Minggu, 10 Januari 2021

Usia Pesawat Tak Masalah, Ini yang Lebih Bahaya buat Keselamatan

 Usia pesawat Sriwijaya Air yang jatuh tengah jadi sorotan. Sebab, umur pesawat tersebut telah mencapai 26 tahun.

Meski begitu, sejumlah pakar menyebut, usia pesawat tak ada hubungannya dengan aspek keselamatan pesawat.


"Pesawat usai 26 tahun itu bukan masalah. Usia pesawat itu tidak ada kaitannya dengan kelaikudaraan atau saftey. Pesawat yang usianya 3 bulan saja bisa mengalami kecelakaan. Pesawat yang usianya 50 tahun juga tetap layak terbang, tetap aman," kata Pengamat Penerbangan Alvin Lie kepada detikcom, Minggu (10/1/2021).


Dia menjelaskan, usia pesawat memiliki korelasi terhadap efisiensi. Dia menjelaskan, semakin muda pesawat maka semakin efisien karena terkait dengan struktur dan teknologinya.


Lanjutnya, yang berkaitan dengan aspek keselamatan ialah kedisiplinan merawat pesawat.


"Tolong dicatat tidak ada korelasi usia pesawat dengan keselamatan, keselamatan korelasinya dengan kedisiplinan merawat pesawat," katanya.


"Kalau pesawat itu disiplin dirawat sesuai dengan manualnya, setiap siklus dilakukan perawatan kemudian dilakukan pemeriksaan sertifikasi, pesawat itu mau usia 20-30-50 tahun pun tetap memenuhi syarat. Kalau tidak memenuhi syarat tentu tidak akan disertifikasi oleh otoritas setempat. Dan kalau tidak memenuhi syarat, asuransi juga tidak mengcover pesawat tersebut," paparnya.


Senada, Pengamat Penerbangan Samudra Sukardi menilai tak ada hubungan usia pesawat dengan kecelakaan. Meski, ia mengakui semakin tua, pesawat makin membutuhkan perawatan.


"Seharusnya tidak ada, jadi kalau umur pesawat tidak menjadi alasan untuk menjadi kecelakaan. Tapi harus dicek memang makin berumur pesawat itu makin banyak dikerjakan maintenance. Tapi kalau dia sudah layak terbang mau pesawat baru, pesawat lama kalau sudah di-sertified layak terbang dia layak terbang nggak bisa dibedakan umurnya," ujarnya.


Dia menuturkan, di industri penerbangan sendiri, usia pesawat sendiri berpengaruh pada teknologi dan efisiensi pesawat.


"Kalau pesawat muda itu teknolginya lebih baru, biasanya teknologi lebih baru berhubungan sistem kontrol dan fuel consumtion bahan bakar lebih irit," jelasnya.

https://maymovie98.com/movies/the-little-foxes/


Basarnas Harap Black Box Sriwijaya Air SJ182 Bisa Diangkat Malam Ini


Basarnas sudah mengetahui posisi benda yang diduga kotak hitam atau black box pesawat Sriwijaya Air SJ182. Basarnas berharap black box itu bisa diangkat oleh tim evakuasi malam ini.

"Mudah-mudahan saja malam ini, kita lebih cepat lebih baik," kata Direktur Operasi Basarnas, Brigjen Rasman, saat konferensi pers di JICT, Jakarta Utara, Minggu (11/1/2021).


Rasman memberikan pernyataan itu ketika sesi tanya jawab dengan awak media. Rasman menjawab pertanyaan 'perkiraan kira-kira kapan black box bisa berada di sini juga, apakah dalam waktu malam ini, atau besok pagi, atau butuh satu hari lagi'.


Rasman mengatakan penyelam memang akan mengalami kesulitan jika melakukan pencairan pada malam hari. Namun, Rasman mengatakan tim nya akan bekerja dengan cepat agar black box itu bisa diangkat dari laut agar penyebab pesawat jatuh itu bisa segera diketahui.


"Tapi seperti saya sampaikan tadi, kondisi malam seperti ini, tentu menjadi sebuah hambatan tim kita untuk mendalami penyelaman. Tapi harapan kita, harapan tim kita, lebih cepat lebih baik," tegasnya.


Sebelumnya, Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan sudah mengetahui posisi kotak hitam atau black box pesawat Sriwijaya Air SJ182. KNKT saat ini berfokus pada pencarian dan pengangkatan benda tersebut.


"Kita sekarang sudah mengetahui posisi dari kedua black box tadi dan KNKT turunkan 3 alat pinger finder dan sudah berada di KRI Rigel dan segera akan dilaksanakan pencarian oleh para penyelam dengan menggunakan portable pinger finder," kata Soerjanto di JICT 2, Jakarta, Minggu (10/1).


KNKT berharap dengan ditemukannya titik itu, black box bisa segera ditemukan. KNKT juga segera melakukan identifikasi terhadap temuan serpihan pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

https://maymovie98.com/movies/diary-of-a-sex-addict/

Critical Eleven, 11 Menit Paling Krusial dalam Penerbangan

 Istilah critical eleven kembali diperbincangkan masyarakat usai pesawat Sriwijaya Air jatuh pada Sabtu (9/1/2021). Istilah ini merujuk pada 11 menit krusial yang menentukan keberhasilan penerbangan.

Sebagaimana diketahui, pesawat dengan nomor penerbangan SJY 182 yang bertolak dari Jakarta menuju Pontinak itu lepas landas di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng pada pukul 14.36 WIB. Selang 4 menit mengudara, pesawat itu dilaporkan terbang ke arah barat laut dan beberapa detik kemudian hilang dari radar ATC.


Belakangan diketahui pesawat itu jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Tepatnya di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang. Hingga kini, tim gabungan TNI AL, Basarnas, hingga KNKT masih melakukan evakuasi dan penyelidikan jatuhnya pesawat itu.


Peristiwa ini pun mengingatkan kita pada kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawang pada 29 Oktober 2018. Pesawat ini juga jatuh selang beberapa menit setelah lepas landas.


Kedua peristiwa itu kemudian dikaitkan dengan istilah critical eleven yaitu 11 menit paling penting dalam penerbangan.

https://maymovie98.com/movies/a-streetcar-named-desire/


Dikutip dari situs Flightsafety.org, critical eleven merujuk pada 3 menit setelah pesawat lepas landas dan 8 menit sebelum pesawat mendarat. Pada saat itu, pilot akan berkomunikasi secara intensif dengan Air Traffic Controller (ATC).


Dalam waktu 3 menit pertama, pilot akan menstabilkan posisi dan mengontrol kecepatan pesawat. Sedangkan pada 8 menit sebelum mendarat, pilot akan mengurangi kecepatan dan menyesuaikan pesawat dengan landasan pendaratan.


Di saat krusial ini, tak ada seorang pun yang boleh berkomunikasi dengan awak yang berada di kokpit. Selain itu, segala aktivitas di pesawat juga dihentikan. Seluruh penumpang diminta untuk tetap berada di kursi masing-masing.


Pada situasi itu, pramugari akan meminta seluruh penumpang untuk mengenakan sabuk pengamanan, mematikan ponsel, menegakkan sandaran kursi, melipat meja, dan membuka penutup jendela. Tujuannya untuk mempermudah proses evakuasi jika terjadi situasi darurat.


Dalam kondisi darurat ini, pesawat akan melakukan pendaratan darurat. Penumpang hanya punya waktu 90 detik atau 1,5 menit untuk menyelamatkan diri karena oksigen akan berkurang, tenggelam (jika mendarat di air), atau meninggal karena terlalu banyak menghirup asap.


Oleh sebab itu, sebelum terbang, pramugari juga memberikan demonstrasi tentang cara penggunaan masker oksigen dan pelampung. Ini merupakan pertolongan pertama yang dapat penumpang lakukan di kondisi darurat.


Soal critical eleven ini tak boleh diremehkan. Menurut data statistik dari Flightsafety.org, sebanyak 80 persen kecelakaan pesawat itu terjadi di fase critical eleven.


Dari kasus tersebut, Worldwide Commercial Jet mencatat dalam rentang waktu 2007-2016, penyebab kecelakaan terbanyak ada di momen 8 menit sebelum mendarat yaitu saat pesawat menurunkan kecepatan. Lalu penyebab kedua adalah ketika pesawat lepas landas.

https://maymovie98.com/movies/my-wifes-sister/