karakter fiksi.


James menggunakan PullString untuk mengatur ulang rekaman MP3 ayahnya. Dia juga menggunakannya untuk membuat Dadbot, perangkat lunak yang berfungsi di smartphone dan mensimulasikan percakapan tertulis dengan John, berdasarkan pemrosesan hampir 100.000 kata yang sudah direkam sebelumnya.


Sejak kematian John, James masih mengobrol dengannya untuk meredakan kesedihan dan pukulan atas kehilangan sang Ayah. Selama presentasi publik Dadbot, dia mengatakan bahwa putranya juga terkadang menulis pesan ke 'hantu' digital kakeknya dan menerima balasan. Nada percakapan juga mencerminkan kepribadian almarhum sehingga membuatnya merasa memang sedang berbincang dengan sang ayah. Demikian dikutip detikINET dari Popular Science.

https://movieon28.com/movies/satans-slaves/