Rabu, 23 Desember 2020

Mengapa Aku Tidak Bahagia?

 Hidup di dunia berisi dengan beragam emosi, tidak selamanya menyenangkan tapi mengapa terasa tidak pernah bahagia? Menurut sains psikologi, ada beberapa kemungkinan mengapa kamu diliputi pertanyaan tersebut.

Guy Winch, psikolog dan penulis 'Emotional First Aid: Healing Rejection, Guilt, Failure, and Other Everyday Hurts' menjelaskan bahwa kesedihan adalah emosi manusia yang normal. Kita semua bisa sedih dari waktu ke waktu.


"Kesedihan biasanya dipicu oleh peristiwa, pengalaman, atau situasi yang sulit, menyakitkan, menantang, atau mengecewakan," tambahnya.


Seringkali, kesedihan akan menghilang setelah keadaan yang memicu berakhir atau hilang. Namun berbeda jika Anda mengalami depresi.


"Saat kita depresi kita merasa sedih tentang segalanya," jelas Winch. Seperti kesedihan, depresi juga biasa terjadi. Namun, ini adalah gangguan mood yang besar yang harus dievaluasi oleh ahli medis.


Dikutip dari The List, Rabu (23/12/2020) berikut ini beberapa kemungkinan yang ada. Semoga setelah membaca ini masalah Anda dapat selesai dan Anda dilimpahkan kebahagiaan ya, detikers.


1. Anda tidak hidup di masa sekarang

Dari semua alasan kita mengalami kesedihan, pelatih dan terapis Jennifer Twardowski berpendapat bahwa hidup di masa lalu atau masa depan mungkin adalah yang paling berpengaruh pada kebahagiaan kita.


"Kenyataannya dengan memusatkan perhatian kita pada masa lalu dan masa depan, yang dilakukannya hanyalah mencegah kita untuk benar-benar hidup dan menikmati saat ini, yang mana merupakan kunci untuk benar-benar hidup dan berada di tempat penuh kegembiraan dan kebahagiaan sejati," tulis Twardowski dalam artikel untuk HuffPost.

https://kamumovie28.com/movies/the-mask-2/


2. Kebanyakan main medsos

The Happiness Research Institute melakukan 'Eksperimen Facebook' untuk menemukan seberapa besar pengaruh media sosial terhadap penggunanya. Separuh dari partisipan percobaan diinstruksikan untuk menggunakan Facebook seperti biasa sementara separuh lainnya tidak menggunakan Facebook sama sekali selama satu minggu.


Pada akhirnya, mereka yang tidak menggunakan Facebook melaporkan merasa lebih bahagia, tidak terlalu sedih, dan tidak terlalu kesepian. Mereka juga melaporkan tingkat kepuasan yang jauh lebih tinggi dengan kehidupan mereka secara keseluruhan. Para peneliti menentukan bahwa pengguna Facebook 55% lebih mungkin untuk merasa stres.


3. Terlalu dikontrol oleh emosi sendiri

Ya, Anda harus bisa merasakan emosi yang ada, tetapi Anda tidak harus dikendalikan olehnya. Jika Anda membiarkan emosi negatif mengambil alih, ketidakbahagiaan pasti akan menyusul.


"Gunakan pikiran Anda sehingga berguna bagi Anda," psikolog Carolin Müller menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan Insider.


"Dan lihat apa yang bisa dilakukannya, sungguh menakjubkan, Anda bisa memecahkan teka-teki yang paling menakjubkan, Anda bisa membuat teka-teki silang ... Kita bisa pergi ke Mars karena kita punya otak dan pikiran, namun itu juga membuat orang mengira mereka begitu tak berguna," ujarnya.


4. Dikelilingi hal negatif

"Anda harus berusaha untuk mengelilingi diri Anda dengan orang-orang yang menginspirasi Anda, orang-orang yang membuat Anda ingin menjadi lebih baik," Travis Bradberry, penulis Emotional Intelligence 2.0, menjelaskan dalam sebuah artikel untuk Forbes.


"Siapapun yang membuat Anda merasa tidak berharga, cemas, atau tidak terinspirasi adalah membuang-buang waktu Anda dan, sangat mungkin, membuat Anda lebih seperti mereka. Hidup ini terlalu singkat untuk bergaul dengan orang-orang seperti ini. Lepaskan mereka dan lihat kecerdasan emosional Anda meningkat," sarannya.

https://kamumovie28.com/movies/the-mask/

Menakar Pilihan Frekuensi untuk Layanan 5G di Indonesia

 Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sudah memastikan kalau layanan 5G bakal hadir pada 2021 mendatang, dan frekuensi yang dipakai adalah 2300Mhz untuk tahap awal. Bagaimana soal frekuensi lainnya?

Muhammad Ridwan Effendi, Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB menjelaskan, International Telecommunication Union (ITU) telah menetapkan beberapa frekuensi yang dapat dipergunakan untuk layanan 5G, dan 2300 Mhz adalah salah satunya.


Meski sudah ditetapkan sebagai frekuensi 5G, menurut Ridwan ketersediaan frekuensi di 2300Mhz jumlahnya juga sangat terbatas. Idealnya 5G membutuhkan lebar pita 100Mhz.


Namun saat ini jumlah ideal tersebut tak akan mungkin diberlakukan di Indonesia. Sebab saat ini sudah ada 3 operator selular yang sudah menduduki frekuensi 2300Mhz. Dengan memiliki 40Mhz di frekuensi 2300Mhz, Telkomsel dinilai Ridwan bisa untuk menyelenggarakan layanan 5G.


"Khusus Telkomsel dan Smartfren, tambahan masing-masing 10Mhz di frekuensi 2300Mhz secara teknis memberikan peluang bagi mereka untuk mengembangkan 5G di Indonesia. Meskipun belum layak secara bisnis di saat ini karena kecepatannya yang tidak optimal," ujar Ridwan.


"Jika memiliki 100Mhz di 2300Mhz maka secara teoritis kecepatan 5G bisa 4878Mbps. Namun jika 40Mhz dan 10Mhz maka kecepatannya masing-masing hanya 1951Mbps dan 487Mbps. Sehingga ini mengembangkan 5G di 2300Mhz tidak optimal dan belum layak secara bisnis," ungkapnya.


Dari ketersediaan perangkat dan ekosistem di dunia, idealnya layanan 5G menggunakan frekuensi 3300 Mhz sampai 3600Mhz. Sebab spektrum yang ada mencapai 400Mhz. Meski ideal namun untuk penerapan 5G di frekuensi 3500Mhz, Pemerintah memiliki PR yang cukup menantang. Yaitu memindahkan frekuensi 3500Mhz yang selama ini dipergunakan untuk layanan satelit menjadi layanan 5G.

https://kamumovie28.com/movies/son-of-rambow/


"Kalau mau mendapatkan layanan ideal 5G di frekuensi tersebut pemerintah harus memindahkan layanan satelit. Atau jika tidak ingin adanya interferensi pemerintah bisa melakukan proteksi seperti melarang BTS 5G beroperasi di wilayah tertentu atau mewajibkan antena satelit untuk menggunakan cassing," terang Ridwan.


Frekuensi lainnya yang dinilai Ridwan bisa dipakai untuk layanan 5G adalah di 2600Mhz. Memang saat ini frekuensi tersebut masih dipergunakan oleh penyelenggara tv satelit berbayar. Namun di tahun 2024 izin penyelenggaraan tv berbayar tersebut sudah habis dan bisa dipergunakan untuk layanan 5G.


"Setelah 2024 ada sekitar 180Mhz frekuensi 2600Mhz yang bisa dipakai untuk layanan 5G. Dan itu cukup untuk beberapa operator telekomunikasi," kata Ridwan.


Frekuensi 1800Mhz juga sudah ditetapkan ITU sebagai frekuensi 5G. Namun menurut Ridwan total lebar pita di 1800Mhz hanya 70Mhz. Belum lagi frekuensi tersebut sudah dibagi untuk 4 operator selular.


"Di 1800Mhz tidak efektif. Sebab frekuensi tersebut masih dipergunakan oleh operator selular untuk layanan 4G. Kalau yang paling memungkinkan adalah di 2100Mhz. Selain karena ekosistemnya sudah mendukung, layanan 3G di 2100Mhz bisa langsung dimatikan oleh Pemerintah. Pemerintah bisa mematikan layanan 3G di 2100Mhz lebih cepat untuk kebutuhan 5G," papar Ridwan.

Untuk coverage 5G nantinya pemerintah juga bisa memanfaatkan frekuensi 700Mhz. Jika program analog switch-off (ASO) ini dapat berjalan lancar, setidaknya Pemerintah bisa mendapatkan digital dividend dari 108Mhz frekuensi 700Mhz.


Ridwan meminta kepada Pemerintah dapat memprioritaskan layanan 5G untuk operator selular yang benar-benar sudah siap dengan memiliki infrastruktur yang luas di daerah dan capital expenditure (CAPEX) atau modal belanja yang cukup.


Operator yang tidak memiliki komitmen yang kuat untuk membangun di daerah dan tidak memiliki uang untuk investasi disarankan Ridwan untuk tidak ikut menggembangkan 5G di frekuensi 700Mhz.


"Mending operator yang tak memiliki kemampuan tersebut dapat menggelar 5G di frekuensi 2600Mhz. Sebab jika diberikan kepada operator yang tidak memiliki infrastruktur yang luas di daerah dan CAPEX yang cukup besar maka layanan 5G tidak dapat dinikmati oleh masyarakat di daerah terpencil," tutup Ridwan.

https://kamumovie28.com/movies/kung-fu-hustle/