- Vaksin sensitif panas, ada jenis vaksin Corona yang bahkan harus disimpan di minus 70 hingga 80 derajat Celcius seperti buatan Pfizer. Maka dari itu, cold chain atau lemari pendingin vaksin diperlukan dalam proses distribusi.
Begitu pula dengan vaksin Corona Sinovac yang dipakai di Indonesia, perlu disimpan dalam suhu tertentu. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahkan menyebut puskesmas yang kekurangan lemari pendingin vaksin Corona untuk segera melapor.
Akibat vaksin sensitif panas, tak sedikit negara yang memiliki tantangan untuk mendapat ekstra cold chain atau lemari pendingin khusus vaksin. Terutama beberapa negara berpenghasilan rendah.
Jika vaksin sensitif panas, benarkah jika disimpan sembarangan akan menjadi racun?
"Vaksin didasarkan pada biomolekul yang biasanya sangat tidak stabil di luar lingkungan asalnya. Ini berarti mereka dapat dengan cepat rusak atau menjadi beracun, kerusakan ini terjadi jika tidak disimpan dengan benar," jelas Profesor Jason Hallett, dari Imperial's Department of Chemical Engineering and Future Vaccine Manufacturing Research Hub dikutip dari laman resmi Imperial.
"Penyimpanan yang tepat untuk vaksin berarti menjaganya tetap sangat dingin, seperti pada suhu lemari es minus 2 hingga 8 derajat Celcius atau kadang-kadang serendah minus 80 derajat Celcius, di seluruh rantai pasokan dan distribusi, mulai dari pembuatan hingga pemberian kepada pasien. Freezer tempat penyimpanan vaksin biasanya disebut sebagai 'cold chain'," katanya.
Beberapa waktu lalu, pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo juga menjelaskan vaksin Corona sangat mudah degradasi termasuk karena vaksin sensitif panas.
"Kalau pun misalnya kebagian nih yang dipikirkan adalah kirimnya ini distribusinya karena si vaksin itu supaya stabil dia harus minus 80," sebut Ahmad kala itu, menanggapi distribusi vaksin Corona Pfizer.
"Masalahnya vaksin COVID-19 ini rentan degradasi, sama saja kalau rusak nyuntik air doang, nggak ada manfaatnya mubazir. Padahal barang itu mahal banget," tegasnya.
https://maymovie98.com/movies/swapping-my-friends-wife-2/
Kalina Oktarani Didiagnosa Pneumonia, Ini Bedanya dengan COVID-19
Kalina Oktarani menceritakan kondisi kesehatannya saat ini. Awalnya, kekasih Vicky Prasetyo itu mengatakan ia sempat dinyatakan mengidap tifus.
Dari hasil pemeriksaan yang dijalaninya, dokter sempat mencurigai Kalina mengidap COVID-19 karena hasil CT scan menunjukkan adanya pneumonia di parunya. Beruntung hasil tes swabnya menyatakan ia negatif SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19.
Pneumonia adalah infeksi paru-paru. Virus, bakteri, dan jamur bisa menjadi penyebabnya. Pneumonia dapat menyebabkan kantung udara kecil di paru-paru, yang dikenal sebagai alveoli, terisi cairan.
Pneumonia bisa menjadi komplikasi dari COVID-19. Orang dengan pneumonia COVID-19 juga dapat mengembangkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), jenis kegagalan pernapasan progresif yang terjadi ketika kantung udara di paru-paru terisi cairan.
Apa perbedaan pneumonia COVID-19 Vs pneumonia biasa?
Gejala pneumonia karena COVID-19 sebenarnya mirip dengan jenis pneumonia virus lainnya. Oleh karena itu, sulit untuk mengetahui apa yang menyebabkan kondisi Anda tanpa menjalani tes COVID-19 atau infeksi saluran pernapasan lainnya.
Penelitian sedang dilakukan untuk menentukan bagaimana pneumonia COVID-19 berbeda dari jenis pneumonia lainnya. Informasi dari penelitian ini berpotensi membantu dalam diagnosis dan meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana SARS-CoV-2 memengaruhi paru-paru.
Para peneliti menemukan bahwa orang dengan pneumonia COVID-19 lebih cenderung memiliki:
Pneumonia yang mempengaruhi kedua paru-paru, bukan hanya satu
Paru-paru yang memiliki gambaran karakteristik "ground-glass" yang dilihat melalui CT scan
Kelainan pada beberapa tes laboratorium, terutama yang menilai fungsi hati.
Bagaimana gejalanya?
Gejala pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 mirip dengan gejala jenis pneumonia biasa dan dapat meliputi:
Demam
Panas dingin
Batuk yang persisten
Nyeri dada saat menarik napas dalam atau saat batuk
Kelelahan.