Minggu, 10 Januari 2021

Terpopuler Sepekan: Beda Gejala COVID-19 dan Tipes Seperti Dialami Kalina Oktarani

 Kalina Oktarani positif COVID-19 seperti dikabarkan oleh putranya, Azka Corbuzier. Kini, ia tengah menjalani perawatan di rumah sakit dengan doa dari putranya agar segera sembuh.

Sebelum positif Corona, Kalina sempat mengidap tipes. Vicky Prasetyo juga menyebutkan Kalina mengalami demam tinggi.


"Kayak kecapean, terus demam. Kan tipes, tensi sama suhunya tidak stabil. Mudah-mudahan kondisinya lebih baik karena mau lamaran kan dua minggu ke depan," kata Vicky Prasetyo di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin (4/1/2021).


Demam tinggi menjadi salah satu gejala COVID-19 dan tipes yang tidak bisa dibedakan. Lalu, apa bedanya gejala Corona dan gejala tipes?


Dikutip dari berbagai sumber, berikut perbedaannya:


1. Gejala tipes

Tipes adalah demam typhoid yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella. Tipes dalam keseharian berbeda dengan pengertian typhus yang sebenarnya, yakni penyakit mematikan yang dipicu infeksi bakteri Rickettsia.


Gejala tipes biasanya muncul pada satu hingga tiga minggu usai tubuh terpapar bakteri. Gejala yang muncul biasanya demam tinggi, diare, sakit kepala, dan sakit perut.


Jika tidak ditangani, kondisi pasien bisa semakin memburuk selama beberapa minggu dan memicu komplikasi pada sistem pencernaan. Biasanya, antibiotik bisa dijadikan pengobatan gejala tipes di awal terpapar.


2. Gejala virus Corona

Berbeda dengan gejala tipes di mana demam tidak muncul saat awal terpapar, demam tinggi karena gejala COVID-19 langsung tinggi di awal terinfeksi. Gejala virus Corona ringan juga meliput sakit kepala, sakit tenggorokan, hingga merasa tak enak badan.


Adapun gejala Corona tak biasa lainnya termasuk kelelahan, sakit mata, dan masalah pencernaan. Sementara gejala yang memicu kondisi fatal biasanya ditandai dengan pneumonia, sesak napas, hingga nyeri dada.

https://maymovie98.com/movies/love-camp-7/


Potensi Bahaya saat Pesawat Kelamaan Parkir


 Pesawat Boeing milik Sriwijaya Air jatuh tak lama setelah lepas landas dari Soekarno-Hatta. Sejumlah ahli sempat mewanti-wanti ratusan pesawat yang kembali beroperasi usai dilarang terbang selama berbulan-bulan karena pandemi virus Corona.

Pengamat Penerbangan Alvin Lie menegaskan bahwa jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di perairan Pulau seribu tak ada kaitannya dengan usia pesawat.


"Walaupun pesawat usianya sudah 26 tahun, tapi asal perawatannya baik tidak ada masalah. Kemudian pesawat ini juga pernah dikandangkan oleh Sriwijaya antara 23 Maret sampai tanggal 23 Oktober, tahun lalu. Setelah itu sudah aktif lagi terbang," kata Alvin Sabtu, (9/1/2021) dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV.


Tapi maskapai diminta berhati-hati saat menghidupkan kembali armada pesawatnya. Usai berbulan-bulan dikandangkan, tidak hanya pesawat tetapi juga sumber daya manusia (SDM).


Dicuplik Reuters, Minggu (10/1/2021) potensi bahaya yang muncul di antaranya; pilot rustiness (menurunnya keterampilan sebab jarang terbang), kesalahan perawatan, dan bahkan serangga yang membuat sarang hingga bisa memblokir sensor-sensor utama pesawat.


Menurut data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pendaratan yang tak mulus di suatu bandara pada tahun ini. Hal ini dapat mengakibatkan pendaratan yang keras, landasan pacu melampaui batas (pesawat tergelincir keluar) atau bahkan tabrakan.


Selain itu, Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (European Union Aviation Safety Agency / EASA) telah melaporkan "tren yang mengkhawatirkan" dalam jumlah laporan pembacaan kecepatan dan ketinggian yang tidak sesuai selama penerbangan pertama setelah pesawat meninggalkan penyimpanan. Dalam beberapa kasus pesawat batal terbang atau harus kembali ke pangkalan.


Beberapa kejadian menunjukkan bahwa data kecepatan dan ketinggian tidak sesuai. Ini disebabkan sensor yang kotor lantaran serangga atau kotoran lain yang menghambat pitot tube (tabung pitot).

https://maymovie98.com/movies/the-incredibly-true-adventure-of-two-girls-in-love/

Meninggal Usai Operasi Caesar Akibat Corona, Cerita di Baliknya Bikin Haru

 Seorang perawat berusia 30 tahun meninggal dunia pada 3 Januari lalu karena komplikasi dari virus Corona COVID-19. Perawat bernama Ashley Gomez meninggal beberapa hari usai operasi caesar dan sebelumnya terinfeksi COVID-19.

Dikutip dari laman Business Insider, Gomez yang tinggal di Northridge, California, bekerja sebagai perawat yang merawat pasien COVID-19 pada trimester ketiga kehamilannya.


Suami Ashley, Wilbur Gomez, mengatakan bahwa istrinya mulai mengalami sesak napas yang kemudian menyebabkan batuk dan meningkat menjadi demam dalam waktu seminggu.


Ashley kemudian dirawat di rumah sakit pada 1 Januari 2021 karena sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) terkait COVID-19 yang bisa berakibat fatal.


Dia kemudian melakukan operasi caesar darurat pada hari berikutnya untuk mempermudah pernapasan. Sayangnya anak keenamnya yang baru lahir juga telah terpapar virus COVID-19.


"Dia hanya melihat fotonya, jadi dia tidak mendapat kesempatan untuk memeluknya, menciumnya atau apapun," kata Wilbur kepada ABC7.


Keesokan harinya, Ashley menggunakan ventilator untuk membantu bernapas, tetapi Ashley meninggal beberapa jam kemudian.


"Kami patah hati untuk mengatakan ini, Ashley kami yang cantik kalah dalam pertarungannya. Hancur adalah pernyataan yang meremehkan," tulis GoFundMe.


Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, wanita hamil memang memiliki risiko komplikasi parah yang lebih tinggi akibat virus Corona dan harus dianggap sebagai populasi berisiko untuk COVID-19.

https://maymovie98.com/movies/blind-partner/


Terpopuler Sepekan: Beda Gejala COVID-19 dan Tipes Seperti Dialami Kalina Oktarani


 Kalina Oktarani positif COVID-19 seperti dikabarkan oleh putranya, Azka Corbuzier. Kini, ia tengah menjalani perawatan di rumah sakit dengan doa dari putranya agar segera sembuh.

Sebelum positif Corona, Kalina sempat mengidap tipes. Vicky Prasetyo juga menyebutkan Kalina mengalami demam tinggi.


"Kayak kecapean, terus demam. Kan tipes, tensi sama suhunya tidak stabil. Mudah-mudahan kondisinya lebih baik karena mau lamaran kan dua minggu ke depan," kata Vicky Prasetyo di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin (4/1/2021).


Demam tinggi menjadi salah satu gejala COVID-19 dan tipes yang tidak bisa dibedakan. Lalu, apa bedanya gejala Corona dan gejala tipes?


Dikutip dari berbagai sumber, berikut perbedaannya:


1. Gejala tipes

Tipes adalah demam typhoid yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella. Tipes dalam keseharian berbeda dengan pengertian typhus yang sebenarnya, yakni penyakit mematikan yang dipicu infeksi bakteri Rickettsia.


Gejala tipes biasanya muncul pada satu hingga tiga minggu usai tubuh terpapar bakteri. Gejala yang muncul biasanya demam tinggi, diare, sakit kepala, dan sakit perut.


Jika tidak ditangani, kondisi pasien bisa semakin memburuk selama beberapa minggu dan memicu komplikasi pada sistem pencernaan. Biasanya, antibiotik bisa dijadikan pengobatan gejala tipes di awal terpapar.


2. Gejala virus Corona

Berbeda dengan gejala tipes di mana demam tidak muncul saat awal terpapar, demam tinggi karena gejala COVID-19 langsung tinggi di awal terinfeksi. Gejala virus Corona ringan juga meliput sakit kepala, sakit tenggorokan, hingga merasa tak enak badan.


Adapun gejala Corona tak biasa lainnya termasuk kelelahan, sakit mata, dan masalah pencernaan. Sementara gejala yang memicu kondisi fatal biasanya ditandai dengan pneumonia, sesak napas, hingga nyeri dada.

https://maymovie98.com/movies/godzilla-the-planet-eater/