Sabtu, 09 Januari 2021

Aplikasi Parler Favorit Pendukung Trump Disikat Google

 Massa pendukung Donald Trump yang menyerbu ke Gedung Capitol rupanya berkomunikasi melalui aplikasi media sosial bernama Parler. Google pun dengan tegas langsung memblokir layanan Parler dari Play Store.

Sebelumnya para perusahaan teknologi yang notabene memiliki berbagai layanan online didesak untuk segera menghapus aplikasi yang dinilai kurang moderat dan memuat konten kekerasan di dalamnya, salah satunya adalah Parler tersebut.


Parler adalah aplikasi sayap kanan yang dimanfaatkan para pendukung Trump. Adapun informasi pemblokiran Parler di Play Store ini diungkapkan oleh reporter Politico Cristiano Lima seperti dikutip detikINET dari The Verge, Sabtu (9/2/2021).


Dalam tangkapan layar yang diposting Cristiano Lima di akun Twitter miliknya, Juru Bicara Google menyebutkan bahwa pemblokiran Parler ini semata untuk melindungi keamanan pengguna mereka yang memakai Play Store.


"Kami mengetahui adanya postingan di aplikasi Parler yang berupaya untuk menghasut kekerasan yang terus berlangsung di Amerika Serikat," ujar Google.


Google menyadari bahwa langkah yang diambilnya ini tentu akan memicu perdebatan. Sementara di sisi lain, pemilik aplikasi sulit untuk menghapus semua konten yang melanggar.


Akan tetapi, berdasarkan kebijakan lama perusahaan yang mewajibkan aplikasi melihat konten untuk melakukan moderasi dan tindakan terhadap konten yang melanggar, seperti postingan memicu kekerasan, maka aksi pelarangan Parler pun dilakukan.


"Mengingat ancaman pada keamanan publik yang sedang berlangsung dan hal ini mendesak, maka kami menangguhkan dari Play Store hingga dapat mengatasi permasalahan ini," ucap Google.


Para perusuh yang menyerbu Gedung Capitol diketahui berasal dari massa pendukung Presiden AS Donald Trump yang kecewa terhadap hasil Pilpres AS 2020. Aksi tersebut bertepatan dengan saat Kongres AS tengah menggelar sidang pengesahan kemenangan Presiden terpilih AS, Joe Biden, di gedung yang sama.

https://tendabiru21.net/movies/speed/


Dicekal Permanen Twitter, Ini Tanggapan Donald Trump


Akun yang biasa diandalkan presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk bersuara, kini telah dicekal Twitter secara permanen. Sang presiden pun mengeluarkan tanggapannya.

Seperti diberitakan, Twitter memutuskan menutup akun Trump karena dicemaskan akan memicu kekerasan lebih lanjut. "Setelah review mendalam tweet terkini dari @realDonaldTrump dan konteksnya, terutama bagaimana penerimaan dan interpretasinya di Twitter, kami secara permanen menangguhkan akun itu terkait risiko bisa jadi pemicu kekerasan lebih lanjut," sebut Twitter.


Dalam tanggapannya, Trump mengaku sudah memprediksi kejadian ini. "Saya sudah memprediksi hal ini akan terjadi," demikian pernyataan Donald Trump yang dikutip detikINET dari ABC News.


Akan tetapi, Trump tidak menyerah. "Kami bernegosiasi dengan beberapa situs lain dan akan mengumumkan sesuatu yang besar segera, kami juga melihat kemungkinan membangun sendiri platform kami dalam waktu dekat. Kami tidak akan dibungkam," tambah dia.


"Twitter bukan tentang free speech. Mereka mempromosikan platform radikal kiri di mana beberapa orang paling jahat di dunia diizinkan untuk berbicara dengan bebas," demikian kritikan Donald Trump pada Twitter.


Belum jelas aplikasi apa yang akan digunakan selanjutnya oleh sang presiden. Selama ini, Twitter-nya dengan sekitar 88 juta follower merupakan aplikasi favorit bagi Donald Trump.


Trump juga telah diblokir dari Facebook tanpa batas waktu. Demikian pula aplikasi Parler yang sering digunakan oleh pendukung Trump telah dilarang oleh Google.


"Kami percaya risiko mengizinkan Donald Trump melanjutkan pemakaian layanan kami dalam periode ini terlalu besar. Maka, kami memperpanjang blokir yang sudah kami lakukan di Facebook dan Instagram-nya tanpa batas dan untuk setidaknya dua minggu ke depan sampai transisi damai selesai," demikian keputusan yang diambil oleh pendiri Facebook, Mark Zuckerberg.

https://tendabiru21.net/movies/ravening/

Donald Trump Diblokir Facebook dan Didepak Twitter

 Sepak terjang presiden Amerika Serikat Donald Trump di media sosial sepertinya sudah tamat. Dua layanan favoritnya, Facebook dan Twitter telah mengambil tindakan tegas menyusul kerusuhan yang terjadi di gedung Capitol, Washington.

Postingan Trump di kedua media sosial itu dinilai meresahkan dan bisa memicu kekerasan lebih lanjut, bukannya mendamaikan. Maka akun sang presiden pun digembok permanen oleh Twitter dan tanpa batas waktu oleh Facebook.


"Peristiwa mengejutkan dalam 24 jam terakhir dengan jelas menunjukkan presiden Donald Trump ingin menggunakan sisa waktunya untuk merusak transisi kekuasaan yang damai dan sah pada penerusnya yang terpilih, Joe Biden," tulis Mark Zuckerberg, CEO dan pendiri Facebook.


"Kami percaya risiko mengizinkan presiden melanjutkan pemakaian layanan kami dalam periode ini terlalu besar. Maka, kami memperpanjang blokir yang sudah kami lakukan di Facebook dan Instagram-nya tanpa batas dan untuk setidaknya dua minggu ke depan sampai transisi damai selesai," demikian keputusan yang diambil oleh Zuck.


Twitter pun baru saja mengambil tindakan lebih tegas. Setelah dianggap kembali melanggar peraturan, akun Twitter Donald Trump yang baru saja dibuka, kembali ditutup dan kali ini secara permanen.


"Setelah review mendalam tweet terkini dari @realDonaldTrump dan konteksnya, terutama bagaimana penerimaan dan interpretasinya di Twitter, kami secara permanen menangguhkan akun itu terkait risiko bisa jadi pemicu kekerasan lebih lanjut," sebut Twitter.


Beberapa waktu silam, Twitter memang telah mengeluarkan peringatannya para Trump. "Pelanggaran di masa depan terhadap aturan Twitter, termasuk kebijakan Civic Integrity atau Violent Threats, akan berakibat pada pemblokiran permanen pada terhadap akun @realDonaldTrump," cetus Twitter.


Twitter selama ini merupakan aplikasi paling favorit bagi Donald Trump untuk menyuarakan pendapatnya. Namun kini, dia sudah tidak bisa lagi menggunakannya.

https://tendabiru21.net/movies/the-influence-of-sex-on-dieting/


Aplikasi Parler Favorit Pendukung Trump Disikat Google


 Massa pendukung Donald Trump yang menyerbu ke Gedung Capitol rupanya berkomunikasi melalui aplikasi media sosial bernama Parler. Google pun dengan tegas langsung memblokir layanan Parler dari Play Store.

Sebelumnya para perusahaan teknologi yang notabene memiliki berbagai layanan online didesak untuk segera menghapus aplikasi yang dinilai kurang moderat dan memuat konten kekerasan di dalamnya, salah satunya adalah Parler tersebut.


Parler adalah aplikasi sayap kanan yang dimanfaatkan para pendukung Trump. Adapun informasi pemblokiran Parler di Play Store ini diungkapkan oleh reporter Politico Cristiano Lima seperti dikutip detikINET dari The Verge, Sabtu (9/2/2021).


Dalam tangkapan layar yang diposting Cristiano Lima di akun Twitter miliknya, Juru Bicara Google menyebutkan bahwa pemblokiran Parler ini semata untuk melindungi keamanan pengguna mereka yang memakai Play Store.


"Kami mengetahui adanya postingan di aplikasi Parler yang berupaya untuk menghasut kekerasan yang terus berlangsung di Amerika Serikat," ujar Google.


Google menyadari bahwa langkah yang diambilnya ini tentu akan memicu perdebatan. Sementara di sisi lain, pemilik aplikasi sulit untuk menghapus semua konten yang melanggar.


Akan tetapi, berdasarkan kebijakan lama perusahaan yang mewajibkan aplikasi melihat konten untuk melakukan moderasi dan tindakan terhadap konten yang melanggar, seperti postingan memicu kekerasan, maka aksi pelarangan Parler pun dilakukan.

https://tendabiru21.net/movies/three-sexy-meals/