Kamis, 07 Januari 2021

Kasus Corona China Melonjak Lagi, Tertinggi Sejak 5 Bulan Sebelumnya

  Kasus Corona China dilaporkan melonjak lagi, pihak berwenang di ibu kota provinsi Hebei, China, kembali memperketat perjalanan pada Kamis (7/1/2020). Hal ini menyoroti kenaikan kasus COVID-19 tertinggi dalam lebih dari lima bulan.

Dikutip dari Reuters, Hubei memasuki 'masa mode perang' pada Selasa kemarin dengan menyumbang 51 dari 52 kasus penularan COVID-19 lokal. Komisi Kesehatan Nasional China langsung melakukan tes massal dan melarang sejumlah pertemuan.


Media pemerintah China melaporkan kasus COVID-19 di Hebei memicu pembatasan aktivitas termasuk jadwal perjalanan di kereta api. Sebelumnya, aturan yang diterapkan bagi para pelaku perjalanan harus menyertakan hasil tes COVID-19 negatif lebih dulu.


Hasil tes COVID-19 negatif yang disertakan perlu diambil 72 jam lebih dulu sebelum melakukan perjalanan, baik melalui kereta dan pesawat.


Total kasus COVID-19 baru untuk di China mencapai 63, dibandingkan dengan penambahan 32 kasus COVID-19 yang dilaporkan sehari sebelumnya. Penambahan ini menandai kenaikan kasus Corona per harinya, sejak 127 kasus COVID-19 sebelumnya tercatat pada 30 Juli.

https://maymovie98.com/movies/taboo-forbidden-love/


Sering Dikaitkan dengan COVID-19, Penyakit Komorbid Itu Apa Sih?


 Komorbid menjadi salah satu istilah yang sering terdengar selama pandemi COVID-19. Sederhananya, penyakit komorbid adalah penyakit penyerta yang dialami pasien.

Istilah ini menjadi sering terdengar karena seseorang yang memiliki komorbid disebut berisiko mengalami kondisi parah saat terinfeksi virus Corona.


Apa sih sebenarnya penyakit komorbid itu?

Dikutip dari Britannica, penyakit komorbid adalah suatu penyakit yang muncul secara bersamaan saat seseorang sedang sakit.


Penyakit komorbid cenderung bisa meningkatkan risiko masalah kesehatan pada pasien ketika terinfeksi penyakit tertentu, sehingga menghambat penyembuhan.


Contohnya, seseorang yang sebelumnya memiliki penyakit paru kemudian terinfeksi virus Corona, maka risiko sakitnya bisa menjadi lebih parah.


Hubungan penyakit komorbid dan COVID-19

Dalam konteks COVID-19, pasien Corona dengan komorbid memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi daripada pasien biasa.


Misalnya, pasien yang memiliki masalah jantung kemudian terkena COVID-19, maka gejala yang dialami bisa lebih parah. Pasalnya, infeksi virus Corona disebut dapat membuat darah menjadi lebih kental dan ini berbahaya bagi jantung bahkan bisa memicu kematian.


"Selain COVID-19 menyerang paru, dia juga membuat darah mudah kental. Jadi pasien yang sudah punya masalah jantung, terutama masalah jantung koroner, itu akan mengalami keluhan atau manifestasinya sama seperti orang yang kena serangan jantung karena darahnya kental," kata dr Dafsah Arifa Juzar, SpJP(K), dari divisi heartology RS Brawijaya Saharjo beberapa waktu lalu.


Hal ini yang membuat biasanya pasien Corona dengan komorbid lebih membutuhkan perawatan khusus agar bisa pulih.


Selain itu, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan COVID-19, dr Dewi Nur Aisyah, juga menjelaskan bahwa semakin banyak penyakit komorbid yang diidap, maka risiko kematian akibat infeksi virus Corona pun semakin besar.


Menurut dr Dewi, hanya dengan memiliki satu penyakit komorbid saja, risiko kematiannya bisa 6,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak punya.


"Sedangkan dua komorbid, misalnya, gabungan hipertensi dan diabetes, itu risiko kematian naik jadi 15 kali lipat dibandingkan dengan yang tidak punya komorbid. Yang 3 atau lebih komorbid, itu risiko kematiannya naik sampai 29 kali lipat lebih tinggi," jelas dr Dewi.

https://maymovie98.com/movies/our-lady-peace-live/

Makan Bareng-bareng Picu Penularan COVID-19 Klaster Keluarga-Perkantoran?

 Makan siang bareng teman-teman kantor memang seru. Tapi ada baiknya dihindari dulu di masa pandemi ini karena disinyalir penularan COVID-19 banyak terjadi pada momen seperti ini.

Ini diungkap oleh Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, Ratri S Survivalina, kepada wartawan baru-baru ini. Menurutnya, kegiatan makan bersama juga berpotensi memicu penularan di klaster keluarga.


"Karena pada waktu makan itu biasanya pada buka masker. Kemudian pada saat makan bersama disitu biasanya terjadi ngobrol ya dan itu ternyata disinyalir menjadi salah satu sumber penularan yang utama di klaster keluarga maupun di klaster tempat kerja," jelasnya.


Maka, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk menghindari kegiatan makan bersama. Jika tidak bisa dihindari, sebaiknya posisinya jangan saling berhadapan, sehingga potensi penularan virus Corona bisa dihindarkan.


"Sehingga untuk mewaspadai penularan di klaster keluarga dan di tempat kerja ini sebaiknya untuk makan bersama itu mulai dihindari. Kalaupun memang tidak bisa dihindarkan itu posisinya supaya jangan berhadapan. Jadi makan bersama itu posisinya saling membelakangi, sehingga potensi penularan ini benar-benar bisa dihindarkan," imbau Lina, sapaan akrabnya.


Dalam sepakan terakhir atau dari tanggal 30 Desember 2020 hingga 4 Januari 2021, Lina menyebut di Boyolali ada tambahan jumlah kasus baru positif COVID-19 sebanyak 223 orang. Jumlah tersebut tersebar di 20 kecamatan.


Dengan tambahan tersebut, sehingga sampai saat ini jumlah kasus konfirmasi positif COVID-19 di Boyolali sebanyak 3.414. Dengan rincian yang dirawat 133 orang, yang isolasi mandiri 232 orang, selesai isolasi 2.944 orang dan meninggal dunia ada 105 orang.


"Untuk skoring IKM COVID-19 Boyolali saat ini diangka 1,88, dengan demikian Boyolali berada di zona orange atau zona risiko sedang," jelasnya.


Menurut Lina, pihaknya agak kesulitan untuk mengidentifikasi klaster kasus COVID-19 di Boyolali. Hal ini dikarenakan perkembangan atau kasusnya sudah banyak sekali, sehingga hampir semua jadi satu dan sulit di ketahui mana ujungnya dan mana pangkalnya.


"Perkembangan klaster karena memang kasusnya sudah banyak sekali, kita agak sulit mengidentifikasi apakah ini klaster keluarga atau tempat kerja. Karena yang mana ujungnya yang mana pangkalnya, ini sekarang hampir semua sudah jadi satu. Sehingga ini agak susah mengidentifikasi, tapi yang berhasil kita kroscek di lapangan memang perkembangannya di dua klaster tersebut yaitu klaster keluarga dan tempat kerja," kata Lina.


"Klaster tempat kerja juga sudah mulai hampir merata. Selain di pabrik, kemudian di perkantoran, kemudian juga masih ada beberapa itu di lokasi kecil-kecil, Faskes beberapa juga masih ada," sambung dia.

https://maymovie98.com/movies/prostitution/


Kasus Corona China Melonjak Lagi, Tertinggi Sejak 5 Bulan Sebelumnya


 Kasus Corona China dilaporkan melonjak lagi, pihak berwenang di ibu kota provinsi Hebei, China, kembali memperketat perjalanan pada Kamis (7/1/2020). Hal ini menyoroti kenaikan kasus COVID-19 tertinggi dalam lebih dari lima bulan.

Dikutip dari Reuters, Hubei memasuki 'masa mode perang' pada Selasa kemarin dengan menyumbang 51 dari 52 kasus penularan COVID-19 lokal. Komisi Kesehatan Nasional China langsung melakukan tes massal dan melarang sejumlah pertemuan.


Media pemerintah China melaporkan kasus COVID-19 di Hebei memicu pembatasan aktivitas termasuk jadwal perjalanan di kereta api. Sebelumnya, aturan yang diterapkan bagi para pelaku perjalanan harus menyertakan hasil tes COVID-19 negatif lebih dulu.


Hasil tes COVID-19 negatif yang disertakan perlu diambil 72 jam lebih dulu sebelum melakukan perjalanan, baik melalui kereta dan pesawat.


Total kasus COVID-19 baru untuk di China mencapai 63, dibandingkan dengan penambahan 32 kasus COVID-19 yang dilaporkan sehari sebelumnya. Penambahan ini menandai kenaikan kasus Corona per harinya, sejak 127 kasus COVID-19 sebelumnya tercatat pada 30 Juli.

https://maymovie98.com/movies/toxic-desire-addiction/